Pages

Friday, January 11, 2013

BAHASA BETAWI KITA KINI...


Nama : Rizky Novita Lestari
Kelas : E-1
NIM  : 11140110025








         Budaya menurut Triandis dalam buku Communication Between Cultures, Samovar merupakan elemen subjektif dan objektif yang dibuat manusia yang di masa lalu meningkatkan kemungkinan untuk bertahan hidup dan berakibat dalam kepuasan pelaku dalam ceruk ekologis dan demikian tersebar di antara mereka yang dapat berkomunikasi satu sama lain karena mempunyai kesamaan bahasa dan mereka hidup dalam waktu dan tempat yang sama.
          Ketika memutuskan untuk mengunjungi Kampung Betawi untuk diobservasi, dikepala saya langsung terbayang akan logat khas betawi yang lucu, ceplas-ceplos dan nyablak. Selain itu juga terbayang juga akan makanan khas betawi seperti Soto Betawi, Toge Goreng, Ketoprak yang tak sabar lagi untuk saya cicipi. Tadinya saya ingin sekali menjelajahi daerah yang lebih jauh dan memiliki perbedaan budaya yang sangat kentara dengan budaya saya, yaitu Sumatera. Rencana sudah disusun, tiket pun sudah nyaris di beli, tapi apa daya tak lama setelah itu kondisi saya drop lagi pasca keluar dari rumah sakit karena typus dan infeksi usus bulan lalu. Sadar akan kondisi tubuh yang tidak memungkinkan dan menghindari akan merepotkan teman-teman jika nanti di tempat tujuan saya malah sakit dan mereka harus mengurusi saya, alhasil saya mengurungkan niat untuk pergi ke Surabaya bersama Ardhi dan teman-teman lainnya.

          Kampung Betawi Setu Babakan adalah sebuah perkampungan yang terletak di Kelurahan Srengseng Sawah Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Tempat ini diapit oleh dua setu/situ yang berarti danau. Wilayah ini ditetapkan oleh Pemerintah DKI Jakarta yang waktu itu dipimpin oleh Sutiyoso, sebagai tempat pelestarian dan pengembangan budaya Betawi. Betawi adalah suku asli yang tinggal dan menetap di ibukota Jakarta. Seperti yang kita tahu, dari tahun ke tahun semakin banyak pendatang yang berasal dari seluruh penjuru di Indonesia datang ke ibukota Jakarta dengan membawa segenggam harapan untuk kehidupan yang lebih baik. Karena hal ini pula lah semakin hari, suku asli Jakarta yaitu Betawi semakin berpencar dan terpinggirkan oleh para pendatang.  Kata Betawi sendiri berasal dari kata Batavia yaitu nama kuno kota Jakarta pada zaman penjajahan penjajahan Belanda. Kata Batavia diberikan langsung oleh Belanda.

Ramai setiap akhir pekan

          Indonesia adalah negara yang pada masa dulu dijajah oleh bangsa lain selama ratusan tahun. hal ini pula secara sadar atau tidak sangat mempengaruhi berbagai macam aspek kehidupan di Indonesia. Mulai dari bahasa kita yaitu Bahasa Indonesia yang sebenarnya juga terdapat kata serapan bahasa Belanda dan Inggris  yang dimodifikasi didalamnya, kemudian makanan khas di Indonesia yang juga hampir mirip dengan makanan luar negeri, contohnya saja Pempek makanana khas Palembang, ini adalah modifikasi dari dimsum yang berasal dari Cina, ada lagi seni di Indonesia yang juga dipengaruhi oleh bangsa asing yang pernah datang atau menjajah Indonesia.
          Betawi pun juga tak terkecuali. Kebudayaan Betawi seperti Seni Gambang Kromong berasal dari seni music Tionghoa, ada pula seni Rebana yang mendapat pengaruh dari budaya music di Arab, seni Keroncong Tugu yang berakar pada budaya Portugis-Arab. 
Anak-anak sedang latihan menari

