Pages

Sunday, January 20, 2013

SETU BABAKAN BETAWINYE ORANG BETAWI


             Nama : Arif Nabiel Suryoputro
             NIM : 11140110235
             Kelas : G1


                Indonesia Negara yang terdiri dari berbagai suku, ras, agama, budaya. Sehingga sering kita menjumpai orang dengan budaya yang berbeda jauh dari kita. Ada yang masih memegang teguh kebudayaannya atau bahkan ada juga yang melakukan proses asimilasi. Menurut  Larry A.Samovar dkk, dalam bukunya yang berjudul communication between culture bahwa dalam suatu budaya memiliki beberapa elemen penting salah satunya sejarah. Sejarah menyoroti asal suatu budaya, “memberitahukan” anggotanya apa yang dianggap penting, dan mengidentifikasi prestasi suatu budaya yang pantas untuk dibanggakan. Sejarah mengenai daerah pusat kebudayaan Setu Babakan adalah dulu daerah ini hanya sebuah danau yang luas dan diduduki oleh orang orang betawi asli, namun banyak betawi asli di Setu Babakan pergi dan mencari uang di kota besar Jakarta. Begitulah kata seseorang disana ketika saya bertanya mengenai sejarah asal mula adanya nama “kampung betawi Setu Babakan”. Daerah ini mulai di resmikan oleh gubernur Fauzi Bowo pada bulan Agustus tahun 2004 kemarin.
                Setu Babakan, dahulu orang tidak banyak tau tentang tempat ini, begitu pula dengan saya yang baru tau beberapa minggu kemarin. Saya tau karena diajak teman saya melakukan observasi tugas ini dan awalnya saya fikir Setu Babakan hanya sebuah bendungan dan tempat wisata sama seperti Waduk Jatiluhur, tapi setelah saya kesana dengan perjuangan yang berat bertanya jalan, nyasar, bensin abis, dan lain lain. Menjelang sampai ke Setu Babakan saya melihat gapura yang bertuliskan gerbang Si Pitung. Pasti anda semua tau tentang si pitung kan? Kalau ada yang tidak tau begini sejarahnya, si Pitung adalah seorang pahlawan betawi yang lahir di Rawabelong, dia adalah seorang jagoan silat di daerahnya. Karena kesaktiannya itu dia sering menjarah dan merampok rumah para Belanda dan hasil rampokannya dibagikan kepada masyarakat betawi yang kekurangan dan di tindas oleh Belanda, konan ia hanya bias dibunuh dengan peluru emas dan saat malam jumat, dan jasadnya harus dipisah pisah karena dia bisa kembali hidup. Begitulah sepenggal kisah si Pitung dari betawi.

                                                   Si Pitung (merah) sedang berkelahi
          Setelah saya meihat gerbang itu hal pertama yang terlintas di pikiran saya adalah Betawi, dan benar disana adalah salah satu pusat kebudayaan suku Betawi yang paling banyak di kenal orang. Di Setu Babakan inilah tempat para orang betawi yang masih memegang kuat budaya tinggal, mereka sering melakukan kegiatan khas daerah betawi bersama sama, contohnya seperti berlatih pencak silat, melakukan tarian, bermain ondel ondel dan lain lain. Para orang Betawi yang tinggal disana tidak hanya berasal dari daerah Setu Babakan saja, ada juga yang datang dari daerah condet, Tanjung Priok dan dari daerah betawi yang lainnya. Ketika saya baru sampai saya langsung diguhkan dengan berbagai makanan khas Betawi yaitu kerak telor, soto mie Betawi.
Omong omong apakah anda heran dengan asal nama “kerak telor”? saya sempat bingung kenapa dinamakan kerak telor, saya sering makan tetapi tidak pernah melihat secara langsung proses pembuatan dari kerak telor itu sendiri. Berhubung saya ke Setu Babakan saya memesan kerak telor dengan telor bebek, harganya menurut saya murah sekitar Rp 12.000 dan telor ayam seharga Rp 10.000. oke kita kembali ke topik kenapa namanya kerak telor, ternyata karena ketika dimasak telornya gosong sehingga seperti kerak, ternyata dari situ namanya kerak telor. Oh iya kerak telor di buat 100% tanpa minyak, sehingga bebas kolesterol.
kerak telor

