Pages

Saturday, January 12, 2013

Kampung Cikondang, Surga Tradisional Orang Sunda


In Meilia Jim Vionna
11140110268
F1



Kampung Cikondang, salah satu kampung yang terletak di dalam Desa Lamajang, Kabupaten Pangalengan. Kampung Cikondang ini terletak 38 kilometer dari Bandung. Nama Cikondang sendiri dikarenakan mulanya daerah ini terdapat mata air yang dinamakan “Kondang”, sedangkan kata “Ci” berasal dari kata “Cai” yang berarti air.
            Kampung Cikondang adalah tempat yang indah, dimana pohon-pohon melimpah tinggi besar tertanam di sekitar Kampung Cikondang tidak hanya itu apabila kita menelusuri terdapat aliran-aliran air kecil yang ada disepanjang Kampung Cikondang. Sebelum memasuki Kampung Cikondang tersebut kita harus menerjang jalan-jalan yang berkelok-kelok dan sempit, selain itu apabila kita melihat ke arah kanan kita akan dihidangkan pemandangan, entah itu pepohonan, sawah dan lain-lain. Tidak heran apabila sepanjang daerah Kampung Cikondang terasa sangat dingin.
Pak Eka Mustika, keturunan kelima dari Mak Empu
            Menurut sumber, Eka Mustika Kampung Cikondang ini dibangun oleh leluhurnya. Leluhurnya pun tidak diperbolehkan diberi tahu namanya, bahkan hingga keturunan-keturunannya sendiri tidak ada yang mengetahui nama leluhur tersebut. Biasanya mereka menyebut Beliau dengan sebutan “Mak Empu”. Dalam pemilihan ketua untuk Kampung Cikondang juga terdapat berbagai syarat salah satunya berasal dari keturunan Mak Empu, sehingga yang menjadi ketua atau pemangku adat dalam Kampung Cikondang tidak boleh sembarangan. Apabila kita melihat masyarakat khususnya para lelaki Kampung Cikondang mereka menggunakan kain yang diikat dikepalanya dan hal itu sudah turun temurun sejak zaman dahulu. Pada dasarnya seharusnya Pak Eka lah yang menjadi pemangku adat Desa Cikondang, namun karena keadaan Pak Eka yang memiliki pekerjaan sehingga mau tidak mau pemangku adat tersebut akhirnya dilimpahkan ke saudaranya yang juga merupakan keturunan dari leluhur Mak Empu. Hingga sekarang terdapat lima kuncen yang menjaga Bumi Adat di Kampung Cikondang, antara lain Ma Empuh, Ma Akung, Ua Idil, Anom Rumya, dan Aki Emen.
"tik", gelas yang terbuat dari batok kelapa
            Kepercayaan yang dimiliki oleh masyarakat Kampung Cikondang adalah Islam. Masyarakat di sekitar Kampung Cikondang juga sangat memegang teguh budaya mereka. Dapat dilihat dari rumah adat Kampung Cikondang yang tidak diperbolehkan diisi barang-barang elektronik, seperti televisi, radio, listrik, dan lain-lain bahkan dalam memasak alat-alat yang digunakan pun masih menggunakan tradisional, yang dinamakan “hau” atau yang disebut tungku. Gelasnya pun juga berasal dari batok kelapa yang disebut “tik”,kita tidak dapat menemukan gelas yang terbuat dari kaca ataupun plastik seperti yang biasa kita temukan. Untuk penerangannya masyarakat Kampung Cikondang menggunakan lentera dan tidak menggunakan listrik.
            Dalam hal ini dapat dikaitkan dengan teori yang dinyatakan oleh Fong bahwa  Identitas budaya sebagai identifikasi komunikasi dari sistem perilaku simbolis verbal dan non-verbal yang memiliki arti dan yang dibagikan di antara anggota kelompok yang memiliki rasa saling memiliki dan yang membagi tradisi, warisan, bahasa dan norma-norma yang sama. Identitas budaya merupakan konstruksi sosial. Teori ini terkait dengan budaya yang dianut Kampung Cikondang, sehingga hal inilah yang menjadi bentuk dari identitas warga Kampung Cikondang. Tidak hanya dengan bahasa yang digunakan oleh masyarakat Kampung Cikondang yaitu bahasa sunda.
