Pages

Friday, January 11, 2013

Bagan Siapi-api, Kota Kecil Kaya Budaya



Meilysan Nutri
11140110210
B1

BAGAN SIAPI-API, Kota Kecil Kaya Budaya

“Perbedaan budaya selayaknya tidak membuat kita berseteru namun menyatukan kita dalam rangkaian harmoni”

Kota Bagan Siapi-api mungkin bagi sebagian tidaklah familiar atau bahkan belum pernah mendengar kota ini sebelumnya. Kota Bagan Siapi-api merupakan kota kecil di Riau tepatnya di Kabupaten Rokan Hilir, Riau, Indonesia. Bagan Siapi-api atau biasa disebut dengan BAA sebagian besar penduduknya merupakan orang dari etnis melayu namun kota ini sangat kental dengan nuansa Cina karena etnis Tionghua yang menetap di Bagan juga cukup banyak sekitar 35% dari jumlah total 167.000 jiwa. 


Untuk menuju kota Bagan, kita dapat menempuh jalur laut, darat dan udara. Untuk jalur laut dapat ditempuh sekitar 3hari 2malam, sedangkan darat lebih variatif tergantung jalur mana yang ditempuh tapi saran saya adalah menempuh jalur udara. Dengan menggunakan pesawat kita akan mendarat terlebih dahulu di Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru lalu dilanjutkan dengan menggunakan mobil selama kurang lebih 6-7jam (kurang lebih 320km). Biasanya ada rental mobil khusus yang melayani perjalanan dari Bagan ke Pekanbaru maupun sebalikanya. Jauh memang, tapi disepanjang perjalanan kita akan dimanjakan pemandangan bukit yang berkelok-kelok dan tangki-tangki besar minyak bumi milik Chevron. Sebelum mencapai Bagan kita akan melewati kota-kota kecil seperti Duri dan Dumai dikedua kota inilah biasanya kita akan singgah sejenak untuk mengisi perut. Memasuki daerah Batu 6 (disebut batu 6 karena letaknya 6 kilometer dari Bagan) kita akan disuguhi bangunan-bangunan megah berwarna putih yang kental dengan nuansa melayu. Sayang gedung-gedung ini dibangun namun tidak digunakan secara maksimal. Di bukit 6 terdapat alun-alun kota yang biasanya dijadikan tempat berpelesir sambil menikmati pemandangan laut. Melanjutkan perjalanan kita akan melwati batu 2, disana terdapat satu-satunya pom bensin yang ada di sekitar Bagan hingga Duri-Dumai. Sesampainya di kota Bagan, nuansa Melayu seolah hilang digantikan bangunan rumah-rumah kayu dan kicauan burung walet, ramainya masyarakat yang berlalu lalang dengan motor atau berjalan kaki.

Batu 6

 
Mengupas rekaman sejarah Bagan Siapi-api tidak terlepas dari lokasinya yang strategis yakni didekat Selat Malaka, menjadikan kota ini sebagai salah satu pelabuhan utama pada zaman penjajahan Belanda terdahulu dan sisa-sisa bangunan peninggalan Belanda seperti Gereja dan makam masih tetap ada hingga saat ini. Sebelumnya, Bagan Siapi-api tidaklah diperhitungkan namun karena Bagan terus berkembang pesat dengan hasil lautnya maka Belanda mulai melirik Bagan dan juga melakukan berbagai pembangunan disana. Bagan Siapi-api dulu juga dikenal sebagai kota penghasil ikan nomor 1 di Indonesia dan juga termasuk daerah penghasil ikan terbesar yang diakui dunia. Selain prestasi Bagan Siapi-api sebagai penghasil ikan, di zaman Belanda, Bagan Siapi-api juga dikenal sebagai penghasil karet terbesar. Pada masa perang, karet sangat dibutuhkan untuk membuat senjata atau ban sehingga Bagan juga sangat dikenal tidak hanya di Indonesia tapi juga hingga ke Asia. Kini, Bagan dikenal sebagai salah satu kota penghasil sarang burung walet, banyak sekali rumah penduduk yang di alih fungsikan sebagai rumah sarang burung.
Senja di pelabuhan