Remaja-remaja yang masih peduli dengan seni tari tradisional

          Perjalanan menuju Kampung Betawi dari Gading Serpong hanya memakan waktu sekitar 1,5 jam perjalanan. Hari ini saya pergi bersama teman-teman saya. Ada yang juga dalam rangka memenuhi tugas observasi Komunikasi Antar Budaya, tetapi ada pula yang memang ingin ikut untuk melihat dan mengunjungi Kampung Betawi. Saya yang pada awalnya berpendapat bahwa di zaman sekarang mana ada lagi anak muda yang akan datang mengunjungi tempat seperti ini, karena pasti pilihan akan jatuh ke pusat perbelanjaan atau nonton di bioskop, menjadi sedikit lebih terbuka bahwa ternyata tidak semua seperti itu. Ada juga anak muda yang masih tertarik untuk melihat dan mengetahui budaya Betawi itu seperti apa.
          Selama dalam perjalanan itu ada satu hal yang teramat sangat mengganggu pikiran saya yaitu pesan  singkat yang dikirimkan oleh Ibu saya. Saya yakin mungkin sebenarnya maksud beliau adalah untuk memberi motivasi dan semangat agar saya bisa mengerjakan tugas saya dengan baik. Tapi efek yang saya dapat malah kebalikannya.


*speechles*

          Belum sempat menarik nafas untuk syok setelah membaca pesan singkat dari Ibu saya, tampaknya Ayah saya juga tidak mau ketinggalan mengirimkan pesan singkat.

So much help dad, thaaannkkss :'(

“Mampus….” Bathin saya.

         Jujur saya akui, sejak kecil saya amat sangat takut dengan badut dan sejenisnya. Entah kenapa tampilan mereka sangat mengganggu saya. Sepertinya sesuatu yang terdapat didalam kostum-kostum itu adalah sesuatu yang aneh yang bisa saja tiba-tiba menyerang atau apapunlah itu. Intinya saya tidak pernah berani dengan badut dan susaaaaaaaahhh sekali menjelaskan alasannya dengan kata-kata seperti yang saya lakukan sekarang ini. Pokoknya tidak suka, tidak mau berdekatan dengan badut, TITIK. Naaahhh, yang saya hampir lupa adalah di kesenian Betawi itu ada Ondel-Ondel yang menurut saya lebih menakutkan daripada badut !!!!!!!!!!! ( jreng-jreeengggggggg, latar belakang musik horror !!!!!).  Ondel-Ondel ..

