Pages

Friday, January 11, 2013

Observasi Budaya dalam Perkampungan Betawi, Setu Babakan


NIM                 : 11140110127
NAMA             : MEIDITA KEMALA AUDIARY
KELAS             : E-1



Negara beragam budaya.. ya, itu merupakan sebutan yang tepat untuk negara Indonesia. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa negara Indonesia memang memiliki tingkat keanekagaraman budaya yang tinggi, terdiri dari kebudayaan kelompok sukubangsa dan kebudayaan daerah yang bersifat kewilayahan (yaitu pertemuan beragam kebudayaan kelompok sukubangsa di suatu daerah). Selain itu, kebudayaan Indonesia semakin bertambah ragamnya dengan adanya pertemuan budaya Indonesia dengan budaya luar, sehingga mempengaruhi proses asimilasi budaya di Indonesia.
Jika dibandingkan dengan negara lain, tingginya tingkat keanekaragaman budaya di Indonesia merupakan nilai tambah (keunggulan) untuk Indonesia, dan menjadi bukti bahwasannya Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya. Budaya itu sendiri merupakan suatu kekayaan yang amat bernilai karena budaya adalah ciri khas suatu daerah dan juga sebagai lambang kepribadian suatu daerah atau bangsa. Karena itulah kebudayaan Indonesia harus dijaga dan dilestarikan supaya tidak pudar seiring dengan terjadinya modernisasi.
Contoh budaya-budaya yang terkenal di Indonesia ialah budaya Bali, Jawa, Betawi, Sunda, Batak, dan masih banyak lagi. Budaya-budaya tersebut memiliki ciri khas tersendiri yang bisa dilihat melalui beragam aspek, seperti tarian daerah, rumah dan pakaian adat, makanan, bahasa sehari-hari, dan lain-lain. Indonesia mempunyai potret kebudayaan yang bervariasi dan lengkap. Contohnya saja kebudayaan Sunda dengan tarian adatnya yaitu Tari Topeng, Jaipong, Reog, dan makanan khasnya yaitu sayur lodeh, sayur asem, pepes, dan lalapan. Lalu kebudayaan Jawa dengan rumah adatnya yang bernama Joglo, alat musiknya yang bernama Gamelan, dan bahasa keseharian yaitu bahasa Jawa dengan dialek yang cenderung medok.
Tetapi kali ini saya hanya akan memfokuskan pada kebudayaan Betawi saja. Kebudayaan Betawi ini cukup menarik perhatian saya karena budaya ini adalah budaya yang sudah sering saya dengar dan lihat sejak kecil. Masih ingatkah kalian dengan sinetron “Keluarga Cemara”? Dulu saya sering menonton sinetron keluarga itu dimana ada nyanyian dengan bunyi “Selamat pagi, Emak. Selamat pagi, Abah.” yang menjadi soundtrack sinetron tersebut. Emak dan Abah adalah sebutan untuk Ibu dan Ayah dalam bahasa Betawi. Lalu ada sinetron “Si Doel Anak Sekolahan” yang bercerita tentang kehidupan sehari-hari masyarakat Betawi yang mengangkat unsur kearifan lokal budaya Betawi. Bahkan sekarang pun masih ada beberapa sinetron Betawi yang ditayangkan di televisi, antara lain “Si Biang Kerok”, “Si Mamat Anak Metropolitan”, dan lain-lain.
