Pages

Wednesday, January 9, 2013

Kelompok Pelukis Penulis Indah


NIM    : 11140110105
Nama   : Rati Sanjaya
Kelas   : G1



Tepat di seberang Gedung Kesenian Jakarta, di muka Pasar Baru kecamatan Sawah Besar, terdapat 29 kios, yang dihuni oleh 60 seniman, berjajar rapi yang menampilkan hasil-hasil karya dari pemilik kiosnya. Setelah turun dari bus patas 157 di depan halte busway, saya langsung disambut pemandangan seorang seniman yang menggerakkan tangannya yang memegang kuas sambil berkata, “Lukis, Mbak?”

Ternyata itulah ciri khas yang ada di Kelompok Pelukis Penulis Indah (KPPI) yang telah diresmikan sebagai tempat wisata belanja seni oleh Pemerintah Jakarta pada 10 Oktober 1999. Dengan mengusung kata ‘kelompok’ dalam perkumpulan ini, ada hierarki jabatan seperti ketua (Pak S. Wito), sekretaris (Pak Eko), humas (Pak Didit), bendahara (Pak Yudhi), dan pembantu umum (Pak Soleh, Pak Eeng, dan Pak Dadang) tapi fungsinya bukan sebagai penguasa atau pembuat keputusan, tapi lebih ke arah sebagai penghubung dengan kepolisian, Pemda, RT/RW, dll.

Sebelumnya, para seniman ini beroperasi bebas (seniman jalanan) di sekitar sungai Pasar Baru, sering kali mereka dikejar-kejar Pemda Jakarta untuk diamankan. Lama-kelamaan, melihat potensi dan letaknya yang strategis, akhirnya para seniman dikumpulkan dalam satu payung komunitas dan dibuatkan kios-kios untuk memulai profesi resmi sebagai pelukis dan penulis indah. Istilah payung yang digunakan memang tepat karena menggambarkan sesuatu yang melindungi, melingkupi, dan menaungi. Begitulah KELOMPOK PELUKIS PENULIS INDAH di mata para anggotanya.

Kalau sekarang kita melihat kios-kios itu seperti berhimpitan sesak di trotoar, awalnya sebuah kios lebarnya bisa mencapai 4 meter—jelas lega dan sangat nyaman bagi seniman yang membutuhkan ruang gerak dan tempat menyimpan lukisan sekaligus peralatannya. Namun sejak ada jembatan busway, kios-kios itu didesakkan hingga menjadi sempit dan terkesan sesak karena jumlah kios dan senimannya masih sama. Untuk kemungkinan penambahan anggota… maaf saja, KELOMPOK PELUKIS PENULIS INDAH sudah tertutup karena 60 orang yang terdaftar sebagai seniman di sana sudah diresmikan Pemda Jakarta. Dan seperti yang sudah disebutkan tadi, sudah penuh sesak.

Kios nomor 28

Walaupun bertempat di Pasar Baru—Jakarta Pusat—bukan berarti seniman-seniman di situ adalah orang Jakarta, ada yang berasal dari Sumatra, Bandung, Wonogiri, Garut, Medan, dsb. Kebanyakan tinggal di daerah Bekasi, Cikampek, ada beberapa yang kos di Gunung Sahari bahkan pemilik kios nomor 18 tinggal di dalam kiosnya. Maka tidak heran jika setiap kios berbeda penempatan dan isi-isi barangnya. Ada yang meletakkan bangku rotan dan TV, ada yang memenuhi kiosnya dengan lukisan, ada yang meletakkan lemari, dan berbagai furnitur lain sesuai kebutuhan sang seniman.

Untuk urusan komunikasi antar anggota, interaksi antara satu sama lain terasa begitu akrab dan berbicara dengan Bahasa Indonesia yang umum walau masih dihiasi logat asalnya. Kadang juga terdengar argot Betawi pertanda mereka sudah lama di situ sehingga secara tidak sadar menggunakan kata-kata ala Betawi akibat adaptasi seperti “Ngapain muter jauh-jauh ke sana? Kayak nggak ada kerjaan.” Untuk aksen Betawi yang digunakan, kebanyakan menggunakan jargon Betawi Pusat yang notabene lebih lugas dan kadang mungkin agak kasar bagi orang yang jarang mendengar kata-kata ini.

