Pages

Sunday, January 20, 2013

Pernikahan ala Nusa Tenggara Timur oleh suku Sabu dan suku Alor


Nama : Brigita Vanesha Manu
NIM : 11140110078
Kelas : Ilkom E

Halo, nama saya Brigita Vanesha Manu, dari nama belakang saya mungkin kalian sudah bisa mengira kalau saya berasal dari timur Indonesia, dan Ya, memang benar, papa saya berasal dari Kupang, Nusa Tenggara Timur dan mama saya berasal dari Manado, Sulawesi Utara. Jadi kalau ditanya saya ini orang apa? Saya selalu jawab saya orang Indonesia.haha
Oke saya rasa cukup perkenalannya,haha. Nah sekarang saya mau membagikan pengalaman saya dalam menghadiri pesta pernikahan yang kebetulan dilakukan oleh kerabat saya dari kota Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT). Di NTT sendiri ada banyak macam suku, dan saya serta kerabat saya ini berasal dari suku Sabu, dan calon suaminya berasal dari suku Alor. Pernikahan mereka sendiri dilaksanakan dikota Kupang yang adalah ibukota dari Nusa Tenggara Timur, jadi ya sudah tidak terlalu tradisional tapi tetap masih memegang adat-adat yang ada dalam suku tersebut.
Seperti layaknya pernikahan yang biasa kita lihat atau yang biasanya dilakukan oleh orang-orang adalah adanya acara Pinangan atau lamaran.
Pinangan yang dilakukan disini itu menurut saya lumayan unik. Kenapa? Karena masing-masing calon pengantin membawa seserahannya sendiri. Jadi gini, dari pihak laki-laki nya membawa Uang yang akan diberikan kepada pihak wanitanya. Siapa yang menerima uang itu ? mungkin kita berpikir kalau uang itu akan diberikan kepada si wanitanya atau kedua orang tua dari wanitanya. Tapi menurut adat disana, uang itu diberikan kepada 3 orang penting mewakili pihak wanita. Yang pertamadiberikan kepada Paman atau To’o dari calong pengantin wanitanya, lalu yang kedua diberikan untuk Kakek atau Ba’i dari calon pengantin wanitanya, lalu yang ketiga baru diberikan kepada orang tua calon pengantin wanitanya atau yang biasa disebut Uang kasih sayang / Uang Air Susu Ibu. Besaran atau jumlah uang yang akan diberikan itu sebelumnya telah disepakati bersama dan disesuaikan dengan kemampuan dari pihak laki-lakinya. Selain itu pihak laki-laki juga membawa uang yang digunakan untuk membiayai pesta pernikahan mereka, dan juga uang yang diberikan kepada pemerintah setempat, atau desa dimana mereka melakukan pernikahan. Dan juga selain uang , pihak laki-laki ini membawa buah pinang dan juga sirih pinang!. Memakan sirih pinang merupakan tradisi dari suku Alor, yang kemudian dibagi juga kepada suku Sabu. Jadi makan pinang dan sirih pinang itu merupakan tradisi yang melambangkan sifat dari kekeluargaan dan kebersamaan. Oh iya selain itu pihak laki-laki juga membawa segala keperluan sang calong istri. Misalnya baju, celana, tas, sepatu bahkan pakaian dalam juga dibelikan oleh pihak laki-lakinya.
Nah sekarang dari pihak wanitanya, pihak wanita juga membawa seserahan yang berupa barang-barang keperluan rumah tangga yang akan mereka gunakan dikehidupan pernikahan mereka nantinya. jadi barang-barang itu akan dipakai sendiri oleh kedua mempelai tersebut. Contoh barang yang dibawa itu piring, panci, kompor televisi, lemari, tempat tidur, bahkan bisa motor atau mobil. Ya lagi-lagi itu disesuaikan dengan kemampuan serta keinginan dari kedua belah pihak.
Well, itu adalah antaran atau seserahan yang akan diberikan pada acara pinangan, sekarang saya mau ceritain bagaimana proses pinangan itu berlangsung.
Jadi begini sodara-sodara, acara pinangan itu diadakan dirumah si calon pengantin laki-lakinya. Jadi rombongan dari pihak wanita berbondong-bondong kerumah calon pengantin laki-laki itu sambil membawa antaran yang bisa dibawa saat itu (yang kaya piring, gelas,teko,dll) kalo yang berat-berat tidak perlu dibawa saat itu.
Lalu setelah rombongan dari pihak wanita itu sampai dan masuk dirumah laki-lakinya. Mulailah semacam kata sambutan yang diberikan oleh Juru Bicara. Jadi masing-masing pihak memiliki juru biacaranya masing-masing. Jadi ya mereka itu bicara menggunakan bahasa Indonesia gaya lama seperti pantun atau bahasa yang puitis atau biasa orang sana menyebutnya bahasa bunga. Nah saat para juru bicara tersebut bicara mewakili pihaknya masing-masing, juru bicara pihak laki-lakinya tampak ditemani oleh seorang anak lakil-laki yang membawa lilin disebelah sang jubir dengan mengenakan pakaian adat suku alor
Contoh gambar

(ini gambar juru bicara dari pihak laki-laki ditemani oleh anak laki-laki yang membawa lilin)

Nah, setelah sang jubir memberi tahukan alasan sang pihak laki-laki datang untuk meminang sang wanita. Hal itu disimbolkan dengan diterimanya barang-barang seserahan yang dibawa oleh pihak laki-laki oleh wakil dari pihak perempuan. Yang mewakili itu biasanya anak-anak kecil dan bisa jadi keponakan dari kedua calon pengantin. Oh iya, pada saat anak-anak yang mewakili kedua belah pihak menyerahkan dan menerima seserahan, mereka juga melakukan cium hidung ,yang memang merupakan adat orang Kupang.
Wedding day
Keesokan harinya itu adalah hari yang ditunggu-tunggunya yaitu hari pernikahan, nah disini karena kedua mempelainya beragama kristen dan mayoritas penduduk disana adalah umat kristiani maka pernikahan mereka dilangsungkan digereja berdasarkan tata cara pernikahan kristen. Ya ada pendeta yang memberkati dan juga dilaksanakan dengan suasana yang khidmat dan kudus.
Pakaian yang digunakan oleh kedua pengantin ini pun dibilang sudah modern, yaitu menggunakan jas dan gaun pengantin, hal ini disebabkan oleh sudah berlangsungnya modernisasi di kota Kupang, sehingga acara pernikahan pun dilakukan dengan gaya modern atau western. Sebenarnya untuk pakaian adat yang dipakai dalam pernikahan itu ada ,tetapi pengantinnya memilih untuk memakai pakaian yang internasional dan tidak menggunakan pakaian adat, tetapi dalam hal acara mereka masih menuruti adat-adat dari suku mereka berasal.
Nah biasanya kalo abis pemberkatan nikah ,acara selanjutnya kan resepsi. Pada pernikahan kali ini juga dilangsungkan resepsi , dan uniknya pada pernikahan ini resepsi dilangsungkan  dua kali, yaitu digedung dan dirumah pengantin perempuan. Kenapa begitu? Karena jaman dulu sebelum ada gedung , pesta resepsi hanya dilakukan satu kali saja yaitu dirumah pengantin wanita, tapi seiring dengan perkembangan jaman yang lebih modern dan efisien, maka banyak juga pasangan pengantin disana yang merayakan resepsi pernikahan mereka di gedung. Trus kenapa harus ada resepsi dirumah pengantin perempuan lagi? Ya karena kata orang sana, belum pesta kalau belum dirumah perempuan, jadi ya karena itulah sang mepunya hajatan harus mengeluarkan budget untuk dua kali pesta resepsi. Dan jangan heran kalau dipesta resepsi kedua lebih banyak yang datang karena mereka belum terbiasa untuk menghadiri pesta digedung , jadi menurut mereka itu kalau pesta digedung itu hanya untuk orang-orang penting saja.
Lalu didalam acara resepsi yang diselerenggarakan di gedung, ada serangkaian acara adat yang dilakukan, yaitu seperti tarian penyambutan, yang berasal dari suku Alor.

(gambar tarian penyambutan)
Selain itu tarian ini juga diiringin musik gong. Orang sana biasanya menyebutnya dengan Gong dan dimainkan setiap upacara-upacara penting seperti pernikahan, kematian, atau ulang tahun. Pokoknya hal-hal yang berupa upacara penting.

(iringan musik gong)
Nah abis itu mulai deh acara resepsi , ya standar sih seperti menyalami pengantin lalu potong kue dan lain-lain, lalu seperti menjadi kebiasaan baru disana ada tarian yang namanya tarian Ikimea, tarian ini berasal dari Bajawa, tapi ibaratnya itu lagi ngetren atau booming sehingga kalau ada acara-acara tarian ini sering dibawakan, padahal sebenarnya tarian ini dilakukan pada saat ingin memulai panen, supaya yang ditanam, atau hasil panennya bisa baik. Hal itu bisa dilihat dari gerakan tarian yang seperti menanam padi.

(tarian ikimea)
Selama acara resepsi pernikahan di gedung ini kurang terlalu menggunakan adat karena yang sudah saya bilang sebelumnya, sudah mulai modern. Dari pakaiannya saja kita sudah bisa lihat, para undangan yang datang sudah memakai pakaian pesta bukan baju adat. Begitu juga dengan pakaian pengantinnya yang sudah mengenakan pakaian modern.
Setelah resepsi digedung selesai, kira-kira pukul 10 malam, barulah kedua pengantin beserta seluruh keluarga besar dan kerabatnya pulang kerumah pengantin wanita. Sesampainya di rumah pengantin wanita itu juga disambut dengan iringan gong, bedanya iringan gong yang dimainkan dirumah pengantin wanita lebih ramai dan dimainkan oleh para tua-tua disana. Karena tua-tua ini tidak mau mengikuti acara resepsi digedung jadi mereka memainkan gong saat resepsi dirumah pengantin wanita. Dan tamu undangan yang hadir pun tidak kalah ramai dengan yag hadir di gedung, itu karena para tetangga dan kerabat merasa segan dan tidak enak untuk menghadiri resepsi digedung karena kesannya terlalu formil, dan menurut mereka karena mereka sudah lumayan dekat jadi hadir dipesta yang dibuat dirumah pengantin wanita saja.

(pemain gong dirumah pengantin wanita)
Lalu biasanya kalau gong sudah berbunyi maka ada orang-orang akan terpancing untuk menari dan biasanya juga tarian yang dilakukan itu adalah tarian foti. Yaitu tarian yang lazim dilakukan pada perayaan-perayaan seperti pernikahan dan kematian atau upacara lainnya. Tarian ini menandakan kecepatan dan kelincahan dari seorang laki-laki, karena itu tarian ini dilakukan oleh kaum laki-laki saja.
Pesta yang dilakukan dirumah pengantin wanita pun sama dengan yang dilakukan digedung yaitu para undangan atau tamu yang hadir memberikan ucapan selamat kepada kedua pengantin dan memberikan ciuman di hidung yang memang merupakan adat dari orang Kupang. Acara ini berlangsung sampai larut malam, sampai pada waktu yang ditentukan untuk acara yang bernama lari broit.
Lari broit itu sendiri adalah pengantin wanita yang dibawa oleh pengantin laki-laki untuk tinggal bersamanya, atau proses diterimanya pengantin wanita dikeluarga pengantin laki-laki.
Biasanya saat terjadi proses ini keadaan akan berubah menjadi haru biru dan penuh kesedihan. Dan biasanya juga itu terjadi dikeluarga wanita, karena merasa pengantin wanita ini akan meninggalkan mereka dan memulai hidup baru bersama suaminya.
Kedua pengantin pun berjalan bersama berpamitan dengan seluruh sanak keluarga, mulai dari orang tua, kakek, to’o dan ti’i hingga para sepupu dan keponakan. Saat bepamitan ini biasanya keluarga ada yang terlalu bersifat emosional sehingga menciptakan sedikit suasana ricuh atau kacau tapi tentu saja hal itu tidak menghalangi berjalannya upacara lari broit ini, karena memang sudah menjadi aturan adatnya kalau pengantin wanita langsung dibawa ke kediaman pengantin laki-laki.
Pada saat pengantin wanita pergi kerumah pengantin laki-laki, seluruh sanak keluarga dan para sahabat turut mengantar pengantin wanita ini sampai kerumah laki-laki. Jadi semacam iring-iringan dan itu sangat ramai sekali, padahal hal kejadian ini berlangsung sudah larut malam.
Lalu saat pengantin wanita sampai dirumah pengantin laki-laki pengantin wanita akan  digendong oleh adik atau kakak perempuan dari pengantin laki-laki. Itu sebagai tanda kalau pengantin wanita diterima dengan baik oleh keluarga laki-laki. Pengantin wanita akan digendong sampai masuk ke dalam kamar pengantin yang sudah disediakan.
Oh iya ,saat ingin mengantar dan pengantin wanita ingin memasuki rumah pengantin laki-laki itu juga ada juru bicaranya loh, yaitu orang yang mewakili keluarga untuk memberikan sepatah dua patah kata, dan itu dilakukan berbalasan juga mewakili kedua keluarga pengantin yang berbahagia.
Dengan masuknya dan tinggalnya pengantin wanita dirumah pengantin laki-laki dan malam yang semakin larut, maka berakhirlah acara pernikahan menurut adat suku Alor dan Rote. Terima kasih 

1 comment:

  1. Kalau boleh tanya informasi tentang sejarang pengantin Kota Kupang sendiri diceritakan. pliss buat ujian Tugas Akhir, cuman dikasi waktu 2 minggu nih

    ReplyDelete