Pages

Thursday, January 10, 2013

Keraton Kesepuhan Cirebon, Keraton Ragam Budaya


Nama: Alexandra Michelle Mirabel Liman
NIM: 11140110189
Kelas: B1 






Keraton Kesepuhan Cirebon adalah keraton tertua di kota yang sering disebut kota udang ini. Memang, keraton ini tidak setenar Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat di Yogyakarta, namun, di keraton ini, banyak terjadi percampuran budaya yang menarik yang tidak diketahui banyak orang.
Pintu masuk Keraton, bersama Bpk. Ferry
Menilik dari sejarahnya, Keraton Kesepuhan di dirikan oleh putra dari Prabu Siliwangi dari Kerajaan Padjajaran Bogor yang bernama Pangeran Cakrabuana, dimana, Pangeran Cakrabuana beragama Islam dan sangat bertolak belakang dengan kerajaan Padjajaran yang pada itu beraliran Hindu, maka Pangeran Cakrabuana memisahkan diri dari Padjajaran dan mendirikan Keraton Kesepuhan Cirebon. Awalnya, keraton ini di dirikan dengan nama Keraton Pakungwati. Nama Pakungwati sendiri di ambil dari nama anak Pageran Walangsungsang yang bergelar Pangeran Cakrabuana  yang nantinya menikah dengan Sunan Gunung Djati. Sunan Gunung Jati juga menikah dengan putri Kaisar Cina yang bernama Putri Ong Tien, yang nantinya akan menjelaskan terjadinya akulturasi budaya Cina di Keraton Kesepuhan Cirebon.
Memasuki pintu gerbang Keraton Kesepuhan Cirebon mulai terlihat budaya yang berbeda dengan budaya Jawa yang sering kita lihat.. Di depan pintu gerbang, terdapat bangunan dari bata merah berbentuk podium yang dinamai Siti Inggil. Sayangnya, saat saya datang berkunjung, bangunan bersejarah ini sedang di renovasi sehingga tidak dapat menggali informasi leih lanjut. Tapi dari bentuknya, dapat dilihat bahwa Siti Inggil telah memperoleh dampak dari budaya agama Hindu yang berbentuk seperti pintu masuk Pura yang biasa kita temukan di Pulau Dewata. Bangunan ini mencerminkan bahwa Keraton Kesepuhan Cirebon merupakan pisahan dari Kerajaan Padjajaran yang beraliran Hindu. Selain bangunan itu, saya juga disapa oleh orang-orang sekitar yang ramah dan low context. Lalu saya diajak berkeliling oleh seorang bapak Guide yang merupakan bagian dari masyarakat keraton bernama Ferry yang mengenakan pakaian adat Jawa.
Siti Inggil 

Setelah melewati pintu gerbang , disebelah kanan terdapat Langgar Agung yang merupakan tempat beribadah agama Islam untuk kaum dalem Keraton. Diluar Langgar Agung terdapat bedug yang bernama Sang Magiri, yang konon katanya, kulit dari bedug tersebut belum pernah diganti. Sampai sekarang, Langgar Agung tersebut masih digunakan untuk berbagai ritual keagamaan Islam, seperti taraweh saat bulan Ramadhan dan sholat Ied pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.
Langgar Agung 
Melewati  pintu gerbang dan akhirnya memasuki kawasan kompleks Keraton,  di sebelah kanan, terdapat Musium Benda Kuno, yang didalamnya disimpan berbagai peninggalan dari Sunan Gunung Djati, serta terdapat juga pernak-pernik berhias dari Ratu Ong Tien, istri Sunan Gunung Djati yang berasal dari Cina. Sayangnya, lagi-lagi, saat saya berkunjung kesana, Musium tersebut sedang di renovasi. Dari penjelasan guide, barang-barang kuno yang ada di musium tersebut kebanyakan hadiah dari berbagai kerajaan (hadiah perkawinan dan persembahan) , ada juga busana-busana Sunan Gunung Djati juga alat-alat perang (asli maupun replika). Di dalam musium itu terdapat pula rangkaian gamelan yang konon katanya digunakan sebagai alat propaganda untuk memikat orang Hindu untuk masuk ke Islam, dan sampai sekarang gamelan itu masi dibunyikan setiap hari Idul Adha.Gamelan itu sendiri diberikan dalam rangka persembahan dari Sultan Demak waktu pernikahan Ratu Mas Nyawa dengan putra Sunan Gunung Djati. Selain itu terdapat alat Tedak Siti (tradisi turun tanah) yang digunakan untuk anak umur 7 bulan, untuk menentukan masa depan anak tersebut. Bisa terlihat dari observasi singkat saya di musium yang sedang di renovasi tersebut bahwa, hadiah-hadiah yang di terima oleh Sunan Gunung Djati, menjalin persahabatan dengan negara-negara asing dengan baik.
Musium Benda Kuno 
Di kiri kompleks Keraton, terdapat sebuah Museum yang berisi kereta kencana yang sangat megah yang disebut Kereta Singa Barong Kereta ini merupakan perbaduan dari tiga binatang yaitu, gajah, garuda, dan naga. Gajah yang belalainya memegang trisula (pengaruh Hindu) yang melambangkan persahabatan dengan India, Garuda yang tubuh dan sayapnya yang menggambarkan persahabatan dengan Mesir(pengaruh Islam) dan Naga yang ekornya melambangkan persahabatan dengan negara Cina(pengaruh Budha). Trisula yang ada di belalai gajah menyatukan tiga kebudayaan yang artinya: Tri=tiga, Sula= tajam,maksudnya adalah, tajamnya pikiran manusia yaitu; Cipta, Rasa, Karsa. Pada jaman dahulu, kereta ini digunakan unutk Upacara Kirab keliling kota Cirebon. Kereta ini konon katanya harus ditarik oleh 4 Kebo Bule, dan saat dijalankan, sayap garuda berkepak-kepak, lidah gajah bisa menjulur-julur, serta badan kerta yang sudah memiliki teknologi shock-breaker yang akan membuat raja yang duduk di kereta itu nyaman. Kereta yang sangat megah tersebut sudah tidak digunakan sejak  1942, dan hanya setiap 1 syawal keluar untuk dimandikan. Diduga segala persahabatan ini diperoleh dengan adanya interaksi dengan pedagang-pedagang yang datang ke Indonesia, mengingat saat itu Indonesia, terutama Cirebon yang banyak pelabuhan, merupakan tempat singgah bagi para asing.