Cara yang lebih mudah untuk membedakan daerah asal seniman-seniman di sini, selain mengidentifikasi logat, adalah dari panggilannya dari orang lain. Misalnya Pak Wito selaku ketua dipanggil Mas Wito karena berasal dari daerah Jawa Tengah. Selain untuk menandakan daerah asal, sebutan ini menggambarkan rasa hormat pada orang yang lebih tua atau dianggap lebih senior. Masih susah membedakannya? Lebih baik tanyakan langsung pada senimannya. Tenang saja, para seniman di KELOMPOK PELUKIS PENULIS INDAH luar biasa ramah dan menyenangkan kok~

Moto KELOMPOK PELUKIS PENULIS INDAH adalah “kebersamaan”. Untuk mempererat hubungan, mereka biasa tur bersama-sama sambil membawa keluarga masing-masing meski tahun ini mereka belum memutuskan untuk melakukan tur lagi. “Mungkin tahun ini nggak pergi,” kata Bang Omen alias Pak Osman Effendi, sang pemilik lapak nomor 16.

Pak Osman Effendi

Karena mereka terhitung sebagai wirausaha, sejak 2004 Pemda menarik retribusi dari seniman-seniman ini. Walau begitu, mereka tampak sangat menikmati usaha yang mereka tekuni dan enggan untuk pindah ke galeri khusus (alasannya karena lebih fleksibel dan lebih banyak mendapat pelanggan). Saat mereka ingin berkumpul bersama keluarga, mereka akan meliburkan diri. Ketika penat menghadapi kanvas, mereka bisa tidur, mengobrol, bahkan bermain karambol di bawah pohon asem. Biasanya para senuman ini rehat sekitar jam 3 sore untuk main karambol, tapi sayang… saya berkunjung saat para anggota sedang sibuk-sibuknya mengerjakan pesanan.

Papan karambol (ada 2, ada yang besar dan kecil)

Suasana kekeluargaan itu juga menjadi sistem dalam menjalankan usaha mereka. Sebagai pengusaha yang menjual jasa serupa, mereka tidak khawatir akan kehilangan pelanggan karena setiap seniman memiliki sentuhan yang berbeda dalam karya seninya dan bisa dipilih sesuai keinginan pelanggan. Ada yang spesialis di karikatur, realis, berwarna, hitam putih, bahkan siluet. Tapi bukan berarti mereka pelit ilmu, bahkan mereka boleh saling melihat teknik pengerjaan dan dikembangkan sendiri karena sistem belajar seniman-seniman ini kebanyakan otodidak. Oh, satu hal lagi yang menarik, Bang Omen menyatakan bahwa rejeki di tangan Tuhan karena memang ada beberapa kejadian yang bisa membuktikan rejeki memang di tangan Tuhan.

Kebanyakan pelanggan pelukis ini berasal dari instansi, terutama saat perayaan tertentu, atau ada yang membuat kenang-kenangan perpisahan dengan guru. Pelanggan-pelanggan ini nantinya akan menyebar dari mulut ke mulut sehingga kelangsungan usaha para seniman ini tidak redup walau keberadaannya ‘tersempil’ di Jakarta Pusat.

Kepercayaan antar anggota juga terlihat jelas di sini karena kios-kios di sini tidak tertutup rapat sebagaimana kios dagang pada umumnya. Lukisan-lukisan digantung di dalam dan di luar kios, pintu digerendel dan digembok seadanya, peralatan dijejalkan dalam kios (ada yang rapi, ada juga yang tidak), dan khusus kios Pak Wito, pintunya terbuka lebar sehingga saya bisa melongok ke dalam tanpa di tegur oleh siapapun.
Hal ini sangat menarik karena walaupun hierarkinya paling penting di kelompok ini, Pak Wito terlihat begitu santai dalam menjalankan usahanya. Beliau memang luar biasa sibuk sehingga sang asisten lebih sering di kiosnya, para seniman pun tampaknya sudah sangat terbiasa dengan keadaan itu sehingga tidak lagi ‘kepo’ untuk mengintip atau (dengan rese) bolak-balik ke dalam.

Kalau kamu bertanya-tanya kenapa di kiosnya lebih banyak memajang lukisan, tapi sedikit sekali tulisan indah, itu karena sekarang tulisan indah sudah mulai jarang digunakan akibat software canggih komputer yang bisa mencetak banyak tulisan dengan waktu yang lebih sedikit. Tapi bukan berarti keberadaan teknologi canggil bisa melumpuhkan keoptimisan para seniman jagoan kita~ Mereka yakin bahwa jiwa dalam setiap goresan yang mereka buat, keunikan dari kreatifitas sang penulis tidak bisa digantikan oleh teknologi secanggih apapun. Itulah sebabnya mereka tetap bertahan dengan status Penulis Indah di jaman semodern ini.