Kalau habis makan kerak telor, enaknya kita makan desert atau makanan penutup. Disana ada loh es goyang, murah dan enak lagi. Dinamakan es goyang karena proses pembuatannya dengan cara, pertama gerobak di isi es sampai penuh, kemudian di taruh cetakan untuk es nya. Nah habis itu susu di tuang ke dalam cetakan tersebut dan kemudian gerobaknya di goyang dan voilaa jadilah es goyang.
                                                 Es Goyang favorit anak-anak
Sembari menunggu pesanan saya selesai saya sempat berbincang dengan pedagang kerak telor tersebut saya bertanya “bang, disini nih isinya orang betawi dari daerah sini juga apa ada yang dari luar bang?” dia menjawab “ya rata rata daerah sini, tapi banyak juga yang dateng dari luar” saya kembali bertanya “luar mana aja bang?” dia menjawab “ya dari condet, priok banyak dah” saya belum puas akan pertanyaan itu saya bertanya kembali “bedanya keliatan ga bang?” dia menjawab “oh beda, kalau orang asli sini mah udah rada nyampur sama logat Jakarta, contohnya kaya ngomong “iya” orang kit amah ngomongnya ya “iya” kalau dari luar biasanya “iye” nah gitu juga rata rata tiap kalimat diganti e belakangnya”. Ternyata kebudayaan di Setu Babakan sudah melalui proses akulturasi, mereka menyatukan kata dan logat dari luar dengan budaya sendiri, namun masih memegang teguh kesenian dan cirri khas budaya mereka.


Bagi yang tidak tahu, akulturasi adalah proses social dimana terjadi pertemuan antara dua budaya dan beradaptasi dengan cara mengambil beberapa budaya luar dan di gabungkan dengan budaya sendiri tanpa menghilangkan cirri khas budaya sendiri.

 Tidak hanya kerak telor saja yang saya cicipi tetapi saya juga mencicipi minuman khas Betawi yaitu adalah bir pletok. Nah kalau yang satu ini saya sama sekali belum pernah mencicipinya hanya sekedar tahu saja. Nah akhirnya saya memutuskan memesan 1 bir pletok seharga Rp 9.000.

Setalah saya cicipi rasanya enak menghangatkan tapi setelah saya bertanya kepada pedaganya apakah bir ini menggunakan alcohol, pedagan tersebut menjawab tidak, karena bir pletok menggunakan berbagai rempah rempah sehingga jika diminum banyak tidak akan mabuk. Saya juga bertanya mengenai asal mula nama “pletok”, ternyata nama “pletok” datang dari cara membuatnya, ketika proses pembuatan air di campur dengan rempah rempah dan di kocok sehingga berbunyi “pletak pletok” ternyata dari situ asal nama mula bir pletok, dan kenapa ada kata “bir” di depannya? Karena waktu itu adalah zaman belanda, belanda menyebut minuman yang menghangatkan dengan sebutan “bir” sehingga sampai sekarang kita mengenalnya sebagai bir pletok.

Selain makanan dan minuman saya kembali bertanya kepada beberapa orang disana mengenai apa saja acara yang sering diadakan disana, acaranya ternyata cukup banyak. Dari acara “nginjek tanah” upacara ini diadakan ketika setiap bayi berumur 8 bulan akan pertama kalinya menginjak tanah, ini adalah salah satu cirri khas orang betawi. Selain itu ada juga upacara  ngarak sunatan, perayaannya berupa yang disunat akan diarak keliling kampung oleh keluarganya.

Tidak hanya seperti yang saya sebutkan diatas namun ada juga upacara “buka palang pintu”. Para pembaca pasti masih asing dalam hal mengetahuinya. Mungkin para pembaca sebagian langsu teringat kepada pintu, atau ruangan… padahal “buka palang pintu” itu adalah upacara khas orang betawi dalam har pernikahan. “buka palang pintu” adalah upacara dimana si mempelai pria sebelum melamar ke tempat mempelai wanita terlebih dulu dalam perjalanan si mempelai pria di arak-arak dahulu, dan si pria membawa banyak makanan. Ketika sampai di tujuan si mempelai pria harus bida mengalahkan tukang pukul yang sengaja dibayar oleh keluarga sang istri dalam hal perkelahian silat, dan adu pantun.

