Pages

Sunday, January 20, 2013

SUKU ASLI TANAH PAPUA : MARIND


YOAN HELEN APRILIYANI LETSOIN
11140110094
F1







***
Pada kesempatan liburan beberapa waktu lalu, saya mendapatkan kesempatan buat berlibur ke wilayah timur nusantara Indonesia. Lewat Bandara Internasional Soekarno-Hatta, saya berhasil menghabiskan waktu selama kurang lebih Sembilan jam di udara menuju Bandara Mopah, Merauke setelah sebelumnya sempat transit di Denpasar dan Jayapura.


Di Merauke, Irian Jaya, saya memutuskan untuk nyari suku untuk observasi tugas take home KAB. Jujur, betapa ragunya saya sejak menginjakkan kaki di tanah Merauke karena sepanjang jalan saya sendiri sangat jarang menemukan sosok wajah suku asli dari Papua, yang banyak saya temuin malah orang-orang keturunan Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi dan Maluku


Sempat pesimis juga karena hanya saya  sendirian di sini, tapi berkat beberapa kenalan dan saudara yang menemani saya di sini, akhirnya saya bisa menentukan satu target observasi di  Merauke ini, dan mereka adalah Suku Marind, salah satu suku asli tanah Papua yang ada di Merauke.


Untuk konsep observasi, saya milih untuk ngebahas beberapa elemen budaya yang telah diperkenalkan oleh Samovar yaitu, sejarah, agama, nilai, organisasi sosial, bahasa serta pengaruh budaya luar terhadap gaya hidup Suku Marind sendiri. Jadi, pretty much bahasan saya terbatas hanya untuk elemen-elemen budaya Suku Marind saja.^^


Inilah kisah observasi saya dengan penduduk asli tanah Papua tersebut…


***


SEKILAS TENTANG SUKU MARIND

Tidak banyak orang luar Merauke ataupun di Indonesia sendiri tahu tentang keberadaan mereka, publikasi dan kisah tentang mereka tentu sangat sedikit jika dibandingkan oleh suku-suku lain yang ada di Indonesia. Sumpah deh, pertama kali datang ke sini saya juga nggak pernah tahu bahwa suku Marind itu exist di dunia. Well, I know now and now, you do too!


Di Merauke sendiri, ada banyak  sekali suku, dua dari banyak suku tersebut ada yang namanya Suku Marind dan Malind. Nah, banyak orang yang mengetahui kedua suku ini kadang sering salah kaprah dan cenderung menyamakan kedua suku ini.


“Malind itu bukan Marind,” kata salah satu tetua suku Marind.

Kediaman Bapak Mathias Nawauce di Buti, Samkai-Merauke.

Yep, Suku Marind dan Malind itu berbeda. Bedanya dimana? Bukan hanya konsonan L dan R loh. Well, menurut penjelasan para Suku Marind yang super kompak dan rebutan pengen jawab pertanyaan saya ini, katanya Suku Marind itu adalah hasil dari kawin campur yang dilakukan oleh orang-orang dari Suku Malind.


Salah satu tetua Suku Marind

Jadi, kalo asli bapaknya itu Malind, trus bapaknya kawin campur sama orang di luar suku Malind, anaknya jadi suku Marind, anak-anaknya akan terus menjadi Suku Marind, makanya agak sedikit susah untuk mencari suku Malind sekarang karena sudah banyak suku Malind yang kawin campur dengan orang di luar suku mereka.

Wanita Suku Marind

Untuk Suku Marind sendiri banyak banget jenisnya. Ada Marind Bob, Marori, Kanum, Yeinan serta Marind Dek dan Pantai. Kebetulan Suku Marind yang saya observasi adalah Suku Marind Pantai. Kata si Bapak, Marind ini banyak banget dan tersebar di seluruh Papua sampai ke wilayah Tanah Merah di Boven Digul.



KAUM PERAMU

Secara umum, cara hidup Suku Marind adalah lewat hasil-hasil alam di sekitar mereka. Tentu saja hal ini ngebuat mereka menjadi salah satu dari sekian suku yang masih hidup sebagai kaum peramu, kaum yang mengolah bahan pangan mereka sendiri dari alam.

Secara khususnya, perbedaan Marind Pantai dan Marind lainnya adalah Marind Pantai hidup di dekat pantai-pantai sehingga mereka lebih mengandalkan hasil tangkapan di laut seperti ikan, udang dan lainnya, sedangkan untuk Marind lainnya, mereka kebanyakan tinggal di pedalaman, sehingga hasil tangkapan mereka lebih kepada pertanian dan hasil hutan.