Kereta Singa Barong yang Megah 

Di tengah-tengah kompleks Keraton, ada sebuah taman bernama Taman Bunderan Dewan Daru. Terdapat delapan pohon waru yang mengelilingi taman yang berbentuk bulat tersebut. Arti dari nama taman tersebut sendiri adalah Jadilah orang yang menerangi sesama mereka yang masih hidup dalam rasa kegelapan.  Di taman itu pula ada patung dua singa yang diapit oleh dua meriam, Patung dua singa tersebut merupakan lambang dari kerajaan Padjajaran, lagi-lagi menampakkan bahwa Keraton Kesepuhan Cirebon merupakan pecahan dari Kerajaan Padjajaran, dan dua meriam yang diberi nama Ki Santoma dan Nyi Santoma, yang meripakan hadiah persembahan dari Prabu Kabunangka Pakuan.
Lambang Kerajaan Padjajaran

     Jalan sedikit, disebelah Musium Kereta Singa Barong terdapat bangunan lain, yang bernama Sri Manganti. Arti kata Sri= Raja, Manganti= menunggu, yang bila digabungkan berarti tempat menunggu keputusan Raja setelah melapor di Lunjuk. Lunjuk sendiri merupakan bangunan yang berada tepat diseberang Sri Manganti, yang merupakan tempat staff harian melayani tamu yang akan menghadap Sultan. 
Sri Manganti 
Lunjuk 

       Melanjutkan perjalanan, saya ditunjukkan tempat wakil Sultan melakukan tugasnya, yaitu menyambut tamu Sultan. Tempat itu bernama Jinem Pangrawit. Pintu masuk menuju Jinem Pangrawit adalah sebuah gapura dengan ukiran khas Cirebon, Mega Mendung, yang berarti “ Selalu ingat Tuhan” maksudnya, apapun yang kita lakukan, jangan lupakan Tuhan karena dia yang Maha pemberi segala-galanya. Tapi, bila dilihat dari ajaran Taoisme, bentuk awan melambangkan dunia atas. Bentuk awan merupakan gambaran dunia luas, bebas dan mempunyai makna transidental (Ketuhanan). Konsep mengenai awan juga berpengaruh di dunia kesenirupaan Islam pada abad ke-16, yang digunakan kaum Sufi untuk ungkapan dunia besar atau alam bebas. Para pembatik keraton menuangkan budaya dan tradisi China ke dalam motif batik yang mereka buat,karena pernikahan Sunan Gunung Djati dan Putri Ong Tien dari Cina lah yang membuka “gerbang” bagi kebudayaan Cina untuk masuk, tetapi dengan sentuhan khas Cirebon, jadi ada perbedaan antara motif megamendung dari China dan yang dari Cirebon. Misalnya, pada motif megamendung China, garis awan berupa bulatan atau lingkaran, sedangkan yang dari Cirebon, garis awan cenderung lonjong, lancip dan segitiga.
Kutagara Wadasan (gapura) dan Jinem Pangrawit (belakang)
          Seharusnya pintu masuk menuju bangsal Keraton adalah lewat Jinem Pangrawit, tapi pengunjung umum dilarang untuk masuk lewat situ. Jadi kita harus masuk melalui pintu Buk Bacem yang akan saya jelaskan berikutnya.

