Pages

Saturday, January 5, 2013

Cintailah Budaya Kita, Budaya Betawi


Nama   :           Stefanny Nadhia
Kelas   :           G1
NIM    :           11140110174






Layaknya sebuah pelangi penuh perbedaan warna yang menjadi satu kesatuan, Indonesia merupakan salah satu negara pemilik kepulauan terbesar di dunia yang memiliki keindahan tersebut. Perbedaan warna yang ada mampu mengisi kehidupan di dalamnya. Lalu, dari perbedaan warna tersebut, secara resmi telah bergabung menjadi satu kesatuan untuk membentuk sebuah negara yang demokrasi. Salah satu dari warna tersebut adalah suku bangsa yang terlahir dengan berbagai kebiasaan tradisional peninggalan nenek moyang yang dilakukan secara berkala pada masa selanjutnya dan berlanjut menjadi suatu kebudayaan masyarakat sekitar. Kebudayaan yang dihasilkan tentu saja mampu memberikan keunikan tersendiri pada tiap suku.
Keberagaman suku bangsa yang berada di wilayah Indonesia telah tercatat sebanyak 1.128 jiwa oleh Badan Pusat Statistik (BPS) ini terlahir dengan keunikan budaya masing-masing. Adat istiadat, tarian, makanan, tradisi, bahasa, kepercayaan, dan lain-lain menjadi bumbu pelengkap dalam bentuk gagasan dan karya baik fisik maupun non fisik dari keindahan yang diperlihatkan setiap suku bangsa pada negara lain tentang kekayaan budaya atas perbedaan yang ada. Dengan keberagaman suku bangsa yang mengandung berbagai macam bahasa, budaya, dan lain-lain dan dapat bergabung menjadi satu secara rukun, hal ini dapat menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi Indonesia di kancah internasional bukan?
Dari sekian banyak suku bangsa di Indonesia dengan kebudayaan mereka, ketertarikan saya telah jatuh pada suku Betawi yang mana diketahui bahwa suku Betawi merupakan suku asli yang identik dengan keberadaan kota metropolitan Jakarta. Maka, saya memutuskan untuk observasi ke Kampung betawi Setu babakan yang nyaman dan sejuk ini. Tak cukup hanya sampai di situ saja kertertarikan saya selama melakukan observasi di Kampung Budaya Betawi Setu Babakan ini. Dengan melakukan observasi yang saya lakukan selama 3 hari ini, saya dapat mengenal lebih dalam tentang kota di mana saya dilahirkan dan dibesarkan dengan baik. Suatu perasaan senang yang cukup sulit di ungkapkan dengan kata-kata.


Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan merupakan sebuah perkampungan di Jakarta Selatan yang tumbuh dan berkembang dengan kebudayaan tradisional khas Betawi. Kampung ini telah dilindungi oleh Pemerintah Daerah Propinsi DKI Jakarta. Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan kawasan kota administrasi Jakarta Selatan kecamatan Jagakarsa ini berawal dari tanah seluas  sekitar 165 hektar itu kini telah diperluas hingga 289 hektar sesuai dengan Perda nomor 3 tahun 2005, ditambah lagi dengan 4 titik arah yang mengapit kampung. Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan ini telah dibangun pada Oktober 2000 dan diresmikan secara sah pada tanggal 20 Januari 2001 oleh mantan gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso.
Lingkungan yang masih asri, udara sejuk dan jauh dari pusat perkotaan ditambah lagi dengan permukiman penduduk suku Betawi dan ketersediaan lahan oleh PEMDA sebagai fasilitas tambahan berupa 2 danau atau setu, yaitu Setu Babakan dan Setu Mangga Bolong yang pada akhirnya lokasi ini dipilih untuk menjadi tempat dibangunnya Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan. Pembangunan rumah-rumah adat khas Betawi dibangun pada pertengahan Oktober 2000. Dahulu sebelum dijadikan sebagai tempat wisata kebudayaan, perkampungan ini hanyalah tanah kosong untuk lahan perkebunan warga.
Angin sepai-sepoi dan suasana bersahaja membuat para pengunjung yang datang merasa nyaman untuk sekedar melepas penat akibat kemacetan pusat kota dan rutinitas di kota metropolitan yang keras. Pengunjung dapat menikmati nuansa budaya Betawi yang mengelilingi kampung ini dengan berbagai ornamen, souvenir, makanan khas, dan berbagai fasilitas penunjang. Wilayah wisata Perkampungan Budaya Betawi ini terbuka untuk umum setiap harinya mulai dari pukul 09.00 hingga 17.00 WIB.
Ditambah lagi dengan banyaknya acara-acara kesenian budaya Betawi yang semakin memperkental nuansa khas di area perkampungan tersebut. Acara kesenian budaya Betawi dilakukan secara rutin setiap minggu. Di setiap tahunnya, Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan mengadakan berbagai atraksi untuk menghibur pengunjung dan memberikan pelajaran budaya khas dari Betawi. Acara-acara yang ditampilkan bukan acara dari sanggar-sanggar yang asal mau tampil. Biasanya acara-acara kesenian yang akan ditampilkan dalam pementasan telah diisi dari berbagai sanggar yang sudah terdaftar dalam Sub-Din DKI Jakarta dan memiliki sertifikat resmi. Sanggar yang ditampilkan dalam setiap acara tidak terbatas dari Jakarta Selatan saja. Daerah lain tentu boleh mengisi acara yang ada selama telah mengikuti persyaratan yang ditentukan dari pihak pengelola.
Dengan bantuan Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, di tahun 2012, pengelola mampu mengadakan Festival Budaya Betawi untuk memperkenalkan budaya khas yang dimiliki oleh perkampungan ini kepada masyarakat luas. Pada Mei 2012, perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan mengadakan Gebyar Budaya dengan mengadakan berbagai macam lomba yang dapat diikuti oleh pengunjung dan penduduk sekitar. Berkat berjalannya Festival ini di tahun 2012, acara kembali diadakan dengan proses Ngarak Sunat sebagai tindak lanjut dalam memperkenalkan kebudayaan Betawi lebih dalam kepada masyarakat.
Perkampungan Budaya Betawi juga menyediakan fasilitas wisata air bagi para pengunjung. Seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya, terdapat dua danau atau setu yang menjanjikan para pengunjung untuk menikmati sekeliling perkampungan dengan mengendarai sepeda air yang berbentuk bebek, perahu naga yang biasanya digunakan untuk olahraga kano, dan permancingan. Dengan harga Rp. 5000, saya dan teman-teman dapat menikmati perkampungan lewat jalur air menggunakan perahu naga. Kesempatan menaiki perahu naga ini merupakan hal yang paling menyenangkan bagi saya. Semoga saya dan teman-teman dapat menaiki perahu naga ini di lain waktu dan kembali membuat kenangan bersama.