Bapak Mathias dan keluarganya yang saya temui di Daerah Buti, Kelurahan Samkai memiliki banyak banget background pendidikan sebelumnya. Sebagai Suku Marind, Bapak Mathias ini sempat berkuliah di banyak tempat  seperti ITB, dan lainnya bahkan sampai ke negara tetangga kita di Singapura. Akan tetapi semuanya tidak sempat ia selesaikan karena masalah biaya. Di semua universitas tersebut, jurusan yang sempat beliau ambil adalah engineering dan pertanian.


Menilai dari pilihan pendidikan yang beliau sempat ambil, bikin saya semakin positif mengatakan bahwa suku Marind ini benar-benar kaum peramu karena sektor-sektor yang menjadi perhatian mereka sendiri adalah masalah pertanian, irigasi dan teknik mesin. Hal ini menjadi semakin jelas ketika hampir semua Suku Marind Pantai berprofesi sebagai nelayan dan sebagian Marind lainnya adalah petani.


***


PERAMU VS PENDATANG DAN PENGEMBANG

Bapak Mathias tidak jarang curhat ke saya mengenai masalah orang-orang asli di Papua, khususnya Suku Marind sendiri. Masyarakat asli papua terkadang merasa asing tinggal di tanah mereka sendiri dikarenakan di Merauke sendiri banyak banget kaum pendatang dan kaum pengembang, seperti investor.


Kedatangan masyarakat akibat program transmigrasi pada masa pemerintahan Presiden Soeharto dulu ternyata berdampak hingga saat ini. Kaum pendatang dari wilayah Jawa yang kemudian memilih untuk bercocok tanam di sini ataupun menjadi nelayan, baik sengaja atau tidak sengaja, sadar atau tidak, kerap menimbulkan konflik dalam diri masyarakat Marind.


Maksud saya tuh bukan konflik yang membuat adanya keteganggan antara kedua pihak sehingga mengakibatkan tindakan-tindakan vandalisme ataupun anarkisme, tapi lebih kepada masalah-masalah kecil yang sering sekali di temukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti masalah penjualan hasil pertanian dan tangkapan laut. Menurut Suku Marind Pantai sendiri, kaum pendatang sering sekali mematok harga yang lebih mahal di bandingkan suku Marind Pantai yang menjual hasil tangkapan mereka dengan harga yang lebih murah.


Pendidikan yang terbatas yang diterima oleh masyarakat Marind sendiri membuat kebanyakan dari mereka, let’s say bodoh… Hal ini juga diakui oleh masyarakat Marind sendiri. Bapak Mathias mengatakan bahwa kaum mereka tidak tahu bagaimana cara membaca pulo awal dan akhir untuk memperkirakan biaya tarif listrik bulanan bahkan sampai masalah keakuratan timbangan di pasar. Basic stuff like that sometimes ngebuat si Bapak Mathias sendiri kasihan dengan kaumnya yang sering sekali dicurangi oleh orang lain. Well, dalam kasus ini sih, ‘orang lain’ itu adalah kaum pengembang.


Kaum pendatang yang ada di Merauke yang hidup berdampingan dengan masyarakat Marind sendiri bukan hanya masyarakat yang berasal dari Pulau Jawa, ada juga banyak yang berasal dari NTT, NTB, Maluku, Sulawesi, Flores. Masyarakat hidup berdampingan dengan baik, tidak ada masalah yang benar-benar mengakibatkan perkelahian ataupun perseteruan yang berarti.


Menurut gue, gap diantara mereka akan tetap ada  selama komunikasi antara Suku Marind dan pendatang tidak berjalan dengan baik. Perbedaan motivasi antara penduduk asli, pendatang ataupun pengebang (investor) akan selalu menimbulkan konflik kepentingan dan gap di antara mereka. Untuk saat ini Suku Marind memang masih berada di posisi lemah, tetapi siapa kiranya yang tahu masa depan semua kaum?


***


PERISAI TUBUH DAN IMAN

Tahu banget kan kalian semua kalo suku-suku Papua itu biasanya telanjang dan pakenya koteka dan daun-daun pohon kelapa doang? Well, bener banget kalo suku di sana emang pada telanjang, akan tetapi sejalan dengan globalisasi, pakaian pun ikut diperkenalkan di sana, sehingga saat ini sudah tidak semua suku asli Papua yang masih telanjang.

Upacara adat untuk menyambut rombongan Uskup Agung Merauke
Nah, ceritanya para tetua suku Marind bersama kepala suku sedang mencegat rombongan Uskup Agung
Wah, kebetulan sekali pas gue berkunjung ke sana ada kegiatan pemberkatan gereja di wilayah Zenegi. Ada upacara adat penyambutan gitu, lucu deh… Nah, ceritanya ada rombongan suster-suster dan uskup agung Merauke sendiri yaitu, Monsieur Nicolas Adi Seputra terus mereka di cegat sama suku Marind yang pake baju adat yang terbuat dari daun pohon kelapa, semacam serabut kelapa dan coretan cat di muka mereka.