Sejarah nama Bagan Siapi-api dimulai kira-kira pada tahun 1878. Berdasarkan cerita turun-temurun, dahulu kala para perantau dari Cina datang dengan menaiki tongkang (kapal kayu). Para perantau ini tadinya berjumlah 3 kapal namun karena satu dan lain sebab akhirnya hanya ada satu tongkang yang tersisa, yaitu tongkang keluarga Ang. Mereka berkelana sambil membawa Patung Dewa Kie Ong Ya dan ketika mereka mulai merasa putus asa mereka berdoa pada Dewa agar diberikan petunjuk lantas diperolehlah petunjuk bahwa bila mereka melihat api maka mereka boleh mendarat disitu. Tidak lama kemudian, mereka melihat kerlipan api dan segeralah mereka menuju tempat tersebut. Ternyata kerlipan itu berasal dari kunang-kunang (siapi-api) yang hidup di hutan bakau sekitar pantai dan kata Bagan berarti alat atau tempat menangkap ikan. Para penggelana sangat bahagia karena ditempat mereka mendarat terdapat banyak sekali ikan dan mereka pun menetapkan untuk tinggal disana. Mereka hidup berkecukupan dengan hasil laut yang berlimpah, karena itu mereka mengajak sanak saudara mereka dari Cina untuk bermukim juga di Bagan.

Sebagai wujud syukur dan penghargaan kepada Dewa Kie Ong Ya, pada tahun 1920 dibuatlah sebuah klenteng yaitu klenteng Ying Hock King. Klenteng ini masih digunakan hingga saat ini, meski sempat dipugar beberapa kali namun bentuknya masih seperti saat pertama kali dibangun dan Patung Dewa Kie Ong Ya yang pertama kali dibawa oleh para perantau dari Cina masih disimpan di klenteng ini.
Selain itu, terdapat tradisi atau perayaan khusus yang dilaksanakan setiap tahunnya sebagai wujud penghormatan terhadap Dewa Kie Ong Ya. Perayaan ini dikenal dengan Perayaan Bakar Tongkang yang jatuh pada tanggal 16 bulan 5 (kalender Imlek) atau bahasa Hokkiannya adalah go gwe cap lak sehingga sering disebut go cap lak. Oh iya, go cap lak pada masa orde baru tidak diladakan karena dilarang oleh Presiden Soeharto barulah semenjak masa pemerintahan Gus Dur sekitar tahun 2000-2001 perayaan go cap lak kembali diadakan. 
Perayaan ini merupakan serangkaian prosesi yang berujung pada pembakaran kapal kayu/tongkang. Sebelum merayakan go cap lak biasanya akan diadakan pesta rakyat dengan mengundang sejumlah artis dari Taiwan atau Malaysia untuk menghibur masyarakat, selanjutnya masyarakat akan berbondong-bondong sembayang di klenteng. Selain Ying Hock King, masyarakat juga dapat sembayang di klenteng lainnya hal ini dikarenakan mendekati hari perayaan go cap lak banyak sekali keturunan Bagan baik yang masih menetap dan tinggal disana maupun yang ada diluar kota akan pulang kampung sehingga tidak mungkin jumlah masyarakat membludak dan tidak mungkin ditampung di satu klenteng. Prosesi perayaan akan berlangsung selama 3 hari 2 malam. Selain mengadakan panggung untuk menghibur aka nada juga pertunjukan barongsai. Pertunjukan barongsai selain untuk memeriahkan acara juga dipercaya dapat mengusir hal-hal buruk. Oh iya, selain sembayang masayarakat akan berbondong-bondong mengaraka ornamen-ornamen yang akan dibakar biasanya dilaksanakan pada hari ke 2. Arak-arakan ini akan dimulai dari klenteng Ying Hock King menuju pelabuhan. Selama perarakan sejumlah orang akan membawa tandu, tandu ini dipercaya dihuni oleh Dewa tertentu sehingga cukup berat dan dapat bergoyang ke kiri-kanan. Bukan hanya tandu saja, saat perayaan go cap lak kita dapat melihat orang-orang yang dirasuki oleh dewa atau dewi. Orang yang dirasuki akan memukul tubuh mereka dengan benda tajam seperti bola duri atau golok dan mereka akan mengiris lidah sehingga keluarlah darah yang digunakan untuk menandai jimat/hu (pengusir bala, setan atau hal buruk). Tradisi ini tetap dipertahankan keasliannya secara turun temurun. Selanjutnya pada hari ketiga, yaitu hari dimana kapal tongkang akan dibakar, tongkang tersebut akan digotong secara beramai-ramai menuju pelabuhan atau tempat pembakaran setelah sebelumnya tongkang dibawa terlebih dahulu ke klenteng Ying Hock King untuk disembayangi dan diberi tanda berupa cat merah. Sesampainya di pelabuhan dan pidato singkat dari anggota pemerintahan Rokan Hilir, tongkang pun segera dipersiapkan untuk dibakar. Tongkang diletakkan diatas kertas sembayang yang bertumpuk-tumpuk, diisi dengan barang-barang yang akan dibakar, lalu layar tongkang pun dikibarkan. Tongkang benar-benar gagah dan terlihat layaknya kapal sungguhan namun demi efisiensi material tongkang dimodifikasi dari kayu menjadi kertas minyak. Hari semakin terik namun tidak menyurutkan antusiasme masyarakat, lalu api pun disulut dan tidak lama kobaran api semakin besar dan melahap tongkang hingga ludes. Setelah seluruh bagian kapal terbakar, masyarakat dipenuhi rasa penasaran. Ya, terdapat kepercayaan yang mengatakan apabila tiang layar tongkang yang dibakar jatuh ke arah laut maka peruntungan ditahun tersebut akan lebih banyak di laut sedangkan apabila jatuh di darat maka peruntungan akan lebih banyak di darat. Saat ini, perayaan bakar tongkang sudah menjadi agenda wisata nasional loh, karena selain menyedot massa yang cukup banyak, tradisi unik ini juga menarik perhatian wisatawan juga.