Ini dia Ondel-Ondel nyaa

          Ketika menunggu teman saya memesan Soto Betawi, saya awalnya hanya sekedar iseng bertanya kepada si penjual, Mang Udim, tentang Ondel-Ondel. Menurut penjelasannya, Ondel-Ondel itu diibaratkan sebagai suami dan istri. Ondel-Ondel yang laki-laki biasanya dihias dengan wajahnya dicat warna merah, berkumis tebal ala Pak Raden lengkap dengan jambang, jenggot dan alis tebal. Sedangkan yang perempuan biasanya dicat warna putih atau kuning, diberi pewarna bibir, alisnya lancip. Ada juga yang biasanya membuat Ondel-Ondel yang anak-anak. Hingga detik ini pengerjaan atau pembuatan Ondel-Ondel masih dilakukan secara tradisional dengan menggunakan bilah-bilah bamboo dan tak lupa dipakaikan pakaian pengantin lengkap dengan perhiasan di baju dan dilehernya. Masih menurut Mang Udin yang memang Ayahnya berprofesi sebagai pembuat Ondel-Ondel tradisional sejak dulu, Ondel-Ondel dibuat dengan tujuan untuk menghormati arwah leluhur nenek moyang kita, serta untuk mengusir karma buruk dan penyakit. 
          Selain itu juga, sebenarnya prosesi arakan Ondel-Ondel sangat kental dengan suasana magis yang ditunjukkan dengan penyerahan sesajen yang dilakukan oleh penari Ondel-Ondel tersebut. Sesajen biasanya berupa telor kampong, rokok, bir pletok, kelapa, kopi.  Menurut pengalaman Mang Udim, dulu sewaktu dia kecil ada acara hajatan di kampungnya di Rawa Belong. Waktu itu sesajen yang diberikan oleh penari Ondel Ondel kurang kopi nya. Setelah acara selesai, beberapa bulan kemudian, dikampung Mang Udin banyak sekali warga yang sakit. Sejak saat itulah, penduduk setempat percaya bahwa jika sesajen tidak diberikan, maka manfaat yang akan didapatkan juga tidak akan maksimal karena leluhur kita tidak puas.
             Tetapi seiring dengan perkembangan zaman, kata Mang Udin, Ondel-Ondel sekarang lebih berfungsi untuk hiburan. Baik untuk pembukaan pesta rakyat, atau pesanan dari perusahaan-perusahaan yang menginginkan Ondel-Ondel sebagai pajangan kantor.
Saat prosesi acara, Ondel-Ondel tidak lengkap rasanya kalau tidak ada musik pengiring. Naahh music pengiring ini biasanya Tanjidor atau Tehyen. Setahu saya dari beberapa buku yang pernah say abaca, musik tradisional Betawi ini mendapat pengaruh dari bangsa Cina yang dulu menetap di Indonesia.
            Sayang sekali ketika bertanya tentang hal ini saya tidak liput karena awalnya hanya berniat iseng bertanya sambil menunggu Soto selesai dibuat. Eh taunya malah dijawab dengan sangat bagus hingga saya bisa memahami Ondel-Ondel.

              Setelah selesai dengan Soto Betawi lengkap dengan Kerak Telor, saya dan teman-teman kembali berpencar untuk mengobservasi tentang budaya Betawi.


kudanya capek




Kurang sabuk ijo nyaaa


          Indonesia adalah negara yang sangat kaya akan warisan kebudayaannya. Contohnya saja dari segi bahasa yang ada di Indonesia. Bahasa Nasional Indonesia memang hanya satu, yaitu Bahasa Indonesia. Tapi jika ditelusuri lebih jauh lagi, Indonesia memiliki angka yang tidak tetap atau tidak ada angka pasti yan menunjukkan jumlah bahasa daerah yang ada di Indonesia. Lebih dari 500 bahasa daerah yang tersebar di seluruh Nusantara dan angka itu akan selalu berubah jika tiap tahun pemerintah melakukan penelitian. Contohnya saja, saya sekarang tinggal di Jakarta. Ayah saya asli orang Bengkulu sedangkan Ibu saya berasal dari Palembang, Sumatera Selatan. Saya sangat fasih kedua bahasa daerah ini. Belum lagi memang kecintaan saya terhadap bahasa-bahasa daerah di Indonesia.