Bumi Adat
            Masyarakat Kampung Cikondang ingin agar budaya mereka tetap dilestarikan sehingga hal-hal yang berasal dari luar, seperti barang-barang elektronik, internet, dan listrik tidak dapat ditemukan di Kampung Cikondang.  Pada awalnya seluruh rumah yang ada di Kampung Cikondang tidak diperbolehkan menggunakan semen ataupun batu bata, rumah Kampung Cikondang berasal dari anyaman bambu dan atapnya berasal dari ijuk. Namun karena kebakaran besar yang terjadi di Kampung Cikondang dan Karang Tengah sehingga mau tidak mau  rumah yang diluar dari rumah adat diperbolehkan menggunakan semen, mengingat kayu dan ijuk yang sangat mudah terbakar. Kebakaran ini terjadi di tahun 1942.
             Hingga sekarang tidak ada yang mengetahui penyebab terjadinya kebakaran, ada yang menyebutkan dikarenakan adanya turis yang datang ke Kampung Cikondang karena sedang merokok, tanpa sengaja mengenai rumah adat Kampung Cikondang sehingga akhirnya menyulut api, ataupun terdengar kabar bahwa dulu Kampung Cikondang dijadikan sebagai tempat persembunyian tentara-tentara Indonesia dari Belanda, namun karena diketahui oleh Belanda akhirnya Kampung Cikondang dibumihanguskan oleh Belanda. Terdapat kurang lebih 60 rumah adat Kampung Cikondang terbakar akibat kebakaran tersebut.
suasana yang nyaman, layaknya rumah kampung biasanya
            Apabila kita masuk kedalam rumah adat Kampung Cikondang, hawa dingin akan terasa dalam rumah tersebut, mengingat musim hujan dan rumah Kampung Cikondang yang berasal dari anyaman bambu dan ijuk. Rumah adat Kampung Cikondang juga dinamakan dengan bumi adat. Bahkan rumah tersebut tidak pernah diubah sejak dahulu dan tidak pernah direnovasi, hal itu dianggap sebagai menjaga kelestarian budaya Kampung Cikondang. Ketika kita masuk kedalam rumah adat Kampung Cikondang terdapat larangan yang harus kita ingat bahwa kita tidak boleh menginjak pijakan yang ada di rumah adat. Saat di dalam rumah adat Kampung Cikondang pun tidak diperbolehkan duduk sembarangan, khususnya wanita tidak boleh mengangkat kaki, dan tidak boleh selonjoran, hal ini dianggap tidak sopan apabila duduk secara sembarangan maka dari itu biasanya masyarakat duduk dengan kaki dilipat ke belakang.
ruang tamu :)
            Didalam rumah adat Kampung Cikondang juga terdapat kamar yang tidak ditutup dengan pintu melainkan hanya dengan kain. Namun kamar tersebut tidak boleh dimasuki mengingat kamar tersebut adalah kamar dari hanom, juru kunci kampung Cikondang. Selain itu apabila kita melihat ke atas kita juga dapat melihat ruang, ruang tersebut yang menjadi tempat penyimpanan hasil tani masyarakat Kampung Cikondang. Hasil tani kampung Cikondang sebagian akan disimpan untuk digunakan sehari-hari,sebagai bahan “wuku taun” atau ulang tahun dan juga dijual. Peralatan-peralatan masak yang digunakan pun juga disimpan disekitar kayu-kayu yang dibuat masyarakat Kampung Cikondang. Mata pencaharian masyarakat Kampung Cikondang adalah pertanian, yang ditanam oleh masyarakat Kampung Cikondang adalah padi dan bawang.
yummy :)
            Tidak hanya itu di dalam rumah ada Kampung Cikondang kita dapat melihat berbagai jenis makanan khas Kampung Cikondang, setidaknya terdapat 45 macam makanan khas yang dimiliki Kampung Cikondang, yang terdiri dari opak, raginang, klontong, teng-teng, ampeang, dan lain-lain. Makanan khas kampung Cikondang tersebut biasanya disajikan untuk tamu-tamu yang datang berkunjung Kampung Cikondang.