         Melanjutkan perjalanan, kami kembali melewati sebuah gapura, yang bernama Buk Bacem Buk karena pintu gapura tersebut beratap tembok lengkung berdaun pintu kayu dan Bacem karena kayunya di rendam dengan ramuan. Jika di teliti dengan cermat, gapura ini di tempeli berbagai keramik dari Cina yang sebagaimana dijelaskan sebelumnya didaptkan dari hasil persembahan dari Cina karena jalinan perkawainan Sunan Gunung Djati dan Putri Ong Tien. Kalau kita mundur sedikit kembali ke Jinem Pangrawit, di samping kiri, kita akan menemukan pintu yang serupa, namun kita dilarang masuk kesana, karena itu adalah pintu masuk menuju ke kediaman Sultan. Saat ini Sultan Sepuh sudah sampai ke Sultan Sepuh yang ke XVI.
Pintu Buk Bacem yang di hiasi denga Keramik 

        Berjalan sedikit dari gapura, di sebelah kiri terdapat bangunan tanpa dinding yang bernam Langgar Alit yang fungsinya hampir sama dengan Langgar Agung yaitu untuk melaksanakan kewajiban beribadah agama Islam dan juga merayakan hari-hari besar keagamaan Islam, tapi bedanya Langgar Alit ini hanya khusus untuk keluarga Sultan Sepuh.



          Lalu, masuklah kita ke bangsal keraton, di depan pintu masuk bangsal, terdapat meja kecil dengan uang sepuluh ribuan dengan batu sebagai pemberat agar tidak terbang. Awalnya saya berpikir bahwa itu adalah keramat yang harus dilakukan, namun ternyata, uang itu diperuntukkan untuk sumbangan suka rela untuk perawatan dan kebersihan bangsal keraton. Oke, lalu kita masuk ke bangsal keraton, lalu kita diperlihatkan sebuah fakta yang aneh bahwa pintu masuk dari Jinem Pangrawit sengaja dibuat miring dengan maksud agar musuh yang datang tidak segera dapat menyerang singgasana Sultan.Pintu masuk ini bernama Gajah Nguling. Namun jika dilihat menurut ilmu tata ruang Cina, Fengshui,masuk yang sengaja dibuat miring agar tidak boros dan yang tinggal didalamnya akan selalu hidup hemat dan irit. Saat kita mengamati langit-langit bangsal keraton, sekilas mirip dengan tata bangunan Keraton Jogjakarta, hanya saja, langit Keraton Kesepuhan Cirebon tidak terlalu tinggi karena tata bangunan yang diadposi dari Jawa asli. Sedangkan Keraton Yogyakarta mengadopsi tata bangunan dari Eropa.  Bangsal Keraton juga dipasangi dengan lampu-lampu khas Eropa yang didapat dari hadiah, yang hanya dinyalakan pada saat kedatangan tamu kerhormatan Sultan dan acara-acara khusus.
Pintu Masuk Bangsal Keraton
       Kemudian kita akan memasuki ruang singgasana Sultan, tempat Sultan melakukan tugasnya sehari-hari.  Ruangan ini bernama Bangsal Pringgandani. Dinding bangsal keraton dihiasi dengan keramik dari Cina dan lukisan-lukisan pemandangan Belanda. Sebelum kita naik ke tangga singgasana Sultan, terdapat tembok yang dilapisi keramik yang justru berasal dari Belanda, ada yang berwarna kemerahan dan biru. Yang merah konon katanya, menceritakan mengenai isi alkitab perjanjian lama dan baru, terlihat bahwa urutan ceritanya tidak urut karena keramik tersebut di atur oleh staff Keraton sendiri yang tidak tahu-menahu mengenai cerita Alkitab. Serta yang biru bercerita mengenai pemandangan dan kehidupan sehari-hari di Belanda. Mengapa banyak barang-barang Belanda dipasang di dalam Keraton? Konon katanya, hadiah-hadiah itu pajang agar menciptakan persepsi bahwa Keraton bekerja sama dengan Belanda, karena perlu diingat bahwa pada saat itu Indonesia sempat di jajah oleh Belanda, dan jika kerajaan mau bertahan maka, kerajaan tersebut harus menurut dan bekerja sama dengan Belanda.  Lalu, terdapat pula piring-piring yang ditempel pada tembok tersebut, yang katanya datang dari Cina. Jika di amati dengan seksama,  piring-piring tersebut, meskipun sama, detail yang ada di piring itu berbeda-beda. Konon, piring-piring itu digambar oleh orang-orang yang berbeda sehingga meskipun, gambarnya pemandangan gunung, tapi detail di sekitar gunung dan arsiran-arsiran disekitar gunung tersebut, sangatlah berbeda satu dengan yang lainnya.  Kemudian, saya pun melihat singgasana Sultan yang mungkin kalau dilihat sekarang, sudah sangat usang dan rapuh, namun saya bisa membayangkan dalam otak saya, pada jaman kejayaannya, singgsana tersebut merupakan tempat yang terhormat di bangsal keraton. Kursi singgasana dibuat dari kayu sderhana dan ukiran khas Eropa. Dibelakang kursi singgasana, terdapat tirai sembilan warna yang melambangkan jumlah wali songo. Hal ini mencerminkan agama Islam yang sangat kental. Tadinya, para pengunjung diperbolehkan untuk naik dan melihat lebih dekat singgasana megah tersebut. Tapi sayangnya, karena usia yang sudah tua, lantai singgasana tersebut pernah rubuh, dan sejak itu pengunjung tidak diperbolehkan lagi untuk naik ke area singgasana Sultan.
keramik hiasan dari Belanda

