Pages

Sunday, January 20, 2013

Kebudayaan Suku Batak di desa Siborong-borong, Tapanuli - Sumatera Utara

Nama : Wendy Anastasya Sitorus
NIM : 11140110224
Kelas : G1



Indonesia merupakan Negara yang memiliki banyak kekayaan. Mulai dari suku, budaya, agama, pulau dan banyak hal lainnya. Bila melihat dari segi suku, Indonesia memiliki suku yang sangat unik yang berasal dari Tapanuli, di Sumatera Utara yaitu Suku Batak. Suku Batak memiliki banyak kategori yaitu Batak Toba, Batak Karo, Batak Pakpak, Batak Simalungun, Batak Angkola, dan Batak Mandailing. Suku ini mempunyai hal yang paling unik, yang paling membedakan dengan suku-suku lain di Indonesia ialah marga. Setiap masyarakat yang merupakan suku Batak pasti memiliki marga yang berada di nama belakangnya. Setiap anak akan mendapatkan marga dari Ayahnya dan marga itu pun akan diteruskan kembali kepada anak laki-laki. Itulah yang menyebabkan di suku Batak, anak laki-laki sangatlah berharga karena dia akan meneruskan marga keluarga.
            Kenapa aku memilih untuk membahas suku Batak dari sekian banyak suku di Indonesia? Karena aku sendiri merupakan suku Batak dengan kategori Suku Batak Toba. Seperti yang sudah aku jelaskan masyarakat suku batak mempunyai marga yang terletak di nama belakangnya. Dan namaku adalah Wendy Anastasya Sitorus. Sitorus merupakan salah satu marga dari suku Batak Toba. Kampung aku terletak di Siborong-borong Tapanuli, Sumatra Utara. Siborong-borong merupakan tempat yang berada di dekat gunung dan menempuh waktu 6 jam dari Medan.
            Pada tanggal 24 Desember 2012 aku dan keluarga besar pergi untuk liburan ke Siborong-borong. Kami akan merayakan natal dan tahun baru bersama opung boru (opung boru merupakan bahasa batak yang artinya nenek) dan juga bersama tulang dan nantulang aku disana (tulang dan nantulang merupakan bahasa batak yang artinya om dan tante). Kami menyewa mobil untuk bisa sampai ke Siborong-borong yang menempuh waktu 6 jam dari Medan. Perjalanan yang sangat melelahkan ditambah jalan Sumatra yang sangat berkelok-kelok. Namun semua itu terbayar karena jika kita sudah sampai di Siborong-borong maka kita akan mendapatkan pemandangan yang sangat indah dan udara yang sejuk dingin karena letaknya yang berada di dekat gunung.
            Setibanya disana saya langsung ke rumah opung boru dan selama disana saya akan tinggal di rumah tersebut.






 




Foto di atas merupakan rumah opung saya. Rumah tersebut memiliki 2 lantai dan bisa dilihat terdapat sebuah warung di lantai bawah. Opung saya memang mempunyai warung yang sudah berdiri sejak 50 tahun yang lalu. Warung itu sudah berdiri sangat lama dan tidak pernah mengalami kebangkrutan.
Di dalam rumah opungku terdapat opung boru, nantulang, tulang dan 5 lima anak mereka. Rumah opung selalu ramai karena adanya warung dan juga letak rumahnya yang berada di pinggir jalan. Namun hal itu membuat rumah tersebut menjadi berisik karena begitu banyak mobil, motor atau pun truk yang lewat depan rumah. Dan sekarang ini yang menjaga warung ialah nantulangku.


            Di ruangan itulah aku berkumpul dengan sanak saudaraku. Selain tempat menonton dan berkumpul bersama, disitu juga aku tidur selama tinggal di rumah opungku. Bila dilihat dari gambar memang terlihat berantakan dan sempit. Tapi saya dan keluarga tetap merasa senang karena dengan bentuk ruangan yang seperti itu membuat kami lebih menyatu satu sama lain.