Perahu Naga
 Bagi pengunjung yang asik menikmati acara dan fasilitas yang tersedia di perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan ini tidak perlu khawatir lagi dengan kendaraan yang mereka bawa. Hanya dengan Rp 5.000 saja, para pengunjung dapat dengan tenang meninggalkan kendaraan mereka dan menikmati semua fasilitas yang disediakan pengelola. Namun, Ibu Irma Ryanti selaku staff pengelola Perkampungan Betawi Setu Babakan ini, masih sering mendengar keluhan dari banyak pengunjung tentang penarikan tarif parkir. Apalah artinya Rp. 5000 dibanding dengan harga kendaraan yang hilang dicuri penjahat?
Selain fasilitas pendukung seperti perahu naga yang menjadikan observasi saya layaknya liburan, keberagaman suku yang bermukim di Perkampungan Betawi ini juga menarik perhatian saya. Perbedaan yang ada diantara mereka bagaikan sebuah warna yang berbeda dan bergabung menjadi sebuah pelangi indah. Di mulai dari suku yang terdapat di Sabang hingga Merauke telah bermukim di kampung ini. Presentasi jumlah penghuni di kampung tersebut terdiri dari 60 persen suku betawi dan 40 persen pendatang yang datang dari suku di luar betawi.
Dari perbedaan suku yang ada, tentu diikuti dengan kepercayaan dan penggunaan bahasa yang beragam. Tidak semua penduduk Perkampungan Betawi Setu Babakan menganut agama islam karena masih terdapat keempat agama resmi lainnya yang dianut oleh masyarakat setempat. Seperti yang dikutip dari buku Komunikasi Lintas Budaya Edisi 7 bahwa semua agama mengajak pengikutnya untuk "menghidupi agamanya," karena inti agama adalah meyediakan petunjuk mengenai bagaimana untuk memperlakukan orang lain dan memperoleh kedamaian. Dari kutipan tersebut, kita dapat melihat perbedaan agama yang dianut para penduduk Kampung Betawi Setu Babakan tidak menjadi penghalang untuk hidup rukun dan saling menghormati apabila salah satu di antara mereka sedang merayakan hari raya keagamaan. 
Musholla di Kampung Betawi Setu Babakan
 Begitu pula dengan bahasa yang dipergunakan. Bahasa yang dipergunakan tidak hanya terpaku pada satu bahasa saja, bahasa betawi. Hanya penduduk yang sudah lanjut usia saja yang tetap teguh menggunakan bahasa Betawi dan sedikit kesulitan berbicara dalam Bahasa Indonesia. Menurut Ibu Irma, penggunaan bahasa yang secara umum digunakan oleh penduduk sekitar adalah bahasa Indonesia. Perbedaan dialek dapat dimaklumi oleh masing-masing penduduk.
Sejauh ini, keragaman yang terdapat di dalam perkampungan tidak pernah memercikkan api konflik antar suku karena didukung oleh keselarasan dan toleransi yang dimiliki oleh masyarakat sudah sangat tinggi. Keselarasan dan toleransi antar penduduk dari perbedaan yang ada patut untuk dijadikan sebuah contoh kongkrit bagi berbagai macam suku bangsa yang tinggal dalam satu perkampungan, sehingga tidak menimbulkan konflik yang dapat mengakibatkan jatuhnya korban jiwa yang tidak berdosa. Penduduk Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan memiliki kesadaran tinggi untuk menghormati perbedaan yang ada antar satu sama lain tanpa memperdulikan asal usul atau latar belakang dari tiap individu. Rasanya indah bukan apabila perbedaan tersebut menciptakan sebuah kenyamanan tersendiri bagi diri maupun orang lain yang tinggal dan merasakannya.
Selain itu, penduduk Kampung Budaya Betawi Setu Babakan sudah terbiasa dengan datangnya pengunjung yang biasanya hanya sekedar berkunjung maupun melakukan observasi seperti saya dan teman-teman dari kelas antarbudaya. Selain saya dan teman-teman, ternyata banyak kaum mahasiswa/i lain yang melakukan observasi antarbudaya untuk mendalami kebudayaan asli Jakarta yang kian lama kian memudar akibat pergeseran jaman modern dengan masuknya percampuran budaya barat dengan budaya Indonesia.
Selain mengadakan observasi, banyak diantara para pendatang yang bermukim beberapa hari untuk mendalami aktivitas sehari-hari masyarakat serta budaya yang dilindungi oleh penduduk perkampungan ini. Pendatang tersebut bukan hanya datang dari luar daerah Jakarta saja, tetapi pendatang luar negeri (turis) juga tertarik untuk mempelajari kebudayaan Betawi ini dan mengikuti berbagai macam lomba yang diadakan pengelola wisata. Hayoo, turis saja tertarik untuk belajar dan mengenal lebih dalam budaya Betawi yang kita miliki di Indonesia ini. Bagaimana dengan kalian?
Perkampungan budaya Betawi Setu Babakan ini telah memfasilitasi para pengunjung yang ingin melakukan home stay di perkampungan tersebut dengan rumah adat sebanyak 67 unit yang telah siap untuk ditinggali. Dengan adanya fasilitas ini, para pegunjung yang berkeinginan untuk menginap tidak perlu pusing lagi memikirkan lokasi di mana mereka singgah.
Berbicara mengenai budaya betawi tidak lengkap apabila tidak membahas makanan yang bikin perut berkumandang memanggil minta diisi, pakaian adat khas yang memberikan ciri khas, rumah adat, dan kesenian. Dari sekian banyak kesenian khas budaya betawi, Gambang Kromong termasuk salah satu dari kesenian budaya akulturasi dari budaya Betawi dan China yang paling terkenal. Hal ini dikarenakan kesenian Gambang Kromong ini dapat dipadukan dengan musik modern yang lebih digandrungi remaja masa kini dan dapat memberi kesan baru dalam alunan musik yang tercipta. Tidak hanya dimaikan oleh kalangan usia paruh baya, kesenian Gambang Kromong ini juga dapat dimainkan oleh anak-anak yang menginjak bangku pendidikan Sekolah Dasar. Sedangkan, Tanjidor berbanding terbalik dengan kesenian Gambang kromong. Kesenian Tanjidor hasil dari pencampuran budaya Betawi dan Eropa ini dianggap sebagai salah satu kesenian yang langka dikarenakan permainan tidak dapat dikolaborasikan dengan alunan nada musik lain dan terkesan kuno untuk telinga masyarakat modern. Tetapi, dibalik itu semua, sebelum kesenian ini diklaim negara lain atau telah hilang dari peredaran, sebaiknya sebagai kaula muda generasi baru harus berusaha melestarikan kesenian ini.

Gambang Kromong
 Bicara mengenai kebudayaan betawi, bicara mengenai boneka ondel-ondel yang tidak pernah ketinggalan dan menjadi mascot atau icon tersendiri bagi kebudayaan ini. Ondel-ondel memiliki cerita sendiri mengenai asal-usul penciptaannya. Berawal dari boneka orang-orangan sawah yang di bentuk untuk tujuan mengusir burung pemakan gabah yang kemudian seiring waktu di kembangkan. Selain, bertujuan mengusir burung pemakan gabah, boneka orang-orangan ini juga dipercaya memiliki kekuatan untuk mengusir roh jahat yang menganggu kehidupan masyarakat sekitar dan dipergunakan juga untuk acara pesta panen sebagai rasa syukur masyarakat terhadap hasil panen yang melimpah. Seiring perkembangan zaman, boneka orang-orangan berevolusi menjadi ondel-ondel yang kemudian dimodifikasi dengan berbagai hiasan dan warna untuk hiasan panggung.