         Salah satu Elemen Budaya  menurut yang tertulis di buku karangan Larry A.  Samovar adalah Bahasa. Bahasa merupakan fitur lain yang umum pada setiap budaya. Begitu pentingnya bahasa bagi setiap budaya membuat Haviland dan rekannya mengatakan “ Tanpa kapasitas kita terhadap bahasa yang kompleks, budaya manusia seperti yang kita ketahui tidak akan ada”
          Oleh karena alasan inilah, pada kesempatan kali ini saya bertujuan untuk mengobservasi lebih dalam mengenai penggunaan bahasa asli betawi dalam kehidupan sehari-hari di perkampungan ini.
          Menurut komentar dari teman dekat saya, Sherly “ Dengan Aiy yang suka mengenal banyak bahasa daerah, sangat membantu dia untuk mudah diterima dimana saja, dilingkungan baru. Contohnya saja, karena fasih berbahasa Padang, setiap kami akan berbelanja di pasar atau makan di restoran Padang, pasti kami akan dapat diskon karena Aiy pasti akan memesan atau menawar harga dengan menggunakan bahasa Padang.“.
          Saya suka sekali mendengar dan mencari tahu bahasa yang belum pernah saya dengar atau asing di telinga saya. Beberapa bahasa daerah yang saya pahami walau tidak terlalu lancer antara lain Padang, Sunda, Jawa, Manado. Oleh karena itu ketika mencari tahu mengenai bahasa Betawi saya menjadi sangat bersemangat.
          Yang saya tahu dari bahasa asli Betawi adalah huruf vocal terakhir di kata diganti menjadi huruf  e. misalnya kata “kita” diganti menjadi “kite”, “tanya” jadi “tanye”.  Saya kira hanya sesederhana itu, berarti saya tidak akan kesulitan belajar bahasa Betawi. (Okeyy, gue ta kalo hue sotoy) Tetapi ternyata saya salah.
          Untuk menelusuri penggunaan bahasa asli Betawi di kehidupan sehari-hari, berarti langkah awal yang harus saya lakukan adalah berbincang-bincang dengan orang asli Betawi. Bukan dengan humas pemerintahaan yang berkantor di Kampung Betawi.
       Perjalanan saya dimulai dengan ketertarikan saya membeli Klepon, yaitu makanan khas Betawi yang terbuat dari sagu yang diberi air daun suji dan pandan agar berwarna hijau dan diisi dengan gula merah cair dan Ketan Kelapa yaitu ketan yang dibungkus dengan daun lontar kemudia dimakan dengan dicocol kedalam kelapa yang sudah diongseng dan dicampur dengan gula pasir. Rasanya maknyuuuuussssss.
Pak Sumawar dan dagangan maknyuusssnya

          Ternyata yang menjual makanan ini, yaitu Bapak Sumawar adalah orang asli Betawi yang bertempat tinggal di Margonda. Saya kemudian mewawancarai beliau mengenai budaya dan bahasa Betawi.
        Awalnya ketika saya mengajak berbincang, Pak Sumawar memandang saya seperti tidak percaya dan curiga. Kemudian saya jelaskan maksud saya bertanya barulah setelah itu beliau bisa diajak berbicara. Menurut Pak Sumawar, Betawi itu adalah etnis asli dari Jakarta. Dan penyebarannya pun merata diseluruh wilayah Jakarta. Jadi sebenarnya kampung orang Betawi itu tidak hanya di Setu Babakan saja. Ada yang di Margonda, di Rawa Belong, di Tangerang, Bogor, pokoknya hampir di seluruh wilayah di Jakarta. Kemudian saya bertanya bagaimana sih bahasa betawi itu sendiri.
       Kata Pak Sumawar “ Noh, bahasa yang Neng pake sekarang pan bahasa Betawi”. Saya sedikit bingung dan beliau melanjutkan “Entuh die, anak jaman sekarang ntu suka kagak nyadar, pan yang dipake ngomong tiap ari juga bahasa Betawi. Bahasa Elu Gua itu pan bahasa Betawi neng” . oooaalaaaa saya baru paham maksudnya, sebenarnya bahasa gaul yang biasanya digunakan orang Jakarta mengobrol untuk percapakan informal, biasanya di pertemanan, sebenarnya sudah merupakan bahasa Betawi. Secara tidak sadar, kita sudah akrab dengan bahasa Betawi yang lugas, ceplas-ceplos dan serampangan. Pak Sumawar pun melanjutkan, bahasa Betawi sekarang itu berbeda dengan bahasa Betawi yang digunakan di zaman dulu. Bahasa Betawi sekarang lebih mudah dipahami, sedangkan bahasa Betawi dulu sangat sulit. Ibarat kata, kalo bahasa Jawa itu ada bahasa halus dan bahasa kasarnya. Kalau di Betawi ada bahasa tua dan bahasa sekarang. Saat diminta untuk mencontohkan pun, Pak Sumawar sedikit kesulitan karena sudah sangat jarang mendengarnya lagi.
“Susah neng pokoknye dah. Yang masih pake ntu bahase ye nyang udah engkong-engkong. Dulu enyaknya bapak kadang-kadang pake, tapi tetep aje aye kaga paham” alasan Pak Sumawar. Memang bahasa Betawi lama yang digunakan oleh orang-orang Betawi sekarang sangat jarang di temui. Yang biasanya masih menggunakan sudah bisa dipastikan berusia 80 tahun-an keatas. Sudah sangat jarang sekali ditemui. Jadi dalam penggunaan sehari-hari, yang digunakan adalah bahasa Betawi sekarang. Tapi ciri khasnya tetap tidak berubah. Masih dengan nuansa nyablak, ceplas ceplos, apa adanya, lugas dan lantang.