Bagan Siapi-api, kota kecil yang kental akan kebudayaan dan tradisinya yang masih sangat terjaga. Tidak hanya tradisi bakar tongkang yang tetap dipertahankan tapi elemen-elemen dari nenek moyang pun masih tetap ada dan mudah kita temukan. Salah satu contohnya adalah bagunan rumah masyarakat kebanyakan masih merupakan rumah zaman dulu seperti rumah kayu. Gereja peninggalan Belanda terdahulu juga masih ada, lokasinya di dalam komplek Pemakaman Orang Katolik. Gereja berbentuk segi delapan ini sangat unik, dulu Pastur Belanda menyebarkan ajaran Agama Katolik hingga ke pelosok kota dan di komplek ini juga terdapat tempat tinggal untuk orang kusta. Karena minimnya pengetahuan akan pengobatan, orang yang terinfeksi kusta akan langsung diasingkan sehingga tidak menulari orang lain nah ditempat inilah orang kusta akan dikumpulkan dan diobati oleh perawat dan Pastur dari Belanda. Di Bagan, air merupakan barang langka karena lokasinya yang berdekatan dengan laut dan konstruksi tanah di Sumatra  sehingga sangat sulit untuk mendapatkan air tanah, kalaupun ada airnya juga tidak bagus tidak seperti di Jawa. Karena itu, masyarakat biasanya memiliki tempat penampungan air berupa bak yang terbuat dari aluminium yang berguna untuk menampung air ketika hujan. Bagi keluarga yang cukup berada biasa membuat instalasi air dan bak besar dibawah rumahnya untuk menampung air. Sulitnya air di Bagan membuat masyarakat biasa mengkonsumsi air hujan atau air payau (air sulingan dari air laut) tidak hanya untuk mandi tapi juga untuk minum.
Rumah Kapitan Ng Cong Bun

Salah satu peninggalan yang hingga kini masih  ada dan membuat saya sangat kagum adalah rumah Kapitan Ng Cong Bun. Kapitan merupakan gelar bergengsi yang diberikan oleh pemerintah Belanda kepada orang-orang yang berpengaruh, penting atau kaya. Gelar ini difungsikan pemerintah Belanda sebagai ketua atau jabatan untuk mengepalai etnis Tionghua yang tinggal di Bagan. Rumah ini sudah berusia ratusan tahun, diperkirakan dibangun selang beberapa tahun dari klenteng Ying Hock Kiong. Dari depan, masih terlihat bekas-bekas kemegahan rumah ini dulu, terdapat jalan setapak selebar kurang lebih 2 meter sepanjang 20 meter yang memisahkan rumah dengan jalan, jalan setapak berakhir di anak tangga batu, sebagian besar konstruksi rumah berbahan dasar kayu. Di depan rumah terdapat plat dari lempengan besi yang menunjukan alamat dan kepemilikan rumah tersebut yaitu RT04/RT02 No. 40B Kelurahan Bagan Timur, Kabupaten Rokan Hilir. Hingga kini, rumah tersebut masih dihuni oleh generasi Ng yang ketiga berusia 80 tahun. 