Tulisan indah (bukan kaligrafi karena berbeda arti) masih banyak dipakai dalam penulisan sertifikat penting seperti ijazah, SKHUN, penghargaan, dan piagam karena dianggap lebih otentik daripada hasil cetakan. Dengan tulisan indah dari guratan tangan, kemungkinan penjiplakan atau pemalsuan bisa diminimalisir dibandingkan dengan olahan komputer.

Contoh Tulisan Indah
Kita sudah membahas masalah hierarki, komunikasi antar anggota, sekarang mari kita melihat bagaimana para seniman di hadapan pelanggannya. Sifat fleksibel tampaknya sudah begitu melekat pada seniman-seniman di sini sehingga ketika menghadapi klien yang formal, mereka pun membalas dengan formal dan sopan, sedangkan menghadapi klien yang informal, mereka berubah menjadi santai dan tetap sopan.

Seperti saat menghadapi mahasiswa, bahasa mereka menjadi lebih gaul. Mereka tidak segan bersenda gurau atau menggoda dan di saat yang sangat jarang, mereka memberikan nasehat/masukan seperti senior pada juniornya. Berbeda ketika berhadapan dengan seorang wanita yang tampangnya jutek, mereka melayani dengan sopan dan bersikap formal, tidak banyak basa-basi seperti yang dilakukan pada kami. Ada lagi ketika menghadapi wanita cantik yang mencari pelukis yang sedang tidak ada di tempat, salah satu anggota menjawab dengan sopan dan senyum cerah.

Lain lagi ketika tawar-menawar harga. Untuk siswa yang kelihatan pendapatannya pas-pasan, harga yang dipasang di awal tidak setinggi seperti yang dipasang ke orang yang mapan. Contohnya saat menghadapi anak SMA yang begitu datang langsung menembak dengan berapa banyak uang yang mereka punya (dan betapa mereka berharap untuk bisa memberikan hadiah pada sang guru), Bang Omen mengiyakan dan mengerjakan dengan penuh semangat. Saat dengan mahasiswa seperti saya, tarik-ulur harga dilakukan cukup lama dengan mengandalkan jurus memelas sampai akhirnya mencapai harga yang disepakati. Ehehehe… Sedangkan dengan ibu-ibu jutek yang tadi saya bilang, harganya pas karena memang si Ibu tidak banyak bawel menawar harga, yang dituntut hanya kualitas yang bagus tanda si Ibu memang tertarik dan menghargai lukisan. Saya tidak mengambil video atau gambar tentang yang ini karena saya rasa kurang etis dan agak mengganggu proses transaksi.

Itu dengan pelanggan, bagaimana dengan orang yang asal lewat? Banyak sekali orang yang datang ke daerah Sawah Besar untuk mengambil gambar atau sekadar melihat-lihat. Tidak seperti sales person yang ada di mall, pelukis di sini bertanya dengan santai yang terlihat lebih seperti kebiasaan daripada memburu pelanggan. Eits, jangan salah… walau kelihatannya cuek, seniman-seniman di sini sangat memperhatikan sekitarnya sehingga menyadari apa saja yang terjadi di lingkungannya.

Sikap para seniman di sini yang fleksibel juga tergambar dari penampilan mereka yang santai dengan kemeja atau kaos, celana panjang, dan sandal jepit yang semuanya bersih dan tidak robek-robek tanda terawat. Berbeda dari bayangan umum tentang seniman yang urakan dan berantakan, KPPI berhasil menampilkan citra seniman yang berbeda dari apa yang kita bayangkan sebelumnya. Beberapa seniman memang ruangannya agak sumpek karena barang-barang diselipkan dengan tidak teratur, tapi penampilannya bersih dan rapi walau santai tanda mereka menganggap serius profesi mereka dan tetap menikmatinya. Begitulah hobi yang dijadikan profesi sehingga bekerja bukan semata untuk mendapatkan uang, tapi bekerja untuk mendapatkan kepuasan.