          Setelah selesai berbincang-bincang dengan Pak Sumawar, saya melanjutkan penelitian saya kermah-rumah penduduk. Sedang asik memotret, saya dan teman-teman dikejutkan dengan suara seorang perempuan yang mungkin sih niatnya nanya, tapi kenceng banget kaya petasan kawinan. “Pada mau nyari apaan adek-adek?” kata perempuan itu.
Mpok Indeh, suaranya cetar membahana



          Nahhh pucuk dicinta ulam pun tiba, karena merasa mendapat gayung bersambut saya jawablaahh pertanyaan itu dengan menjelaskan bahwa kami sedang melakukan observasi dan ingin mencari warga sekitar yang kira-kira bisa ditanyai. Alhasil kami berkenalan dengan Mpok Indeh, warga yang berdomisili disana. Mpok Indeh sudah tinggal disana bertahun-tahun yang lalu. Dulu, rumah yang ia tempati sekarang ini masih bergaya rumah lama. Masih menggunakan lampu petromak untuk penerangan. Selain itu dapur juga terpisah dari rumah karena masih menggunakan kayu bakar. . Baru sekitar awal tahun 2000-an rumah ini di renovasi dan diberikan sentuhan modern karena dirasakan zaman sekarang tidak membutuhkan kayu  bakar lagi untuk memasak. Yaaahhhh, sedikit kecewa sih sebenarnya karena saya penasaran dengan bentuk rumah lama adat Betawi. Dan memang seluruh rumah di wilayah sana sudah tidak ada lagi yang masih mempertahankan bangunan lamanya. Jika pun ada, tetapi pasti sudah mendapat sentuhan gaya modern dengan dipasangi keramik.
          Tidak jauh berbeda dengan jawabn yang diberikan oleh Bapak Sumawar tadi mengenai bahasa Betawi yang masih digunakan dalam kehidupan sehari-hari, menurut Mpok Indeh “Bahasa Betawi sekarang mah yah ya begini ini dah, nyang kaya kite ngobrol sekarang. Kaga ada bedanye. Tapi kalo nyang bahas Betawi jaman jabot dulu, naahhhh Mpok kaga bisa dahh. Soalnya nyang bisa make itu orang tua jaman dulu. Nyang udah sepuh banget”. Sayang sekali lagi-lagi saya tidak bisa mendapatkan informasi lebih lanjut bagaimana sih bahasa Betawi lama itu sebenarnya. Perbincangan dengan Mpok Indeh sungguh mengasyikan karena beliau sangat ramah dan terbuka terhadap pertanyaan-pertanyaan. Selain itu, sifat kocak khas Betawi nya pun masih sangat kental. Sangat suka berguyon atau bercanda plus suara tertawanya yang membahanaaaa.
          Yang dapat saya simpulkan dari observasi saya mengenai penggunaan bahasa Betawi asli di lingkungan perkampungan Betawi ini menemukan bahwa sebenarnya bahasa asli sebagai entitas budaya Betawi masih dilakukan walaupun esensial utama nya sudah tidak terlalu terasa lagi. Hal ini dibuktikan dari hampir tidak ada lagi warga asli Betawi yang masih fasih menggunakan bahasa Betawi lama. Kalaupun masih ada, hanya tinggal seg,elintir orang. Sedikit miris, karena pada kenyataan dilapangan, kota Jakarta sebagai ibukota negara yang berpenduduk asli orang Betawi semakin lama semakin terpinggirkan. Jakarta didominasi oleh warga pendatang dan membawa serta identitas budaya mereka terlihat dari bahasa yang digunakan. 
          Tak sulit tampaknya menemukan orang Jawa, Sumatera, Sunda di kota Jakarta ini. Dan mereka hebatnya masih membawa serta kekentalan originalitas bahasa asli daerah mereka. Contohnya saja dikelas, teman saya yang berasal dari Jogjakarta. Sekeras apapun Ia berusaha untuk berbicara sedikit nge-gaul Jakarta, tetap saja medoknya tidak bisa hilang.
          Semoga diluar sana masih banyak keluarga Betawi yang masih tetap teguh menggunakan bahasa asli mereka sehingga harapan akan lestarinya bahasa asli Betawi masih ada. Seperti di keluarga saya. Mau sefasih apapun bahasa asing yang dikuasi, selancar apapun bahasa Indonesia, tetapi ketika kembali kerumah, kami sekeluarga tetap berbicara dan bersenda gurau menggunakan bahasa Sumatera Selatan yaitu Palembang, daerah asal keluarga saya.