Ketika berkunjung kesana, saya sempat ragu kalau rumah tersebut masih dihuni karena sudah reot dan tidak terawat, banyak bagian rumah sudah rusak disana sini karena termakan usia.  Saya terkejut karena dari pintu samping rumah keluarlah seorang nenek renta yang menyambut dengan hangat, ternyata beliau adalah keturunan ketiga dari Ng Cong Bun, dengan langkah yang terseok beliau mengantarkan saya berkeliling rumah dan tidak lupa memperlihatkan saya piano kesayangan Kapitan Ng. Meski sudah tidak dapat digunakan lagi, namun jelas sang pemilik rumah tetap mempertahankan benda bersejarah tersebut karena dari yang saya tahu beliau engga untuk menjualnya. Sangat disayangkan, rumah yang kaya akan nilai kebudayaan dan sejarah luput dari kepedulian pemerintah setempat. Meski rumah tersebut sudah sangat reot namun nenek Ng enggan pindah karena beliau ingin agar rumah tersebut tetap ada sebagai bukti sejarah. Jika anda berkunjung ke Bagan, tidak ada salahnya untuk berkunjung ke rumah Kapita Ng Cong Bun karena anda akan disambut dengan hangat oleh nenek Ng dan dijamin anda akan terkagum-kagum dengan arsitektur rumah kuno yang masih dipertahankan. Satu lagi pengalaman menarik, pada saat saya berkunjung dan diajak berkeliling rumahnya, setelah selesai saya hendak memberikan angpao (amplop merah berisi uang) sebagai wujud tanda terima kasih namun nenek Ng mati-matian menolak, lantas setelah dibujuk bahwa angpao tersebut dimaksudkan agar beliau mendapat rejeki (kepercayaan etnis Tionghua pemberian angpao bertujuan agar si penerima diberikan keberuntungan) barulah beliau mau menerima dengan syarat hanya angpao kosong. Menarik bukan? Satu hal yang saya pelajari disini adalah kearifan orang tua yang ingin membagikan sejarah tanpa pamrih sedikitpun.

Piano Peninggalan Kapitan Ng Cong Bun


Komunikasi antar budaya di Bagan menurut saya terjalin sangat baik. Sebagai ibu kota kabupaten Rokan Hilir sekaligus kecamatan Bengkalis, tidak heran banyak orang yang datang ke Bagan baik hanya untuk sekadar berpelesir, mencari nafkah ataupun hidup di Bagan. Selama di Bagan, saya melihat sedikitnya terdapat 4 etnis disana etnis Melayu, Tionghua, Batak dan Padang. Untuk agama terdapat Gereja Katolik, Gereja Kristen, Masjid dan banyak klenteng karena kota Bagan merupakan kota kecil letak tempat ibadah tersebut juga berdekatan dan tidak pernah terjadi konflik diantara pemeluk agama maupun etnis disana. 
Gereja Katolik Santo Petrus & Paulus


Dari sisi bahasa sendiri, ada banyak bahasa yang digunakan seperti Bahasa Hokkian, Bahasa Batak, Bahasa Padang bahkan Bahasa Melayu dan tentunya bahasa Indonesia. Ketika saya berkeliling kota, saya menaikki becak motor yang memang menjadi moda transportasi favorit warga Bagan, bapak becaknya mengajak saya berkomunikasi dengan bahasa Hokkian padahal beliau merupakan orang asli Minangkabau, lucu memang namun setiap warga disana saling menghargai satu sama lain dengan cara berbaur menurut saya. Saat perayaan bakar Tongkang pun, warga non etnis Tionghua juga turut datang dan meramaikan suasana, selain itu pemerintah kota Riau juga memberikan apresiasi terhadap kebudayaan Tionghua disana satu hal yang perlu kita contoh di Jakarta yakni dengan menghargai minoritas dan sebaliknya minoritas menghormati mayoritas.

2 comments:

  1. Sorry, barangkali sebagai masukan aja.bpk Ng Cong Bun bukan kapitan, yg kapitan itu bapaknya. Usia Ng Cong Bun seandainya kalau masih hidup paling sekitar 90 thn .trims. Tjiekiong

    ReplyDelete
  2. Ne artikel ditulis dengan amat tergesa-gesa. Coba check ulang pembuka kata, dari mana ke Bagansiapiapi itu melintasi Dumai dan Duri? Dan masih banyak lagi pemaksaan data spt SPBU satu-satunya antara Bagansiapiapi - Duri, padahal ada enam SPBU antara BAA- Duri. Tuangkan keadaan sebenarnya, dan lakukan observasi secara komprehensif. Baru dirilis sbg rujukan atau literatur budaya yg anda gambarkan!

    ReplyDelete