Ondel-Ondel
 Selain ondel-ondel, baju daerah kebaya dan demang Betawi identik dengan kesenian budaya betawi. Pada observasi kali ini, saya berkesempatan mencoba baju kebaya none yang diperuntukan untuk perempuan usia muda yang biasanya dipakai untuk kontes Abang None DKI Jakarta. Menurut saya, bahan dari kain yang digunakan memberikan efek panas saat dikenakan dan hal itu membuat saya tidak nyaman untuk berlama-lama mencoba pakaian daerah Betawi ini. Ditambah dengan perhiasan berwarna emas mengkilap dan warna pakaian yang terlalu berani membuat saya tidak percaya diri untuk diambil gambarnya oleh teman-teman yang mengorbankan saya untuk menjadi model sesaat.
Penggunaan warna pada pakaian adat Betawi tentu saja menyatakan identitas yang dimiliki budaya satu ini pada orang lain. Warna yang digunakan pastilah warna-warna berani dan cerah seperti merah (seperti yang saya gunakan), kuning (sebagai warna yang mengidentikan budaya Betawi yang ceria), hijau (warna yang mengidentikan budaya Betawi yang membawa kesejukan), dan warna-warna mencolok lainnya. Namun, dibalik itu semua, saya mendapatkan pengalaman baru dalam mengenakan pakaian adat khas Betawi ini.

Kebaya None
 Si ayang pun ikut mencoba pakaian khas daerah Betawi, yaitu demang betawi atau jas ujung serong berukuran besar. Terdapat aksesoris rantai dengan ujung gading yang saat ini sulit untuk ditemukan. Ditambah dengan blangkon dan kain yang terikat kuat dipinggangnya. Ia bergaya layaknya abang yang sedang berada di panggung kontes Abang None DKI Jakarta.

Jas Ujung Serong atau Demang Betawi
 Keragaman dan identitas budaya yang dimiliki individu berbeda-beda di sana berpadu dengan beragam gesture (komunikasi nonverbal) khas betawi yang low contact (ceplas-ceplos). Namun, tidak semua orang kebudayaan betawi memiliki dialek dan ciri bahasa yang sama. Hal ini tergantung dari wilayah di mana penduduk tinggal. Contohnya seperti di Parung dan Bekasi yang menggunakan bahasa betawi norak. Untuk penduduk di perkampungan budaya betawi Setu Babakan yang terhitung daerah pinggir, mereka umumnya menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi.
Sepanjang perjalanan, saya dan teman-teman menemukan banyak sekali makanan khas Betawi yang mengiurkan dan patut untuk dicicipi satu per satu. Dari sekian makanan yang saya nikmati, saya tertarik dengan sejarah dari ditemukannya bir pletok. Biasanya mendengar kata bir, secara umum orang akan berpikir bahwa ada kemungkinan bahwa minuman ini mengandung alkohol yang dapat memabukkan peminum. Padahal, bir pletok khas Betawi ini dapat dipastikan tidak ada kandungan alkohol di dalamnya. Minuman bir pletok ini diolah dengan berbagai macam bahan seperti jahe, kayu manis, secang, kapulaga, pala, cabe jawa, lada hitam, cengkeh, daun pandan, batang sereh, ditambah gula dan garam untuk memberi rasa gurih pada minuman. Dilihat dari bahan-bahan yang digunakan, tentu kita dapat menebak khasiat dari minuman bir pletok untuk menghilangkan pegal-pegal.

Bir Pletok
 Selain itu, kekenyalan makanan dodol khas betawi juga menyita perhatian saya apalagi dengan cara pembuatannya. Saya dan teman-teman mencoba untuk mengaduk dodol yang masih dimasak dalam kuali besar dan di aduk dengan dayung kayu besar. Mengaduknya membutuhkan kesabaran ekstra karena adonan dodol akan diaduk selama 7 jam dengan api panas dari kayu bakar. Berat, tapi menyenangkan untuk mencobanya.

Proses pengadukan Dodol
 Selama 3 hari observasi ini, saya mendapatkan pelajaran dan pengalaman berharga yang sulit saya temukan di kampung lain. Suasana nyaman yang diciptakan dari penempatan daerah secara strategis ditambah dengan fasilitas penunjang membuat observasi saya layaknya liburan bersama teman-teman.

No comments:

Post a Comment