Rumah lama Betawi


         Perjalanan kami masih berlanjut lagi ketahap yang paling mengasyikan, yaitu wisata kulineerrrr !!!

          Teman-teman saya sangat antusias. Sayang sekali saya tidak bisa menikmati karena saya baru saja sembuh dari sakit. Hanya bisa ngiler kepingin melihat teman-teman saya makan. Ada Ketoprak, Soto Betawi, Kerak Telor, Es Goyang, Es Durian, Es Selendang Mayang, Telor-teloran, Toge Goreng. Hiksss, lain kali saya akan kesini lagi untuk makan sepuasnyaaa.

Toge Goreng
Kerak Telor favorit saya huhuhu :'(

Es Goyang

          Dari kegiatan observasi ini, saya semakin mencintai keragaman bahasa yang terdapat di Indonesia. Sedikit sedih ketika tahu bahwa bahasa asli Betawi sudah mulai pudat, terlihat dari generasi Betawi seumuran orang tua saya yaitu 40-50an tahun, sudah tidak lagi mengenal bahasa asli mereka. Bagaimana dengan generasi saya ? Bagaimana pula dengan generasi selanjutnya ?  Apakah mereka akan tetap mempertahankan budaya atau malah sama sekali tidak mengetahuinya ?
          Terkadang ketika berada di kampus, saya masih sangat sering menggunakan bahasa Palembang ketika berbicara dengan teman saya yang juga berasal dari Palembang. Dan kalian tau, hampir setiap saat itu pula, akan ada tatapan sinis dari orang yang melihat kami berbicara, bahkan pernah suatu saat ketika berada di lift, ada orang yang keceplosan ngomong " Gue berasa kaya banyak orang kampung deh di ni kampus". Beehhhh, yang diotak saya saat itu adalah, yaaaaaaa sooooo whaaattttttttt saya bangga kok berbahasa daerah. Masalaahhh buat eloo, hehhehehe.
               Lucu yah, dizaman serba canggih dan open minded seperti sekarang ini, masih ada saja orang-orang yang berpikiran tertutup akan banyak ragam budaya dan tentu saja bahasa di Indonesia. 
          
           Jadi akhir kata, semoga observasi saya ini bermanfaat untuk menambah khasanah berpikir kita sebagai generasi penerus bangsa yang harus melestarikan budaya kita agar tidak tergerus dan kemudian hilang ditelan oleh zaman. 








(Note : Maaf ya kualitas videonya sedikit menganggu karena resolusi kamera yang digunakan kurang mendukung :D )
  
          


       







No comments:

Post a Comment