                        Kamar mandi yang digunakan pun juga masih sangat sederhana, kamar mandi tersebut hanya dibalut dengan anyaman-anyaman bambu dan ijuk yang sama seperti digunakan untuk rumah adat Kampung Cikondang, lantainya pun hanya terbuat dari kayu. Tidak hanya itu, apabila kita melihat kebawah kita dapat melihat empang yang sangat luas. Empang tersebut lah tempat mengumpulnya kotoran tersebut. Walaupun sejenak terlihat kurang nyaman namun itulah yang digunakan oleh masyarakat Kampung Cikondang, airnya pun terasa sejuk menyentuh tangan. Namun satu hal yang telah diikuti masyarakat Kampung Cikondang adalah masyarakat tersebut menggunakan gayung untuk mengambil air.
Kamar mandi diatas empang 
            Masyarakat Kampung Cikondang sangat memegang teguh untuk menghargai satu sama lain. Sehingga terdapat larangan duduk selonjoran ini juga tidak diperbolehkan menghadap ke Selatan. Hal itu dikarenakan Selatan terdapat makam leluhur, sehingga dipercaya oleh masyarakat Kampung Cikondang sangat tidak sopan apabila kita menaruh kaki kita menghadap ke Selatan. “Sesama manusia yang masih hidup saja kita harus saling menghargai atau sopan maka dari itu hal ini juga harus diterapkan untuk orang yang sudah meninggal.” Kata Pak Eka selaku sekretaris dan pengurus Kampung Cikondang dan juga merupakan keturunan kelima dari leluhur. Tidak hanya itu ketika ingin buang air kecil ataupun buang air besar juga tidak boleh menghadap ke arah Selatan.
            Apabila kita ingin menuju ke makam leluhur kita harus melewati jalan-jalan yang sempit dan cara menuju ke pemakaman tersebut kita harus berjalan kaki, apabila memasuki kawasan Kampung Cikondang sangat jarang terlihat orang-orang yang menggunakan kendaraan. Kita juga harus melewati jembatan kecil yang terbuat dari bambu untuk menuju pemakaman tersebut. Makam-makam tersebut berada dalam sebuah rumah. Menurut Pak Eka rumah tersebut dibuat karena banyak masyarakat yang berasal dari Bandung maupun luar kota yang suka berziarah adapun juga memohon permintaan hingga terkadang masyarakat tersebut tidur di dalam makam tersebut tidak hanya semalam bahkan ada yang hingga dua sampai tiga hari. Ada hari-hari tertentu dimana masyarakat boleh berziarah yaitu hari Kamis, dan harus diatas jam 10 malam. Untuk masyarakat luar juga tidak boleh asal masuk ke dalam rumah makam tersebut karena sebelum masuk kita akan memasuki pagar yang dikunci tidak hanya itu rumah makam tersebut juga dikunci dan kunci tersebut dipegang oleh Hanom, juru kunci Kampung Cikondang.
Makam leluhur
            Di dalam rumah tersebut setidaknya kurang lebih ada 15 makam, makam-makam tersebut merupakan leluhur-leluhur ataupun keturunan dari leluhur tersebut. Tidak hanya itu rumah makam tersebut tidak hanya ada satu melainkan apabila kita jalan beberapa langkah lagi kita akan melihat rumah yang sama dengan berisi makam-makam leluhur. Sedangkan masyarakat-masyarakat Kampung Cikondang yang meninggal berada di sekitar rumah makam leluhur dan dibatasi dengan pagar yang terbuat dari bambu. Adapula larangan yang harus diingat oleh wanita yang sedang haid, tidak diizinkan untuk masuk kedalam rumah makam tersebut.
            Hal ini terkait dengan teori yang dinyatakan oleh E.B. Taylor. Ia berpendapat bahwa tumbuh dan berkembangnya sistem religi disebabkan oleh mimpi. Dari mimpi inilah kemudian menimbulkan kesadaran bahwa roh-roh yang telah meninggal (leluhur/karuhun) menempati tempat-tempat tertentu. Maka dari itu masyarakat Kampung Cikondang sangat menghormati orang-orang  yang telah meninggal.