Keramik Biru=Kehidupan Belanda
Keramik Merah=Isi Alkitab
Piring keramik dari Cina
     Setelah itu, saya pun beranjak keluar dan menuju ke daerah Dalem Agung Pakungwati. Perlu diketahui, bahwa Keraton Kesepuhan Cirebon didirikan oleh dua orang, yaitu Sunan Gunung Djati, yang bangunannya adalah yang saya telah jelaskan diatas, dan Pangeran Cakrabuana (Pangeran Walangsungsang) yang bangunannya sekarang hanya tinggal puing-puing yang tidak terawat.

Setelah melewati gapura yang ,menurut observasi saya, mengadopsi tata bangunan Hindu dengan susunan bata merah yang direkatkan menggunakan putih telur, di ujung jalan, terdapat  bangsal tanpa dinding yang megah dimana, disitu terdapat replika dari kereta kencana Singa Barong yang terlihat sekilas mirip, tapi sebenarnya, kereta kencana replika ini tidak hebat yang aslinya. Sayap garuda dan lidahnya tidak dapat menjulur2 dan teknologi shock-breaker yang ada di kereta asli, tidak ada lagi.
Pintu menuju Dalem Agung Pakungwati 
     Lalu, melanjutkan perjalanan ke pintu gerbang Dalem Agung Pakungwati. Jalanan yang tidak serapi yang sebelumnya dan kanan kiri di kelilingi oleh dinding bata merah. Didalamnya terdapat taman dan juga sumur mandi. 
     Yang menarik, adalah, terdapat sebuah pintu yang konon katanya tempat itu merupakan tempat pertemuan Wali Songo, dan wanita dilarang masuk. Hal ini saya lihat sebagai ke-kolotan jaman dahulu yang saya anggap menomor duakan wanita. 
Tempat perkumpulan Wali Songo
   Melanjutkan perjalanan, saya kembali membayangkan jaman dahulu kemegahan dari Keraton ini. Dengan taman yang indah, banyak keluarga Sultan hilir mudik, cinta-cinta terlarang bertemu disela-sela keraton yang tersembunyi.
     Satu hal terakhir yang perlu diketahui, keraton di Cirebon ada lima, Keraton Kesepuhan adalah salah satunya dan yang paling tertua. Keraton yang lain iyalah, Kanoman, yang merupakan pecahan dari Keraton Kesepuhan Cirebon, lalu ada Keraton Keprabon dan Keraton Kacirebonan, yang dijadikan pusat sanggar tari topeng, budaya khas Cirebon.
                Setelah kunjungan tersebut, saya jadi terinspirasi dengan sebuah teori yang ada dibuku paket, yaitu elemen budaya terdiri dari lima, yaitu, sejarah, agama, nilai, organisasi sosial dan bahasa. Dan yang paling dominan di Keraton ini adalah agama. Keraton Kesepuhan Cirebon yang beragama Islam memancarkan betul keIslamannya dengan adanya tempat ibadah dan juga gamelan yang telah saya sebutkan diatas. Keraton ini pula, berhasil mengakulturasi berbagai budaya (Hindu, Buddha dan Katholik)  ke dalam budaya mereka tanpa kehilangan budaya asli mereka.

No comments:

Post a Comment