Kebudayaan Betawi ialah salah satu kebudayaan asli Jakarta yang sudah cukup lama berdiri di Indonesia, yakni sejak 1930. Kebudayaan suku Betawi ini merupakan hasil perpaduan dari berbagai kelompok etnis, yaitu etnis Sunda, Jawa, Bali, Arab, Sumbawa, Bugis, Melayu, dan Ambon yang didatangkan oleh Belanda ke Batavia (nama Jakarta dulu). Dengan kata lain kebudayaan suku betawi ialah hasil percampuran dari berbagai macam kebudayaan yang sudah ada sebelumnya, baik kebudayaan Nusantara maupun kebudayaan  asing. Hal ini terjadi karena Jakarta yang menjadi tempat tinggal suku betawi, sejak dulu merupakan daerah pesisir yang menjadi pusat perdagangan.
Meskipun sudah ada sejak 1930, kebudayaan suku Betawi masih ada hingga sekarang. Kebudayaan ini dapat ditemukan di Perkampungan Setu Babakan, terletak di Jakarta Selatan, Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa. Setu Babakan adalah sebuah perkampungan yang dijadikan kawasan untuk mengembangkan dan melestarikan kebudayaan Betawi. Luas wilayah Kampung Setu Babakan ini sekitar 165 hektar.  Pada tahun 2004, kampung Betawi diresmikan sebagai kawasan cagar budaya, dibarengi dengan HUT DKI Jakarta yang ke- 474. Di kampung Betawi kita bisa merasakan betapa hidupnya suasana Betawi. Mulai dari gapura sampai dengan rumah penduduk khas Betawi. Kita bisa merasakan langsung suasana pedesaan serta, kita bisa melihat langsung berbagai kesenian, tradisi, budaya, kehidupan sehari-hari, dan ciri khas asli Betawi. Selain itu di kampung Betawi dijual banyak mainan jaman dulu dan makanan-makanan yang murah meriah (tentunya khas Betawi). Pakaian para petugas yang berjaga di kampung Betawi pun juga ala Betawi (memakai peci, baju koko/sadariah, dan kain pelekat). Di perkampungan ini, masyarakat Betawi masih tetap mempertahankan cara hidup khas Betawi serta mempertahankan budaya tersebut, seperti memancing, berdagang, membudidayakan ikan dalam keramba, membuat kerajinan tangan, berdagang, dan membuat makanan khas Betawi. Dengan cara hidup inilah, mereka meningkatkan taraf hidup dan aktif menjaga lingkungan.
Banyak pengalaman baru yang saya dapatkan selama dua hari berkunjung ke kampung Betawi. Hari pertama saya kesana, suasana di kampung betawi agak sepi, tidak terlalu ramai. Tapi tetap saja banyak jajanan khas Betawi di pinggir jalan (di luar gapura kampung Betawi). Mulai dari kerak telor, dodol, gado-gado, ketoprak, sampai dengan es puter. Ketika sampai di kampung Betawi saya melihat gapura khas Betawi, lalu saya masuk ke dalam. Di dalamnya terdapat rumah-rumah khas Betawi juga jajanan-jajanan. Hanya saja jajanan di dalam gapura tidak sebanyak jajanan-jajanan di pinggir jalan. Jajanan di dalam gapura lumayan bervariasi (tidak hanya khas Betawi saja), ada bakso, soto, es, toge goreng, dsb. Harga-harga jajanan yang di jual disana pun beragam, berkisar dari harga dua ribu rupiah sampai dengan lima belas ribu rupiah saja. Berikut ini adalah foto-foto yang berhasil saya ambil ketika sampai disana.  