Kenapa harus mengalahkan orang pilihan orang tua wanita? Katanya adalah untuk melihat sehabat apa calon menantunya dalam hal berkelahi, yang kedua agar lebih memastikan pihak wanita bahwa calon mempelai pria adalah orang yang tangguh dan siap melindungi istri. Nah kalau dalam beradu panting adalah untuk menunjukan kebolehan kita dalam berpantun untuk mendapatkan izin dari ayah si mempelai wanita. Kenapa berpantun dapat menarik hati ayah si mempelai wanita? Karena pantun sendiri adalah cirri khas orang betawi. Ayah si mempelai wanita ingin bahwa anaknya mendapat menantu yang cinta dan mahir dalam kebudayaannya.

Berhubung rata rata penduduk di Setu Babakan adalah orang yang beragama islam jadi di kampung betawi juga sering dilaksanakan upacara aqiqah yaitu merayakan lahirnya anak yang biasanya dilakukan pada hari ke tujuh, empat belas, dua puluh satu, dan dua puluh delapan hari, acara ini adalah merupakan syukur kepada tuhan yang maha Esa atas kelahiran seorang anak.

Pada saat hari hari besar islam juga sering diadakan acara sahur bersama ketika bulan ramadhan, sebelum sahur bersama, para penduduk berjalan mengelilingi kampung sambil membawa gendang dan petasan sambil berteriak “sahur sahur” tujuannya adalah membangunkan para penduduk muslim yang masih tidur.
Rutin juga dilaksanakan setiap tahun yaitu adalah acara potong kambing, jumlah kambing atau sapi itu bukanlah yang jadi masalah, yang penting iklasnya kata seorang bapak bapak yang sedang menunggu anaknya berlatih tari jaipong.

Sebelumnya saya sudah bercerita mengenai apa saja budaya Betawi dan cirri khasnya. Di Setu Babakan kita bisa menonton acara tari jaipong pada hari hari tertentu, bagi anda yang berminat untuk mencoba berlatih tari jaipong anda bisa langsung berbicara kepada instrukturnya dan bilang ingin belajar, maka dengan senang hati orang tersebut akan mengajarkan, tapi sebaiknya ketika ingin belajar jangan pada saat hari ketika mereka show, tapi datanglah pada saat mereka sedang latihan.

Dalam budaya betawi sebenarnya sudah anda proses sosialisasi yang berupa akulturasi dari sejak zaman dahulu. Yaitu adalah komunikasi non verbal antara pengunjung Setu Babakan dengan para orang betawi asli sana adalah cara berpakaiannya. Orang Betawi memakai peci dan sarung yang di gantungkan di leher, itu terpengaruh dari budaya melayu dan arab. Dan dari struktur rumahnya rumah orang betawi memiliki ciri khas yaitu adalah bentuk jendelanya yang berbentuk dari banyak ventilasi, kemudian di depan rumahnya banyak tiang kayunya, dan bentuk pintunya seperti rumah sewaktu penjajahan belanda.

rumah tampak dari samping

rumah tampak dari depan


Ketika saya sedang menunggu kerak telor saya sempat berbincang dengan pedagangnya, saya bertanya bagaimana cara mempertahankan budaya sendiri ketika sekarang adalah zaman modernisasi. Dia menjawab “kita boleh berpikiran global dan maju, tapi kita juga harus mempertahankan budaya kita sendiri” begitulah kata katanya saya hanya bisa manggut manggut saja mendengar jawaban dari pedagang tersebut. Jaman sekarang makin banyak orang yang hanya berpikir global dan maju tetapi melupakan budayanya sendiri, dan melakukan proses asimilasi.

Masyarakat betawi disini logatnya sudah tidak begitu terlihat karena proses akulturasi sehingga kalau bicara dengan penduduk asli sana kurang berasa nuansa betawinya, justru yang membuat suasana betawi banget adalah secara nonverbalnya. Dan ondel ondel juga secara non verbal yang paling terlihat. Ondel ondel adalah sebuah boneka raksasa yang menjadi icon kota Jakarta, biasanya selalu ada pada acara acara kota Jakarta. Kata ondel ondel sendiri berarti adalah boneka dan semangat.

Observasi saya sudah berakhir dan merasa bangga akan orang betawi yang berada di Setu Babakan Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Dan terima kasih sudah membaca dan semoga tulisan saya ini bermanfaat bagi anda semua.



No comments:

Post a Comment

Post a Comment