            Adat tradisi pernikahan yang dimiliki oleh masyarakat Kampung Cikondang pun tergolong unik. Pertama kali dilakukan tukar cincin oleh masing-masing kedua belah pihak atau yang disebut dengan “naroteun” sekaligus ditentukan tanggal pernikahan yang baik untuk kedia belah pihak. Setelah itu, sebelum hari pernikahan dilaksanakan kegiatan “luluran” atau yang disebut dengan mandi kembang. Dan pada malam harinya diadakan kegiatan “ngeuyeuk sereuh”. Ngeuyeuk sereuh merupakan suatu istilah dalam kegiatan tersebut berisi kegiatan antara orang tua mempelai memberikan petuah- petuah kepada calon mempelai untuk dilaksanakan nanti ketika menjadi suami istri. Petuah–petuah tersebut berisi hal–hal atau amanat yang harus dilaksanakan ketika menjadi suami istri. Nantinya akan diberikan pinang dan didalamnya berisi baju–baju dan lain–lain. Nantinya barang-barang yang ada di dalam akan dijelaskan maknanya satu persatu mengapa barang tersebut diberikan kepada calon mempelai. Adapula “ngalengeuh”, yaitu kegiatan menumbuk padi yang dipukul-pukul dalam lambung menggunakan lesung secara sukarela oleh masyarakat sekitar dan dijadikan sebuah irama, sambil menumbuk padi untuk disediakan kepada tamu yang datang. Keesokan harinya diadakan lah kegiatan seserahan. Dimana calon mempelai pria memberikan seserahan kepada calon mempelai perempuan, dan diadakan di rumah calon mempelai perempuan. Hingga setelah itu diadakannya acara angkat nikah. Seminggu kemudian setelah diadakan acara pernikahan diadakan kegiatan “lumasan”.
            Di Kampung Cikondang terkenal pula dengan sebutan hutan terlarang. Ketika memasuki hutan tersebut masyarakat diharuskan melepaskan sendal atau alas kaki. Hutan tersebut juga hanya boleh didatangi hari tertentu, yaitu pada hari Senin, Rabu, Kamis dan Minggu, Namun ditekankan untuk datang pada hari Kamis. Selain itu hari Sabtu tidak diperbolehkan untuk berziarah dan masuk kedalam hutan terlarang. Di dalam hutan terlarang tersebut juga tidak diperbolehkan sembarangan, maka dari itu disebut dengan hutan terlarang. Hutan terlarang juga hanya boleh dimasuki pada saat setelah duhur, yaitu setelah jam 12.
            Terdapat semacam ritual yang dilaksanakan oleh masyarakat Kampung Cikondang setiap tanggal 15 Muharam. Ritual tersebut dinamakan uku taun atau yang berarti ulang tahun. Uku taun tersebut dilaksanakan satu tahun sekali. Ritual tersebut dilaksanakan setiap tanggal 15 Muharam karena menurut agama Islam terdapat berbagai macam kejadian, contohnya Nabi Adam, manusia yang tinggal pertama kali di bumi diampuni dosanya pada saat bulan Muharam, kejadian Nabi Nuh yang ketika semua orang tenggelam karena banjir dan Beliau selamat karena telah dititahkan membuat kapal. Hal tersebut lah yang dimaknai oleh masyarakat Kampung Cikondang sebagai syukuran kepada ALLAH SWT dan juga atas terima kasih diselamatkannya Nabi Nuh, Nabi Musa dan lain-lain. Bentuk syukuran tersebut terdiri dari membuat tumpeng sebanyak 200 buah, nah nantinya tumpeng tersebut akan dimakan bersama-sama dan dibagikan kepada tetangga. Dan biasanya syukuran tersebut juga didatangi oleh camat, Bupati, dan Gurbenur Bandung.
Petunjuk Jalan :)
             Walaupun adat kebudayaan masyarakat Kampung Cikondang sangat dalam namun Pak Eka memberikan makna bahwa adat seperti itu jangan dikaitkan dengan hal-hal mistis, yang dimaksud adalah ketika beredar kabar bahwa ada seseorang menginjak sesajen yang ada di Kampung Cikondang maka yang terjadi  menimpa orang tersebut  ia mengalami kecelakaan dan cacat seumur hidup. Menurut Pak Eka, hal tersebut terkait dengan kepercayaan, ketika seseorang secara sengaja menginjak sesajen hal tersebut sama halnya berarti bahwa ia tidak sopan, padahal masyarakat Kampung Cikondang sangat  memegang teguh kesopanan dan menghargai satu sama lain. Pak Eka juga menambahkan sama halnya apabila ketika ada seseorang yang secara tidak sengaja menginjak sesajen apakah akan terjadi hal yang sama, itu kan tidak masuk akal. Maka dari itu Pak Eka juga sembari mengingatkan ketika kita berada di Kampung Cikondang kita juga harus bertanya mengenai apa yang dilarang di sekitar Kampung Cikondang tersebut, bukan masalah hal-hal mistis melainkan lebih ke arah tata cara kesopanan bagaimana seharusnya kita bertindak di daerah yang belum pernah didatangi atau daerah yang adat istiadatnya sangat kental seperti Kampung Cikondang. Selain itu Pak Eka telah membuat sebuah buku yang ditulis dalam bahasa sunda, yang nantinya dapat dibaca oleh masyarakat ataupun mahasiswa yang ingin mempelajari lebih dalam mengenai kampung Cikondang.
Thank you ! ;)




No comments:

Post a Comment