 


Simbol KPPI

Setelah membahas anggota, ayo kita membahas simbolnya. Dari jauh, mungkin lambang KPPI seperti lambang HIV/AIDS tapi berwarna biru. Lambangnya berbentuk pita (bukan seperti pita yang dipakai Minnie, tapi pita HIV/AIDS) yang kedua ujungnya adalah kuas dan mata pena (pulpen tinta yang biasa digunakan untuk menulis indah) seperti profesi yang ditekuni oleh para seniman di sini yaitu melukis dan menulis indah. Pita sendiri menggambarkan sebuah hubungan atau pengikat antar anggota. Jadi tidak ada hubungannya sama sekali dengan HIV/AIDS walaupun sekilas kelihatannya demikian, hubungannya hanya sekadar mirip saja.


Simbol yang digunakan menjadi cerminan akan kenyataan dalam kelompok ini. Mereka diikat oleh kegiatan melukis dan menulis indah yang ditekuni sehingga menjadi sebuah profesi resmi dan bahkan diakui oleh pemerintah. Kalau kita melihat ada acara yang menghadirkan pelukis karikatur untuk seorang tokoh, bisa jadi kita melihat salah satu seniman KELOMPOK PELUKIS PENULIS INDAH ini. Tidak jarang para seniman diundang untuk mengisi sebuah acara dan melukis seorang tokoh masyarakat.

Berbicara tentang melukis tokoh masyarakat dan kepedulian terhadap lingkungan yang telah saya sebutkan tadi, salah satu ciri khas dari seniman di sini adalah kepedulian mereka terhadap kondisi pemerintahan dengan membuat lukisan yang menggambarkan kritik ataupun opini terhadap pemerintah. Misalnya saat pemilihan gubernur Jakarta yang sempat memanas dan menjadi isu masyarakat, pelukis banyak menggambarkan persaingan pasangan calon gubernur 2012, Jokowi-Ahok dan Foke-Nara. Ada yang menggambarkan dengan karikatur dan tulisan percakapan yang lucu, ada yang menggambarkan bagaimana dua pasangan ini adu tarik tambang untuk memperebutkan posisi gubernur, dan lain sebagainya yang menunjukkan pendapat mereka sebagai masyarakat yang dituangkan dengan cara yang lebih kreatif dan menarik.

Dari olahan saya di atas, bisa disimpulkan bahwa KELOMPOK PELUKIS PENULIS INDAH menggunakan sistem yang sangat terbuka dan akibat interaksi yang berlangsung lama, gaya bicara para seniman menjadi lebih seragam dengan langsung ke pokok pembicaraan dan menggunakan Bahasa Indonesia yang dihiasi dengan logat dan argot Betawi. Nama komunitas ini pun sudah menjelaskan bahwa mereka disatukan oleh kesamaan profesi dan hobi sehingga fakor multikulturalnya lebih heterogen dibandingkan komunitas lainnya.

Kebanyakan anggota yang kami lihat dan kami observasi adalah laki-laki, sekali-kali ada wanita tapi terlihat bahwa posisinya adalah sebagai keluarga, bukan sebagai seniman yang bekerja di situ. Tapi ditilik balik dari sejarahnya, seniman di sana bermula dari seniman jalanan yang beroperasi di sekitar kali Pasar Baru, jadi bukan karena sentimen terhadap kaum perempuan. Apalagi jam kerja seniman yang amat sangat fleksibel karena kadang tanggung ketika mengerjakan sebuah lukisan atau lupa waktu saking serunya pada pekerjaan.

Tentang jam kerja, salah satu kelebihan wirausaha adalah menentukan sendiri jam kerjanya, jadi kadang ada yang baru datang siang atau malah meliburkan diri  untuk bersama keluarga. Walaupun disebut tempat wisata belanja seni, seorang pedagang minuman keliling yang biasa mangkal di daerah lapak KPPI mengatakan hari-hari KELOMPOK PELUKIS PENULIS INDAH justru lebih ramai pada hari-hari biasa daripada akhir pekan sehingga tidak heran banyak kios yang tidak diisi pelukisnya. Tidak hari libur reguler di sini, jadi jadwal kerja bisa diatur sendiri sesuai seniman yang ada di sana.

Ironis bagaimana sebuah komunitas yang jelas, terbuka, dan terletak di daerah umum masih jarang dikenali masyarakat. Bahkan tukang taksi yang biasa beroperasi di daerah Jakarta pun mengaku tahu di situ ada banyak pelukis, tapi tidak tahu ada komunitas resmi yang menaungi para pelukis di sana.



No comments:

Post a Comment

Post a Comment