            Itulah foto dapur sekaligus ruang makan rumah opungku. Sangat sederhana dan berbeda jauh dengan rumah yang ada di perkotaan. Bila membicarakan soal makanan, disana hampir setiap hari memakan daging babi. Ada berbagai cara dalam memasak babi yaitu di saksang, di panggang, di sate dan di goreng. Dan uniknya juga disana jarang sekali makan dengan nasi putih melainkan dengan nasi merah. Mereka pun tidak pernah takut akan penyakit kolesterol bila memakan daging babi setiap hari karena memang sudah begitu budaya dari nenek moyang.
            Apakah kalian tahu danau apa yang terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara? Iya, jawabannya adalah Danau Toba. Danau tersebut berada di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia tempat dimana kampungku berada. Aku sangat bangga karena kampungku tercinta memiliki danau yang mendapat predikat danau terbesar di Indonedia bahkan di Asia Tenggara yang memiliki panjang 100 kilometer dan lebar 30 kilometer.
            Keesokan harinya saat saya tiba di Siborong-borong, saya dan keluarga pergi ke Danau Toba. Dari rumah opungku membutuhkan waktu 2 jam untuk sampai ke Danau Toba. Memang cukup jauh jaraknya, namun aku tidak akan melewatkan untuk pergi kesana dan melihat keindahan Danau Toba.



            Disana kita tidak hanya melihat danau yang luas dan gunung saja, namun kita bisa naik kapal dan melihat Batu Gantung. Apa itu Batu Gantung? Batu Gantung merupakan tebing yang terdapat batu menggantung berbentuk seorang wanita dan anjing peliharaannya. Konon batu itu merupakan wanita yang mencoba loncat dari atas bersama anjingnya. Dia melarikan diri karena sedang dijodohkan oleh orangtuanya namun wanita tersebut tidak menyukai laki-laki yang dijodohkan itu. Banyak wisatawan yang penasaran ingin melihatnya kemudian memfoto batu gantung tersebut. Berikut foto batu gantung yang telah aku ambil :



Hari kedua, aku bersama opung pergi maronan. Maronan adalah kegiatan berbelanja ke pasar yang dilaksanakan sekali seminggu atau sering dinamakan Hari Pekan. Saat itu pasar sangat ramai dan banyak makanan khas Tapanuli yang di jual disana. Contoh makanan khasnya ialah andaliman yang merupakan bumbu masak yang wajib digunakan, buah terong belanda, dan lain-lain. 


Andaliman digunakan sebagai bumbu masak terutama masakan khas batak seperti arsik (ikan mas bumbu kuning), daging babi, saksang dan sambel. Andaliman memiliki aroma jeruk yang lembut namun menggigit, meskipun tidak sepedas cabai atau lada. Sedangkan buah terong belanda yang mempunyai nama asli Tiung yang berasal atau ciri khas dari Tapanuli. Di Jakarta harga buah terong belanda ini sangatlah mahal namun bila beli langsung di pasar Tapanuli, 1 kantong besar hanya Rp5000,00 saja. Buah terong belanda yang matang dapat dijadikan sebagai sirup, selai, minuman jus, rujak, sebagai hiasan es krim, dan bahan campuran salad.
            Selain makanan khas yang ada di pasar, ada juga selendang yang paling khas dan terkenal di suku Batak yaitu Ulos. Ulos adalah kain tenun khas Batak berbentuk selendang, yang melambangkan ikatan kasih sayang antara orang tua dan anak-anaknya atau antara seseorang dan orang lain. Fungsi Ulos ialah sebagai simbolik untuk hal-hal dalam segala aspek kehidupan orang Batak. Ulos tidak dapat dipisahkan dari kehidupan orang Batak. Ulos pun mempunyai berbagai macam motif dan warna. Ada 3 kategori Ulos yang paling terkenal antara lain Ulos Ragidup, Ulos Ragihotang dan Ulos Sibolang. Dalam menggunakan Ulos pun ada berbagai cara misalnya di letakkan dibahu, dijadikan sarung, ada juga yang dililitkan di kepala dan ada pula yang mengikatnya di pinggang. Berikut adalah contoh foto Ulos yang dijual di pasar.