Monsieur Nicolas, Uskup Agung Merauke, bersama rombongan suster
Saya sih awalnya mikir kalo upacara adat mereka bakalan telanjang terus pake koteka dan daun-daun kelapa doang, tapi untungnya kagak soalnya agak horror juga sih kalo saya harus ngeliat yang begitu secara langsung. Bisa jantungan kali saya.. nggak siap mental coy, hahaha..


Yang lucu itu pas saya sadar kalo bahkan suku asli Papua di Merauke sendiri sudah semuanya mengenal pakaian, tapi yah sih kalo dilihat untuk upacara sepertinya tetep deh kayaknya diusahakan agak sedikit telanjang begitu. Dari pengamatan saya sih pas upacara adat penyambutan selamat datang itu, ada ibu yang berpartisipasi dalam upacara adat masih kekeuh make sejenis push-up bra gitu dan bapak-bapaknya banyak yang shirtless gitu, mungkin sudah kebiasaan juga nggak pake baju.

Kaum perempuan suku Marind di Zenegi saat upacara adat

Oh ya, balik ke upacara penyambutan! Upacara penyambutan ini mirip-mirip sama tradisi masyarakat Betawi pas mau nikah yang si penganten cowok datang ke rumah cewek trus tukar-menukar pantun gitu. Bedanya, di sini nggak ada pantun yang ditukar hanya ucapan-ucapan pake Bahasa Marind yang saya sendiri nggak ngerti dan ada beberapa kalimat bahasa Indonesia yang lumayan familiar di telinga.


Jadi setelah hadap-hadapan antara rombongan Monsieur Nicolas dan Suku Marind. Well, lebih seperti pencegatan gitu sih, si Monsieur lalu di coret mukanya dan lalu secara official di terima masuk ke wilayah suku tersebut untuk memberkati gereja ST. Theresia tersebut.




Sekilas info, gereja ST. Theresia ini juga merupakan program Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT. Selaras Inti Semesta. Yep, perusahaan ini ceritanya memberikan bantuan berupa pembangunan gereja kecil untuk masyarakat di sana. Menurut saya sih, hal ini merupakan bantuan yang sangat kecil yang bisa dilakukan perusahaan, menilai banyak banget tanah penduduk yang telah dikuasai perusahaan. Saya nggak tahu persis berapa hektar, tapi seperti cerita bapak Mathias, masyarakat Marind yang masih kurang berpendidikan kerap kali melepaskan tanah mereka kepada pengembang dan akhirnya menandatangani perjanjian tanpa tahu apa yang baru saja mereka tanda-tangani.


Persebaran agama di tanah Papua ini memang lebih banyak pengaruh Katolik dari Portugis, Katolik Roma. Banyak sekali gereja yang dapat di temukan di Merauke. Waldus Kaisei, anak muda suku Marind yang gue wawancarai mengatakan bahwa agama Suku Marind Pantai hampir semuanya adalah Katolik. Memang ada agama lain yang dianut seperti Muslim, Kristen, Hindu dan Budha tetapi hanya beberapa dan untuk masyarakat Marind sendiri sepertinya hanya ada Katolik, Kristen dan Muslim, sangat jarang menemukan yang Budha ataupun Hindu.


Perkawinan campur kaum transmigran dari wilayah Jawa dan Makassar dengan Suku Marind membuat ada sebagian Marind yang menganut Agama Islam. Sedangkan perkawinan campur dengan masyarakat Sulawesi Utara seperti Manado dengan Suku Marind membuat sebagian Marind lainnya menganut Agama Kristen. 


Banyak juga masyarakat keturunan Tionghoa yang tinggal di Merauke yang membawa Agama Budha masuk, akan tetapi saya belum pernah melihat contoh hasil dari perkawinan campur antara mereka dengan Suku Marind sehingga memang saya belum bisa bilang bahwa ada Suku Marind yang beragama Budha.


So, Yes in conclution, sudah semua Suku Marind Pantai yang memakai baju, hanya beberapa suku lain yang masih tinggal di pedalaman sana yang memakai koteka. Untuk  agama, mayoritas dari Suku Marind adalah penganut Agama Katolik.


***


ORGANISASI SOSIAL  

Sama seperti banyak suku pada umumnya, Suku Marind juga dipimpin oleh seorang kepala suku. Menurut perkataan Waldus, anak muda Marind, setiap lingkungan memiliki kepala suku yang memimpin mereka. Tugas kepala suku adalah melayani anggota sukunya dan menjadi utusan (semacam opinion leader) ketika ada rapat dengan kepala desa, lurah, bupati ataupun pihak investor dan pengembang yang datang ke wilayah mereka untuk melakukan sesuatu.


Kepala Suku, Suku Marind di Zenegi

Yep, untuk upacara-upacara adat biasanya kepala suku ini selalu dijadikan referensi dan selalu diikutsertakan. Sama seperti teori-teori yang saya pelajari di kelas Public Relation, bahwa untuk membangun kegiatan Comunnity Relation, kita harus selalu mencari key opinion former, ataupun key opinion leader-nya. Kebetulan, saya waktu itu nggak nemu rumahnya kepala suku buat nanya-nanya ke beliau akan tetapi saya nemu key opinion former-nya, yaitu si Bapak Mathias Nauwauce ini.


Dengan mendapatkan izin dan persetujuan dari kepala suku, sudah tentu semua kegiatan pendatang dan kaum pengembang dapat berjalan lancar tanpa hambatan.


***


GAYA HIDUP MODERN REMAJA MARIND

Masih ada banyak remaja Marind Pantai Modern, baik yang tinggal di pinggiran Pantai ataupun di kotanya yang masih mengunyah sirih pinang. Kelihatan banget pas saya lihat giginya pada merah-merah gitu. Awalnya sempet ngeri juga saya ngeliat giginya pada merah, karena saya mikir mereka baru aja makan daging dengan darah-darahnya.. hahaha, ternyata yang dikunyah itu adalah sirih pinang.


Kebiasaan suku Marind mengunyah sirih pinang, lihat deh giginya pada merah :)

Meski masih ada remaja Marind yang punya kebiasaan mengunyah sirih pinang, tidak sedikit dari mereka yang juga suka mabuk-mabukan. Kegiatan mabuk-mabukan ini ternyata diperkenalkan dan sudah berkembang parah sejak zaman penjajahan. Jadi menurut cerita, kebiasaan minum itu ditularkan kaum penjajah ( well, lebih jelasnya pihak Belanda) kepada masyarakat di Papua. Tidak hanya Suku Marind yang sekarang memiliki kebiasaan buruk mabuk-mabukkan, hambir semua suku di Papua yang sempat kedatangan kompeni Belanda sudah terpengaruh kebiasan buruk tersebut.


Anak-anak gadis Suku Marind di Zenegi

Menurut penilaian hasil observasi saya, banyak Suku Marind yang terbiasa hidup di wilayah pinggiran karena mungkin sudah tinggal turun-temurun juga di sana. Meski hidup berdampingan secara baik dengan pendatang, tidak banyak Suku Marind yang tampaknya nyaman berbaur dengan kaum pendatang dengan leluasa.


Ada beberapa anak-anak muda Suku Marind yang sudah tinggal di kota dan mengecap pendidikan di sana serta memiliki selera fashion yang hampir sama dengan apa yang kita ketahui sekarang. Mind you, meski di sana saya nggak nemuin yang namanya Mall, tetapi anak-anak muda di Merauke termaksud anak muda Suku Marind sendiri gayanya lebih stylish daripada saya yang hampir tiap hari make kaos dan jeans doang.


Beberapa anak muda Suku Marind yang masih tinggal di wilayah pinggiran juga masih terlihat dengan fashion-fashion lokal dari wilayah Papua sendiri, seperti memakai noken. Noken itu adalah tas asli dari Papua sana yang biasanya digantungnya di kepala.


Anak suku Marind yang memakai noken, tas yang digantung di kepala

***


Saya berpose bersama keluarga Bapak Mathias Nawauce di Buti. Samkai- Merauke
So, that was my story when in Merauke with Marind. Hopefully, I could make anything like this in future and tell you guys that there are WAY TOO MANY ethnic group in Indonesia and they have something to tell and you should have a time and couple of open ears to listen to their stories in order to make the world a better world for everyone to live.
Peace. Love and I HEART INDONESIA

Xx
Yoan









2 comments:

  1. Terima kasih Yoan, sudah kunjungi Merauke dan pelajari sedikit tentang suku Malind Anim Ha. Sedikit koreksi, agama Katolik masuk di Merauke bukan pada saat masuknya transmigrasi pada jaman Soeharto. Mesti pelajari lagi sejarahnya. Padahal sempat bersama Mgr. Nicolaus Adi Saputra MSC ke Kampung Zanegi untuk pemberkatan gereja di sana. Kalau tanya ke beliau, mungkin bisa diperoleh gambaran sedikit tentag kehadiran agama Katolik di bumi Malind Anim. Mgr. Niko adalah Uskup setempat dan pasti punya pemahaman yang agak kaya.
    salam,

    amo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, Maksud saya agama lain (selain katolik) mulai muncul sejak ada transmigrasi zaman pak Soeharto. Untuk agama katolik, setahu saya itu berkembang pada saat jaman kolonial dulu (bukan dimulai saat era transmigrasi) ^^.

      Terima kasih untuk koreksi dan masukannya, terlebih lagi untuk waktu membacanya :D

      -Yoan-

      Delete