Gapura Kampung Betawi
Adapun jajanan-jajananya yang bervariasi:






Begitu masuk kampung Betawi saya menyadari bahwa daritadi saya sudah melihat beberapa bentuk komunikasi non-verbal di dalam kampung Betawi. Mengkutip dari buku Komunikasi Lintas Budaya edisi 7, disini tertulis bahwa komunikasi non-verbal meliputi semua stimulus non-verbal dalam sebuah situasi komunikasi yang dihasilkan, baik oleh sumbernya maupun penggunanya dalam lingkungan dan yang memiliki nilai pesan yang potensial untuk menjadi seumber atau penerima. Inilah beberapa bentuk komunikasi non-verbal pun yang saya temui di kampung Betawi, antara lain ketika saya memasuki kampung Betawi, saya melihat rumah-rumah penduduk dan gapura dengan atap yang dibuat dari ukiran kayu dan dibentuk runcing seperti gerigi gergaji. Hal ini memberi pesan non-verbal bahwa rumah atau gapura dengan atap seperti itu adalah milik budaya Betawi saja (mengkomunikasikan bahwa atap tersebut merupakan ciri khas kepunyaan budaya Betawi).Selain itu, banyak Rumah khas Betawi yang tidak memasang pagar dan biasanya di bagian luar terdapat ruang tamu  (seperti yang sering kita lihat di sinetron-sinetron Betawi). Hal ini memberi pesan non-verbal bahwa pemilik rumah tersebut welcome dalam menerima tamu. Kemudian saya juga melihat bentuk komunikasi non-verbal lainnya melalui baju koko/sadariah, celana batik atau boim, dan peci yang dikenakan oleh para petugas kampung Betawi yang berjaga di depan gapura kampung Betawi dan di sekitar danau, mereka juga mengenakan sabuk dan mengalungkan cukin (selendang motif batik). Sebagaimana dikutip dari buku Komunikasi Lintas Budaya edisi 7, disini tertulis bahwa pakaian dapat digunakan untuk menampilkan status ekonomi, pendidikan, status sosial, standar moral, kemampuan atletik dan/atau ketertarikan, sistem kepercayaan (politik, filosofi, agama), dan tingkat kepuasan. Hal ini memberi pesan beberapa non-verbal. Dari semua setelan baju yang dikenakan oleh para petugas tersebut menggambarkan bahwa mayoritas penduduk Betawi beragama Islam. Dimana dengan setelan baju tersebut, mereka bisa salat dimana pun mereka berada, tanpa harus pulang dulu ke rumah. Selain itu, setelan baju tersebut mengingatkan saya akan tokoh terkemuka dari masyarakat Betawi, yaitu “Si Pitung”. Kemudian pakaian perempuan sehari-hari disini adalah baju kurung (pakaian longgar yang tidak memiliki bentuk dan tidak menunjukkan lekuk tubuh), serta memakai kerudung. Pesan non-verbal disini masih berhubungan dengan agama. Hal ini menunjukan sistem kepercayaan mereka, yaitu agama Islam yang memberi larangan untuk menunjukkan aurat.
Setelah melihat-lihat makanan, saya masuk menjelajahi seisi kampung Betawi. Saya melihat ada panggung besar yang biasa dipakai untuk melakukan pertunjukkan. Di samping kanan dan kiri panggung ada boneka Ondel-ondel yang berukuran cukup besar untuk menunjukkan ciri khas suku Betawi. Menurut penduduk setempat, setiap hari Minggu kampung Betawi biasa mengadakan pertunjukkan kebudayaan, seperti Lenong, permainan musik Gambang Kromong, Ondel-ondel, maupun tari Betawi. Nah, Ondel-ondel ini juga merupakan bentuk komunikasi non-verbal budaya Betawi. Konon katanya Ondel-ondel ini berfungsi sebagai penolak bala yang tujuannya adalah untuk mengusir roh-roh halus yang bergentayangan di sekitar manusia. Tidak heran kalau wujud Ondel-ondel ini menyeramkan. Setelah melihat-lihat penggung, saya kembali melihat rumah-rumah khas Betawi. Disini sebagian rumah sudah banyak yang setengah modern, tapi tetap tidak meninggalkan khas Betawi pada bagian atapnya. Selain itu, di kampung Betawi terdapat beberapa fasilitas umum seperti musholla (karena hampir semua penduduk Betawi beragama Islam), selain itu juga terdapat kamar mandi, aula, dan lain-lain. Lalu danau Setu Babakan juga dimanfaatkan untuk membuat fasilitas air sebagai sarana hiburan. Ada perahu perahu naga, sepeda air dengan bentuk bebek, dan danau tersebut juga bisa digunakan untuk memancing. Hanya dengan membayar lima ribu rupiah saja, kita bisa mendapatkan salah satu dari tiga hiburan tersebut.

Panggung Kesenian Kampung Betawi
Rumah penduduk Betawi:





Fasilitas umum dalam kampung Betawi:











No comments:

Post a Comment