            Keesokan harinya yang merupakan hari ketiga aku berada di Siborong-borong, Tapanuli. Aku serta keluarga besarku diundang ke acara pernikahan tetangga kami. Tempat acaranya tidak terlalu jauh dari rumah opungku. Aku sangat senang dan semangat menghadiri pernikahan tersebut karena disana aku dapat melihat prosesi dan adat-adat yang ada dalam sebuah acara pernikahan suku Batak.
            Ketika aku tiba, sudah ada beberapa tenda dan para tamu undangan yang duduk lesehan di bawah tenda. Semua tamu wanita atau ibu-ibu menggunakan kebaya yang bawahnya menggunakan sarung panjang yang sudah menjadi ciri khas suku Batak dalam menghadiri suatu acara. Mereka semua sudah berkumpul dan saya datang tepat saat pembagian makanan. Daging babi tidak pernah lupa sebagai hidangan utama dalam acara Batak. Saat pesta kemarin daging babi dimasak saksang dan dibagikan kepada semua tamu dalam sebuah piring yang sudah berisi nasi dan saksang.


            Dilihat dari foto diatas maka kita akan berpikir bahwa ukuran piring yang diberikan sangatlah besar. Ya memang seperti itulah adat batak bila memberikan makanan saat pesta. Bila makanan yang dipiring itu tidak habis dimakan maka biasanya para tamu minta di bungkus untuk dibawa pulang.
            Ketika acara makan telah selesai maka saatnya makanan penutup diberikan. Disana diberikan makanan khas batak yaitu Lapet atau sering disebut dalam bahasa batak ombus-ombus yang artinya masih tetap hangat. Dari artinya maka sudah bisa kita ketahui bahwa lapet disajikan selalu dalam keadaan hangat. Bahan dasar lapet adalah itak yang merupakan beras yang dihaluskan. Setelah itak sudah benar-benar halus, itak tersebut diadon dengan kelapa muda, gula pasir, dan terkadang gula aren. Adonan tersebut kemudian dibungkus dengan daun pisang sebelum akhirnya dikukus. 



            Selanjutnya ada persembahan lagu dari anggota koor gereja. Mereka menyanyikan lagu batak dan lagu rohani yang dipimpin oleh seorang wanita sebagai dirihen. Anggota koor tersebut bukan terdiri dari pemuda atau pemudi melainkan ibu-ibu sampai lansia. Namun suara yang mereka bawakan sangatlah bagus dan sangat menghibur. Selama pesta berlangsung selalu diiringi lagu dan musik Batak. Ada beberapa alat music yang digunakan seperti keyboard, gendang, seruling. Gabungan alat-alat music saat pesta dinamakan Gondang. Kenapa disebut Gondang, karena saat pesta berlangsung alat musik yang paling dominan adalah gendang. Ada satu alat musik juga yang hampir selalu digunakan dalam lagu Batak ialah seruling. Bila kita mendengar lagu Batak pasti kita selalu mendengar suara musik seruling yang menjadi ciri khas.




Kita lanjut ke proses adat acara pernikahan. Setelah persembahan lagu dari koor gereja, maka dilanjutkan dengan acara Mangulosi. Mangulosi ini merupakan adat batak yang menggunakan Ulos. Dalam acara Mangulosi, Ulos diartikan sebagai sebuah sarana pelindung yang mampu memberikan perlindungan, kasih sayang oleh si pemberi kepada si penerima ulos. Jadi, salah satu orangtua si pengantin akan memegang Ulos yang berukuran besar sambil berdiri di depan orangtua pengantin yang satunya dan si pengantin. Pertama-tama orangtua si pengantin yang memegang Ulos itu akan menyelimuti besannya tepat di bahu mereka dan tak lupa sambil diiringi musik. Kemudian orangtua si pengantin pun akan menyelimuti si pengantin di bahu mereka dengan Ulos yang berukuran sama. Namun perbedaannya selain di selimuti, Ulos pun akan diikat sebagai tanda bahwa pengantin tidak dapat dipisahkan kecuali karena maut. Berikut foto pengantin saat di mangulosi oleh orangtua salah satu pengantin:





            Foto diatas pun terlihat bahwa ada beberapa butiran beras di kepala kedua pengantin. Jadi, saat orangtua memberikan Ulos / Mangulosi mereka pun menaburkan beras ke kepala kedua mempelai yang disebut dengan adat Boras Sipir ni Tondi. Maksud dari menaburkan beras tersebut ialah supaya kedua mempelai mempunyai iman yang kuat, jiwanya bisa menyatu dan memiliki kekuatan dalam menjalani kehidupan yang baru. Itulah letak keunikan adat Batak yang tidak dimiliki oleh adat-adat lain. Acara berlangsung sangat lama, maka tak heran kenapa banyak orang yang mengatakan bahwa adat Batak sangat ribet dan lama sekali karena memang begitu banyak adat/tradisi yang dipercayai oleh masyarakat Batak.

            Tak terasa sudah tiga hari aku tinggal di kampung Batak yaitu Siborong-borong, Tapanuli Sumatera Utara. Ini adalah hari terakhir aku yaitu hari keempat. Sebelum aku meninggalkan Siborong-borong, aku serta keluarga besarku mengunjungi pemakaman opung doli (bahasa batak dari kakek) yang sudah meninggal 6 tahun yang lalu. Kuburan disana ada keunikan tersendiri yaitu kuburan harus dibuat sebagus mungkin karena semakin bagus kuburan yang dibuat itu menandakan bahwa anak-anaknya  adalah orang-orang yang sudah mapan dan sukses. Selain itu, hal unik lainnya ialah banyak kuburan yang dibangun di dekat rumah bahkan di samping rumah mereka. Kita pasti berpikir, apa mereka tidak takut atau seram jika membangun kuburan di samping rumah. Namun berbeda dengan pemikiran masyarakat Tapanuli, Sumatera Utara. Hampir semua masyarakat Siborong-borong membangun kuburan dengan dilapisi tembok bahkan ada yang dibentuk seperti rumah.




            Bisa dilihat di foto tersebut bahwa kuburan opung doliku benar-benar seperti rumah dan cukup mewah untuk sebuah kuburan. Opung doliku tidak memakai peti saat dimasukan ke dalam kuburan. Jadi, dia dimasukkan ke dalam rumah kuburan itu hanya badannya saja. Aku dan sauda-saudaraku ziarah ke pemakaman dengan menaburkan bunga di atas bangunan itu. Kami pun terpaksa harus memanjat bangunannya. Selain itu, aku memotong rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar kuburan. Di dalam kuburan tersebut sudah disediakan tempat juga untuk opung boruku. Beliau ingin bersebelahan saat di dalam kuburan nanti. Memang terdengar seram dan aneh namun itulah kebiasaan orangtua disana. Biasanya mereka sudah membangun kuburan untuk  diri mereka atau untuk suami/istrinya sebelum mereka meninggal.
            Lalu ketika aku dan keluarga sudah ziarah ke pemakaman opung doli, maka aku segera membereskan barang-barangku dan pulang ke Jakarta. Dari Siborong-borong menuju Medan aku harus mencari mobil sewa atau bus yang lewat di depan rumah opung. Memang sedikit sulit dan lama menunggunya karena disana tidak ada terminal khusus tempat pangkalan bus atau mobil sewa.
            Tak lama kemudian mobil sewa pun lewat di depan rumah opungku dan aku segera menyewanya. Ingin rasanya aku lebih lama tinggal disitu dan mengetahui lebih dalam mengenao adat suku Batak. Namun selama 4 hari disana aku sudah banyak mendapatkan pengetahuan dan pengalaman yang sangat menambah wawasanku. Aku sangat mencintai suku Batak dan bangga menjadi orang Batak.

-Sekian dan Terima Kasih

1 comment: