Pages

Wednesday, January 16, 2013

Cerita Dari Kampung Betawi


NIM: 11140110238
Nama: Nabila Ekananda L.
Kelas: G1





Halo, semua ! Pada kesempatan kali ini saya akan membawakan sebuah cerita dari kampung Betawi. Pertama saya terlebih dahulu memperkenalkan sejarah dari Kampung Betawi ini. Kampung Betawi yang saya kunjungi terletak di kelurahan Srengsengbawah, Setu Babakan Kecamatan Jagakarsa Kota Administrasi Jakarta Selatan. Kampung Betawi di Jakarta hanya ada 4 yang tersebar di beberapa lokasi yaitu Rawa Belong, Jakarta Barat; Setu Babakan, Jakarta Selatan; Rumah Si Doel, Jakarta Timur; dan terakhir di Kampung Si Pitung, Jakarta Utara. Namun, dari keempat lokasi tersebut yang paling terkenal dan sering dikunjungi oleh wisatawan lokal adalah Setu Babakan. Kampung Betawi di Setu Babakan menurut sumber(Bang Zen dari Sekretariat) yang saya temui didirikan oleh warga sekitar karena, saking banyaknya etnis Betawi yang bertempat tinggal di sekitar tempat itu dan ingin membangun sebuah perkumpulan besar layaknya Kampung Betawi yang ada di daerah lain. Menurut sumber juga, satu daya tarik yang tidak dimiliki oleh Kampung Betawi di daerah lain adalah danau besar atau Setu yang bisa dijadikan objek wisata air. Disana terdapat dua buah Setu yaitu Setu Babakan dan Setu Mangga Bolong dan wisata air yang ditawarkan adalah sepeda air, kano, dan pemancingan. Untuk menambah daya tarik Setu Babakan, warga dan Sekretariat Kampung Betawi Setu Babakan bekerjasama memperlihatkan kepada publik kegiatan sehari-hari mereka seperti Pencak Silat, Nge-deres, Aqiqah, Injak Tanah, Ngarak Penganten Sunat, memancing, menjala, budidaya ikan tawar, bertani, berdagang sampai pada kegiatan memasak makanan Betawi. Selain wisata air, ada juga wisata Agro yaitu bentuk kegiatan pariwisata yang memanfaatkan usaha Agro sebagai objek wisata dengan tujuan rekreasi, keperluan ilmu pengetahuan, memperkaya pengalaman, dan memberikan peluang usaha di bidang Agro. Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan merupakan lokasi pertanian tidak berada di daerah khusus Agro melainkan di halaman rumah penduduk sehingga bila musim buah sedang banyak-banyaknya ranum dan siap dipetik membuat wisatawan tergiur ingin memetik dan memakannya bisa sekalian singgah dan biasanya tuan rumah akan ramah menyapa mereka yang bergegas memetikkan buah untuk diberikan kepada wisatawan sebagai tanda respek.

Nah, bagaimana dengan sejarah etnis Betawi itu sendiri ? Semasa penjajahan Belanda dan saat itu VOC masih berdiri, VOC menginginkan perkembangan di daerah Batavia(asala muasal kata Betawi di ambil dari kata Batavia ini yaitu sebutan Jakarta selagi dalam masa penjajahan Belanda dan kalimat Betawi sendiri memiliki makna “orang Batavia”)dengan cara menambah jumlah pekerja dari luar dan Belanda pun membeli pekerja dari Bali (dalam masa itu perdagangan budak masih marak terjadi). Pekerja dari Bali itu akhirnya, tinggal di Batavia dan mempengaruhi pribumi di Batavia yang terdiri dari Sunda dan Melayu (menimbulkan pernikahan antar etnis yang tidak dihindarkan) lewat bahasa. Makanya, pada saat ini, di era modern ini bahasa Bali masih ditemukan di dalam bahasa etnis Betawi. Kemudian, pribumi di Batavia tersebut kedatangan para pedagang dari India, Arab, serta Tiongkok dan mengadopsi beberapa adat istiadat dari ketiga etnis tersebut. Akibat dari semua ini di Batavia tumbuh perkumpulan baru yaitu Betawi yang baru diproklamirkan kepada publik pada tahun 1923.

Saya berkunjung ke Setu Babakan pada hari Minggu (23/12/2012) dengan membawa alat-alat yang akan dipakai. Sebelum menuju kantor Sekretariat dan panggung yang kebetulan sedang ada acara dan keadaan pada hari Minggu tersebut pengunjung banyak berdatangan, saya menyusuri danau terlebih dahulu. Disana, banyak sekali anak-anak kecil dan para orangtua yang sedang asyiknya menikmati suasana danau dengan bermain bebek-bebekkan. Sementara itu, di sisi kanan dan kiri jalan banyak sekali pedagang menjajakan aneka dagangan mulai dari trompet, makanan, minuman, boneka, dan lain-lain. Saya sampai disana saat makan siang, oleh karena itu, saya hanya sebentar di danau dan melanjutkan langkah ke jajaran makanan. Di jajaran tempat makan, dijajakan banyak sekali makanan khas Betawi seperti Kerak Telor, Batagor, Ketoprak, Gado-gado, Asinan, Dodol Betawi, dan Laksa Betawi. 

Ada yang tahu apa itu makanan-makanan yang disebut diatas ? Kalau tidak akan saya jelaskan satu persatu. Kerak Telor adalah makanan sejenis omelette yang terbuat dari nasi gula yang dimasak dengan telor dan disajikan dengan santan kelapa, bawang goreng, dan terkadang ditambahkan udang goreng yang kecil-kecil, kemudian tempat untuk menyajikan Kerak Telor adalah daun pisang. Selanjutnya, Batagor yang tak lain adalah bakso tahu goreng, terbuat dari tahu yang digoreng kemudian diisi dengan ikan tenggiri dan juga bisa terbuat dari ikan tuna atau mackerel. Batagor bila dilihat secara jeli tidak hampir jauh beda dengan Siomay, Batagor diolesi oleh saus kacang, kecap, sambal, dan air dari jeruk nipis. Bahan-bahan tambahan pembuatan Batagor adalah kubis, kentang, dan tofu. Makanan khas Betawi lainnya adalah Ketoprak, Ketoprak terdiri dari lontong, tofu, irisan kubis, kerupuk, dan saus kacang dicampur dengan cabai, garam, bawang putih, dan kecap. Ketoprak adalah tipikal makanan pinggir jalan. Awalnya, Ketoprak merupakan makanan asli dari Betawi tapi seiring berjalannya waktu, Ketoprak sudah tersebar di seluruh wilayah Pulau Jawa. Ketoprak memiliki hampir kemiripan komposisi dengan Lotek dan Karedok dari Jawa Barat dan Pecel dari Jawa Tengah. Makanan lainnya adalah Gado-gado. Gado-gado bisa dibilang adalah "salad"nya Indonesia ? Mengapa ? Disebabkan komposisi Gado-gado semuanya terdiri dari sayuran yang masih segar dan diolesi dengan banyak saus kacang(bila dibandingkan dengan Ketoprak). Makanan selanjutnya adalah Asinan. Asinan buatan Betawi ini terbuat dari kubis buatan China, kubis biasa, tofu, selada, disajikan di atas tipis dan panas saus kacang diberi tambahan dengan cuka kemudian diberi topping kacang dan kerupuk. Asinan untuk dibilang asin, makanan ini harus diceburkan ke dalam kuah yang telah tercampur dengan garam dan cuka dan makanan terakhir yang dibahas adalah Dodol Betawi. Well, makanan yang satu ini tidak jauh beda dengan dodol-dodol lainnya di Indonesia (misalnya, dari Garut yang lebih terkenal). Baik dari segi rasa maupun segi pembuatannya, keduanya sama-sama membutuhkan waktu berhari-hari untuk mengolah komposisinya (ketan putih, ketan hitam, dan durian). Dodol Betawi ini disajikan sebagai panganan saat pesta, bulan Puasa (Ramadhan), Idul Fitri, dan Idul Adha. Makanan terakhir yang akan dibahas adalah Laksa Betawi. Makanan ini merupakan makanan sejenis mie yang diberi bumbu. Dari bumbu ini kuahnya akan berwarna kekuningan plus bumbu ini juga dicampur dengan udang rebon. Makanan ini menggunakan ketupat yang biasanya diisi dengan telur, semanggi, dan toge. Kuahnya yang kental pun ditaburi bihun, perkedel, bawang goreng, dan udang kering.

Setelah, puas mengitari jajaran makanan disana, saya melangkahkan kaki menuju suatu tempat yang ada panggung, rumah-rumah Betawi, dan Sekretariat. Di tempat inilah pusatnya Kampung Betawi Setu Babakan. Saya kira disana tidak ada event spesial apa-apa disana eh ternyata, di tempat ini lagi ada event “Penganten Sunat”. Heran dengan namanya ? Saya juga pertama kali dengar nama tersebut terheran-heran. Namun, ternyata setelah masuk lebih dalam lagi event ini adalah sunatan massal untuk anak-anak kecil. Event ini mengundang 100 anak-anak kecil dari Jakarta, Depok, Bogor, dan Tangerang. Event ini merupakan event bulanan yang diadakan oleh Kampung Betawi Setu Babakan. Event ini dimeriahkan oleh penyanyi dari Bens Radio yang bergaya ala Benyamin Sueb tempo dulu. Ada yang tahu siapa Benyamin Sueb ? Beliau adalah seorang musisi terkenal di Jakarta yang suka sekali memperkenalkan budaya Betawi lewat tutur kata berupa nyanyian. Penyanyi yang berdandan ala Benyamin Sueb waktu itu, membawakan beberapa lagu khas Betawi. Tidak melewatkan hal ini, saya mengambil beberapa foto sewaktu beliau tampil. Kemudian, saya melihat anak-anak pada ketakutan, menangis, dan berteriak karena, tidak mau disunat. Namun, setelah mereka selesai disunat, mereka kembali ceria (yah, berkat campur orangtuanya yang berkata bahwa setelah disunat mereka akan diberi hadiah berupa mainan yang ada di Kawasan Kampung Betawi Setu Babakan).

Rumah etnis Betawi sangat unik. Rumah etnis Betawi sangat simple dan dikelilingi oleh teras dan selalu dipasangi tangga kecil yang di pasang untuk memasuki rumah. Ini dikhususkan supaya orang yang ingin bertamu, tidak mengotori tanah sang empu yang punya rumah dengan sandal atau sepatu (orang Betawi sangat tidak suka dengan kotor dan ketidakteraturan), hal ini diambil dari sudut pandang yang bertamu kepada yang punya rumah sedangkan dari sudut pandang yang punya rumah kepada yang bertamu guna tangga kecil yang dipasang adalah sang empu yang punya rumah sangat mengorhamati tamu, siapapun yang datang berkunjung akan disambut dengan ramah. Di teras rumah etnis Betawi ini selalu ada meja kecil dan dua kursi kayu (minimal) dan biasanya sering digunakan oleh tamu yang hanya sekadar ingin berbincang mengenai masalah umum dan ringan sembari merokok, memakan kacang, dan minum air putih tapi, bila tamunya berjumlah lebih dari tiga maka meja kecil tersebut akan dikelilingi oleh kursi kayu tersebut (biasanya maksimal empat kursi sebab tidak cukup meja kecil tersebut dikelilingi oleh banyak kursi karena, sempitnya ruang untuk bergerak). Namun, bila tamu yang datang berkunjung ke rumah mereka merupakan tamu kehormatan atau orang penting yang otomatis pembicaraannya serius, sang empu malahan akan mengajak  tamu khusus ini masuk ke dalam rumah dan disuruh duduk di ruang tamu mereka. Alasannya, karena, pembicaraan yang akan dibahas sangat serius sehingga butuh privasi yang lebih ketat dan tidak ingin mengundang banyak orang untuk menguping pembicaraan mereka tersebut. Bahkan terkadang tamu yang seperti ini diajak bergabung untuk makan bersama empu yang punya rumah tapi, bila pembicaraan serius mereka berkahir dan tidak ada lagi yang perlu dibahas, biasanya mereka akan pindah ke teras dan duduk di atas kursi kayu untuk pembicaraan yang ringan dan melontarkan guyonan-guyonan. Tamu yang seperti ini, menurut mereka bila telah pindah duduk ke teras, tidak akan betah berlama-lama di rumah, hanya sekedar melepaskan penat karena, brainstorming dengan topik pembicaraan sebelumnya yang berat. Uniknya, lagi bila tamu yang hanya sekedar berbincang ngalor-ngidul ataupun yang merupakan tamu formal, mereka senang sekali memberikan makanan ataupun buah sebagai bentuk rasa terimakasih mereka karena sudah berkunjung(terkadang, membuat tamu tidak enak menolaknya karena sudah ditawarkan kalaupun ada yang menolak pemberian empu yang punya rumah, mereka akan memaksa secara halus supaya tetap dibawa. Hal ini membuat siapapun semakin tidak kuasa menolak…). Hal lain yang bisa diamati dari rumah etnis Betawi ini adalah pasti di langit-langit luar rumah yang dekat dengan pintu masuk selalu dipasangi lampu besar yang tergantung dan terbuat dari kayu(ini bukan suatu hal yang khusus sih cuma, mereka serempak memasang lampu besar yang berdesain sama. Mungkin sebagai simbolis keseragaman dan kekompakan yang terjalin tidak hanya lampu saja bahkan rumah-rumah yang ada disanapun juga memiliki model yang sama, apakah kedua hal ini merupakan simbolis rasa kekompakan dan persaudaraan yang terjalin antar sesama…?). Untuk info tambahan, rumah orang Betawi itu dibagi menjadi dua yaitu rumah Joglo dan rumah Kebaya. Rumah Joglo merupakan rumah yang lebih lebar dan luas bila dibandingkan dengan rumah Kebaya. Selain itu, perbedaan bagi tiap-tiap rumah adalah atap di masing-masing rumah.

Struktur organisasi Kampung Betawi Setu Babakan diatur oleh lembaga(Sekretariat), selain itu juga mereka memiliki "Perkumpulan Kampung Betawi" yang berfungsi untuk koordinator dan pemeliharaan Kampung Betawi yang tersebar di daerah Jakarta. Gaya berkomunikasi etnis Betawi ini masuk ke dalam kategori low-context. Oleh sebab itu, mereka suka sekali berbicara blak-blakan, kritis, langsung ke inti, dan terkadang menyakitkan. Menurut mereka, hal ini wajar terjadi pada kehidupan sehari-hari mereka supaya tidak ada hal yang perlu disenyembunyikan dari siapapun. Prinsip mereka lebih baik terbuka dan bermusuhan di depan daripada menyembunyikan sesuatu dan membicarakan apapun di belakang orang-orang terutama orang-orang yang tidak disukai, nanti juga kembali baikan. Masih membicarakan seputar gaya berkomunikasi etnis Betawi, satu hal yang paling disukai oleh mereka untuk berkomunikasi dengan sesama etnis Betawi dan orang lain adalah berpantun dan bersyair. Kebetulan saya kembali teringat hal ini karena, sewaktu saya datang ke Kampung Betawi Setu Babakan, Penyanyi bergaya ala Benyamin Sueb selain menyanyi lagu-lagu khas Betawi juga melakukan kedua hal tersebut. Isi dari pantun dan syair yang diciptakan oleh etnis Betawi umumnya berupa asli guyonan atau sindiran yang mengkritisi kebijakan pemerintah. Namun, untuk hal yang terkahir tersebut(sindiran) jarang dipakai saat ada event apapun, mereka lebih memilih menggunakannya saat sedang berkumpul dengan lembaga pemerintahan. Bahasa yang digunakan oleh etnis Betawi adalah bahasa Betawi seperti “cang”, “cing”, “nyak”, “babe”, “gue”, dan “loe”. Dua bahasa terakhir yaitu “gue” dan “loe” telah meluas tidak hanya digunakan khusus untuk etnis Betawi saja tapi juga hampir digunakan di luar Pulau Jawa. Digunakan untuk menyebut “Aku” dan “Kamu” dalam berinteraksi hanya konteksnya saja yang terlihat lebih gaul. Remaja di Indonesialah yang sangat sering menggunakan kedua bahasa tersebut. Akhirnya, penyebar luasan pemakaian bahasa "gue" dan "loe" berkembang menjadi sebuah fenomena yang dinamakan "Fenomena Jakartanisasi" dan yang berperan penting dalam fenomena ini adalah tentu saja, Media Massa.

Mayoritas etnis Betawi menganut agama Islam yang dipengaruhi oleh budaya Arab akan tetapi, untuk saat ini ada juga etnis Betawi yang menganut agama lain dan jumlahnya tidak terlalu banyak karena, mereka adalah pendatang dari luar Provinsi Jakarta atau dari luar Pulau Jawa. Mereka sangat menjunjung toleransi dalam beragama supaya hidup berdampingan dengan rukun dan sejahtera. Oh, iya saya belum menjelaskan kegiatan sehari-hari mereka yang telah saya singgung diatas sebelumnya yah yaitu pencak silat, nge-deres, aqiqah, injak rumah, dan ngarak penganten sunat ? Baiklah akan saya jelaskan. Pertama, adalah pencak silat. Pencak Silat adalah ilmu bela diri yang sudah cukup lama ada di Tanah Air. Pencak Silat memiliki banyak aliran. Etnis Betawi juga mempunyai aliran sendiri salah satunya adalah aliran Beksi. Pencak Silat mereka sering digunakan sebagai seni, olahraga, dan pertahanan diri. Mengapa disebut seni ? Karena, membutuhkan tabuhan musik sebagai bentuk keselarasan terhadap keahlian yang dikuasai. Sedangkan disebut olahraga dimaksudkan untuk kebutuhan jasmani dan rohani. Pencak Silat bisa dilakukan sendiri dan berkelompok. Alasan lain disebut olahraga adalah karena, saat ini Pencak Silat sudah sangat populer dilombakan dalam olimpiade mancanegara. Kedua, Nge-deres adalah membaca Al-Qur’an. Mereka akan berkumpul membaca Al-Qur’an setelah shalat Maghrib di Mushola atau di Masjid. Mereka juga akan berkumpul di kedua tempat itu untuk membaca surat Yasin tiap malam Jum’at. Ketiga, Aqiqah adalah bentuk syukuran setelah kelahiran anak baru dalam sebuah keluarga dengan cara menyembelih kambing dan memotong sedikit rambut bayi pada hari ketujuh setelah kelahiran bayi tersebut. Mereka biasanya ikut membantu sebuah keluarga yang memiliki anak baru dengan cara mencarikan kambing sesuai dengan permintaan(bila bayinya laki-laki maka menyembelih dua ekor kambing sedangkan bayinya perempuan maka menyembelih satu ekor kambing). Keempat, injak rumah adalah bentuk syukuran telah selesainya membangun sebuah rumah yang siap untuk ditempati. Dilakukan dengan cara mengambil segumpal tanah liat yang diletakkan di depan rumah kemudian, diinjak sebagai tanda bahwa rumah telah ada yang memiliki. Kelima, Ngarak Penganten Sunat(istilah lain dari Khitanan) adalah arak-arakkan massal bagi anak-anak yang ingin disunat. Anak-anak tersebut akan diarak sebelum disunat dan sesudah disunat dengan menggunakan sebuah tandu yang dihiasi dengan beragam ornament serta beratap kemudian, ada dua atau empat orang laki-laki yang memikulnya.




Tidak lengkap bila belum membicarakan kesenian khas Betawi. Kesenian khas Betawi yang paling terkenal adalah Gambang Kromo. Gambang Kromo ini adalah perpaduan dari budaya Tiongkok (Cina) dengan Melayu. Walaupun, Gambang Kromo merupakan musik tradisional tapi jangan salah, Gambang Kromo bisa dicampurkan dengan musik modern. Di Kampung Betawi Setu Babakan di panggung sana kalau tiap weekend terkadang mengadakan event Gambang Kromo dari berbagai sanggar di Jakarta. Kesenian khas lainnya yang juga cukup populer adalah Lenong. Lenong ini adalah seni drama milik Betawi yang juga mengisahkan tokoh legenda, tokoh pahlawan Nasional, dan juga kisah lainnya. Naskah Lenong terkadang diganti tidak seluruhnya berupa naratif dengan pantun dan syair supaya lebih menarik dan membuat penonton terkesan. Jangan lupa juga dengan Rebana. Rebana tidak terlalu beda dengan Tanjidor yaitu fungsinya untuk menghibur tamu. Rebana adalah musik yang berasal dari Timur Tengah. Rebana digunakan untuk mengarak-arak pengantin atau memeriahkan event. Satu lagi, adalah Ondel-ondel. Ondel-ondel ini adalah pelengkap acara. Ondel-ondel sekarang lebih terkenal sebagai icon dari keseluruhan kesenian Betawi. Ondel-ondel mempresentasikan icon kewibawaan dan kesatriaan. Ondel-Ondel tidak harus bila ada sebuah pesta rakyat Betawi pasti  disitu ada Ondel-ondel, tiap hari masarakat Betawi suka membuat Ondel-ondel yang kemudian ditaruh di depan rumah mereka sebagai lambang penyambutan bagi tamu. Sebelum saya bergegas pulang saya menyempatkan diri melihat Marawis yang menabuh Rebana dan menyanyi lirik berbahasa Arab. Keseluruhan kesenian ini bisa dinikmati di Kampung Betawi Setu Babakan. 

Sekian cerita dari saya dan Terimakasih !



No comments:

Post a Comment