Pages

Friday, January 11, 2013

Warna- Warni Keraton Kasepuhan Cirebon

Nama  : Novi Wati

Nim    : 11140110209

Kelas   : B1




Keraton Kasepuhan berada di Cirebon, sebuah kota di Jawa barat, dengan populasi 298 juta jiwa. Sebelum membahas Keraton Kasepuhan lebih lanjut, mari kita lihat terlebih dahulu kota pelabuhan di jalur pantura ini. Cirebon dijuluki kota udang karena wilayahnya yang berada di dekat laut dan kaya akan hasil lautnya. Udang ebi, kerupuk udang, terasi, rengginang, manisan mangga merupakan makanan khas dari Cirebon yang menjadi oleh - oleh yang selalu diincar wisatawan saat berkunjung ke Cirebon. Saat melintasi Cirebon kita bisa melihat Becak, yang jadi sarana transportasi khas di sini. 

Cirebon merupakan wilayah pelabuhan penting di Jawa Barat, karena itulah  interaksi dengan berbagai budaya lain tidak terelakkan, Cirebon merupakan tempat bertemunya berbagai budaya, agama dan antar bangsa. Hasil interaksi tersebut dapat terlihat nyata dari keseniannya, penduduknya bahkan arsitektur kota Cirebon. Dari kesenian Topeng Cirebon misalnya, terlihat dari bentuk – bentuk visualnya sangat terpengaruh dengan budaya China. Bentuk hiasan rambut dan topeng yang digunakan Topeng Cirebon mirip dengan yang digunakan pada Opera Peking. Penduduk yang tinggal di Cirebon terdiri dari etnis Sunda, Jawa, Cina, Arab, India dll. Dalam penggunaan bahasa, karena konsekuensi letaknya sebagai perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah, warga Cirebon menggunakan bahasa Jawa dan mahir berbahasa Sunda.      
                                                                           
 Hibriditas Cirebon merupakan konsekuensi nyata dari peristiwa historis nya. Perpaduan dengan budaya leluhur asli Cirebon membentuk identitas budaya Cirebon sekarang ini. Karena itulah berbeda dengan budaya daerah lain, budaya Cirebon bagaikan pelangi dengan sentuhan berbagai warna. Untuk melihat pengaruh akulturalisme berbagai budaya di Cirebon, saya memilih untuk mengunjungi Keraton Kasepuhan Cirebon.

Keraton Kasepuhan yang dibangun sekitar tahun 1529 sebagai perluasan dari Keraton tertua di Cirebon, Pakungwati, yang dibangun oleh Pangeran Cakrabuana, pendiri Cirebon pada 1445. Keraton Pakungwati terletak di belakang Keraton Kasepuhan. Pangeran Cakrabuwana merupakan putra mahkota Pajajaran yang akhirnya memisahkan diri karena memeluk agama Islam. Beliau memiliki keponakan yang bernama Sunan Gunung Jati atau Syarief Hidayattulah, yang akhirnya menjadi Penguasa pertama Keraton Kasepuhan (dulunya Dalem Agung Pakungwati). Sunan Gunung Jati merupakan salah satu dari Wali Songo. Sunan Gunung Jati bertugas menyebarkan agama Islam  di daerah Cirebon dan sekitarnya.

Keraton kasepuhan terletak di Jalan Lemahwungkuk dekat dengan Pelabuhan Cirebon. Pertama kali masuk kawasan keraton kita akan melihat pasar yang diisi dengan lapak barang dagangan. Saat sampai di depan Keraton Kasepuhan, kita dapat langsung melihat pendopo dengan bata merah yang merupakan khas majapahit. Kawasan pendopo tersebut bernama Siti Inggil. Sayang sekali pada saat kami kesana area ini sedang direnovasi sehingga saya tidak bisa masuk kesana, tapi saya berhasil mendapatkan foto dari jarak dekat.


Siti Inggil

Siti Inggil berasal dari kata Siti = tanah, Inggil = tinggi (dari bahasa Cirebon). Siti inggil dikelilingi tembok bata merah yang disusun menggunakan kuning telur. Dinding bata merah juga mendominasi arsitektur keraton yang lain. Di dalam Siti Inggil terdapat 5 buah bangunan tanpa dinding (seperti pondok lesehan) beratap sirap. Setiap bangunan tersebut memiliki ciri dan fungsi yang berbeda satu sama lain.

            Setiap orang yang berkunjung ke Keraton Kasepuhan harus mendaftar terlebih dahulu dan membayar Rp 5000 sebagai tiket masuk,  apabila kita membawa kamera maka akan dikenakan biaya tambahan sebesar Rp 2000. Setiap kelompok wisatawan yang datang akan ditemani oleh seorang pemandu, yang nantinya kita beri uang tips  terpisah. Saya mendapat pemandu bernama Pak Ferry, orangnya ramah dan sabar menjawab setiap pertanyaan saya.

            Nah akhirnya mulailah perjalanan saya menjelajahi Keraton Kasepuhan. Cuaca siang itu cukup terik walaupun lingkungan Keraton termasuk kawasan yang hijau dan banyak tumbuh pepohonan. Melewati gapura utama, disisi kiri saya terbentang sebuah lapangan berumput yang sekarang dijadikan tempat parkir bagi keluarga dan tamu Sultan. Lapangan ini disebut Kemandungan. Di lapangan ini terdapat sebuah sumur, yang bernama sumur Kemandungan, dulu sumur ini digunakan untuk mencuci senjata alat perang setiap tanggal 1- 10 Muharam.

Kemudian saya berjalan masuk dan melewati sebuah pintu dengan teralis besi, dulunya pintu ini dijaga oleh 2 orang prajurit bertombak. Konon katanya jika ada yang masuk akan diperiksa dengan suara menggeledeg seperti petir karena itulah pintu ini dinamai pintu geledegan.
            Melewati pintu Geledegan di hadapan saya terdapat sebuah taman yang apik. Dan terdapat petunjuk di tengah taman tersebut. Pak Ferry mengajak saya pergi ke arah kanan untuk memasuki Musium Barang Kuno. Sayang sekali tempat ini juga sedang direnovasi, sehingga barang- barang peninggalan Keraton tidak dapat saya lihat semuanya. Suasana di ruangan itu cukup berantakan dan berdebu. Karena selama renovasi seluruh barang- barang kuno tersebut disatukan ke pojok ruangan.
 Beberapa hal yang bisa saya lihat merupakan etalase kaca yang didalamnya adalah peninggalan dari Putri Ong Tien Nio, yang merupakan istri ketiga dari Sunan Gunung Jati dan berasal dari China. Mereka bertemu pada saat Sunan Gunung Jati melakukan perjalanan ke China untuk menyebarkan agama Islam. Putri Ong Tien Nio jatuh hati pada Sunan Gunung Jati.  Kaisar Hong Gie yang adalah ayah dari putri Ong Tien menguji kesaktian Sunan Gunung Jati dengan bertanya siapakah yang hamil antara putri Ong Tien dan kakaknya.  Sunan Gunung Jati menebak putri Ong Tien hamil dan ditertawakan oleh pembesar kerajaan, karena perut Ong Tien hanya dilapis dengan tempayan beras dari Kuningan. Tapi seketika keajaiban terjadi dan putri Ong Tien saat itu berteriak karena tiba- tiba tempayan yang ada di perutnya hilang dan ia benar- benar hamil. Untuk menghindari malu Kaisar akhirnya merelakan putri Ong Tien yang tengah hamil untuk menyusul pujaan hatinya ke cirebon. Putri Ong Tien melewati perjalanan laut yang panjang dengan melewati laut Cina Selatan dan Laut Jawa dengan membawa keramik, porselen, piring, dan barang-barang khas Cina lainnya

Akhirnya putri Ong Tien menjadi istri Sunan Gunung Jati dan menorehkan sejarah sebagai perempuan asing yang berhasil melebur kedalam lingkungan Kesultanan Cirebon. Karena itu budaya China sangat terlihat pada arsitektur Keraton Kasepuhan. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan Samovar dalam bukunya Komunikasi Lintas Budaya bahwa identitas dipertahankan dan dimodifikasi melalui interaksi sosial. Walaupun Keraton Kasepuhan yang dulunya bernama Dalem Agung Pakungwati bercorak Hindu, tapi lewat hubungan yang terjalin antara Sunan Gunung Jati dan Putri Ong Tien Nio, identitas tersebut termodifikasi dan menjadi identitas yang baru.

Dalam etalase kaca peninggalan putri Ong Tien terdapat tiga benda yaitu Graken untuk menyimpan Jamu, cermin, dan Peti Kandaga Suasa untuk menyimpan perhiasan. Di samping etalase tersebut  terdapat Gamelan Sekaten persembahan dari Sultan Demak ke 3 (Sultan Trenggono) pada waktu pernikahan adik Sultan  Trenggono dengan putra Sunan Gunung Jati pada tahun 1495. Gamelan ini juga digunakan sebagai alat propaganda untuk memikat orang Hindu agar masuk Islam. Sampai sekarang gamelan ini masih dimainkan setiap Idul fitri dan Idul Adha di Siti Inggil.

Tidak jauh dari Gamelan Sekaten terdapat etalase kaca lain yang isinya Pagoda Graken, mangkok besar dan kendi keramik dari Mongolia dinasti Ming, cangkir dari Cina , semua berasal dari tahun 1424. Dari sini kita dapat lihat hubungan baik yang dijalin oleh Keraton dengan China. 

Tidak banyak memang yang bisa dilihat di musium Benda kuno kali ini. Akhirnya saya berpindah menuju bangsal keraton. Di depan Bangsal Keraton terdapat bangunan depan yang bernama Jinem Pangrawit dan teras yang disebut “kuncung (poni)”. Teras ini bergaya Eropa dan terdapat corak Awan Mega Mendung ,yang merupakan khas Cirebon dan merupakan pola batik Cirebon. Seperti yang diungkapkan Samovar dalam bukunya Komunikasi Lintas Budaya, bahwa simbol merupakan ekspresi yang mewakili atau menandakan sesuatu hal yang lain. Awan Mega Mendung memiliki arti bahwa jika sudah menjadi pimpinan harus bisa mengayomi rakyatnya. Ada yang unik dari dinding Jinem Pangrawit, terdapat keramik yang disusun belah ketupat dengan lukisan yang dibuat dengan tangan. Keramik ini merupakan pemberian dari Belanda. 



Corak Awan Mega Mendung dan sentuhan Eropa

Untuk memasuki Bangsal Keraton kita melewati pintu unik yg penuh dengan hiasan piring yang bernama Buk Bacem. Diberi nama Buk Bacem karena atapnya berbentuk dinding lengkung (buk), dan pintunya yang direndam ramuan terlebih dahulu(dibacem). Piring- piring yang menempel di Buk Bacem sangat spesial karena dibawa dari Tiongkok oleh putri Ong Tien. Pintu Buk Bacem merupakan bukti bahwa Keraton Kasepuhan melakukan akulturasi dengan memasukkan budaya China di dalamnya tanpa melupakan kebudayaan asli Cirebon. 

Melewati Buk Bacem, terdapat Langgar Alit, yang merupakan tempat belajar mengaji dan Tadarus. Memasuki bangunan, akhirnya mulai terasa suasana Keraton sesungguhnya. Saya gembira karena saya berada di tempat historis yang sudah berdiri selama kurang lebih 600 tahun. Ruangan yang saya masuki semuanya memiliki nama masing- masing. Ada lukisan besar yang menangkap perhatian saya, pak Ferry pun membimbing saya untuk melihat lebih dekat. Ternyata lukisan tersebut adalah sosok Prabu Siliwangi yang merupakan kakek dari Sunan Gunung Jati. Beliau dulu merupakan seorang Hindu tapi kemudian menjadi mualaf dan memisahkan diri dari kerajaannya, Pajajaran. Lukisan ini dibuat dengan tehnik tinggi dan terlihat nyata, bahkan mata dan kaki Prabu seakan mengikuti dimanapun kita berpindah. Di sebelahnya terdapat partisi yang berisi foto – foto keraton dan peta Cirebon. Ada juga foto dari Sultan saat ini, yaitu Pangeran Arif Natadiningrat, beliau merupakan Sultan Sepuh ke-XIV.

Pak Ferry kemudian memberi tahu saya, kalau ruangan tempat kami berada ternyata miring. Saya mundur untuk melihat lebih jelas apa yang dimaksud pak Ferry. Ternyata memang benar, pak Ferry mengatakan ada maksud dibalik bentuk tersebut. Ternyata hal ini dipengaruhi feng shui  bahwa pintu depan tidak boleh lurus dengan pintu belakang, karena rejeki akan lewat begitu saja. Tapi jika miring maka rejeki akan berputar dan baru keluar, sehingga tidak boros. Sama seperti Jinem Pangrawit, di setiap dinding Bangsal Keraton terdapat keramik dengan susunan sama pemberian Belanda. Terdapat beberapa lukisan, diantaranya adalah lukisan Macan Ali yang merupakan lambang bendera Cirebon dan mengandung dua kalimat Syahadat.

Saya kemudian masuk ke ruangan selanjutnya yang merupakan Bangsal Agung, inilah ruang singgasana Sultan Kasepuhan. Di samping kanan dan kiri singgasana terdapat bentuk lukisan yang menarik perhatian dengan nuansa  merah menyala.

Lukisan Kembang Kanigara 

            Lukisan ini justru mengingatkan saya akan bangunan China yang didominasi warna merah.  Lebih dekat lagi Pak Ferry menjelaskan komponen yang ada di sana. Burung Merpati melambangkan ketua adat, bunga yang berwarna merah dengan sedikit keemasan bernama Kembang Kanigara. Buah Manggis  menggambarkan hukum Islam ke 5. Disamping lukisan tersebut , terdapat jejeran keramik, yang kali ini sedikit berbeda karena terdapat dua warna yaitu keramik coklat dan Biru. Keramik biru sama seperti yang ada di dinding Jinem Pangrawit dan Bangsal Keraton, hanya saja yang disini disusun rapat dan rapi. Keramik coklat menarik perhatian saya, keramik ini menggambarkan kisah yang ada di alkitab dan tentang ajaran orang Kristen, diantaranya adalah kisah Adam dan Hawa, Nuh, Yesus yang memikul salib, dan masih banyak lagi. Hal ini cukup mengherankan karena Keraton Kasepuhan merupakan agama Islam. Tapi karena diberikan oleh Belanda yang beragama Kristen, akhirnya dimasukkan keramik tersebut. Hal ini juga merupakan upaya politik dari keraton Cirebon, karena pada saat pembangunan Keraton Kasepuhan, Indonesia saat itu sedang dijajah oleh Belanda. Agar tidak dihancurkan, Keraton mengambil langkah ber aliansi dengan Belanda yang sebenarnya hanya kedok.
            Di bagian atas dan bawah lukisan ini berjejer 3 buah mangkok dari China yang ditata sedemikian rupa dengan apik. Masih dengan sentuhan warna merah menyala yang sama, aksen China masih sangat kental. Tiga keramik tersebut walaupun sekilas memiliki gambar yang sama, ternyata kalau diperhatikan ada perbedaan di tiap gambarnya. Pak Ferry memberi tahu saya ini karena dibuat dengan tangan satu persatu dan mungkin lebih dari 1 pelukis. 


Singgasana Raja + Ranjang Kencana

Nah sampailah kita pada komponen utama disini yaitu singgasana yang disebut Bangsal Agung. Bangsal Agung tidak bisa kita masuki dengan tujuan agar tidak merusak. Karena pernah terjadi kerusakan kursi akibat diduduki oleh wisatawan. Karena memiliki nilai historis dan tidak tergantikan, ini merupakan keputusan yang tepat. Kursi- kursi yang dipajang di sana berasal dari Eropa. Di sebelah kanan kiri merupakan kursi permaisuri dan putra mahkota bila berkenan hadir. Di tengah merupakan kursi Sultan dengan meja berhiaskan ular, dengan makna ucapan Raja merupakan hukum. Dibelakang kursi Sultan terdapat Ranjang Kencana untuk istirahat siang. Ranjang ini dihiasi dengan tirai berwarna – warni, terdiri dari 9 warna tidak termasuk warna putih. Warna tersebut melambangkan 9 Wali Songo. 

Itulah Bangsal Keraton, kami kemudian keluar ke taman untuk pergi ke sisi kiri, dimana terdapat Musium Kereta Singa Barong. Ini dia primadona Keraton Kasepuhan. Lagi- lagi tempat ini juga sedang direnovasi, suasana berantakan dan berdebu. Syukurlah saya tetap bisa mengambil gambarnya. Pak Ferry bertanya kepada saya, dapatkah saya menyebutkan wujud binatang apa kereta tersebut. Saya bingung karena tidak menyerupai bintang yang ada di dunia nyata. Karena itulah pak Ferry berkata kenapa kereta tersebut dinamakan Singa Barong. Singa dari kata sing ngarani( yang memberi nama) , barong (bareng- bareng). Singa Barong merupakan produk akulturasi yang terintergrasi. Kita dapat melihat 3 budaya disini diantaranya: 
  1.   Belalai gajah yang melambangkan persahabatan dengan India (Hindu)
  2.   Kepala naga melambangkan persahabatan dengan China (Buddha)
  3. Sayap dan badan dari buroq melambangkan persahabatan dengan Mesir( Islam) 

Kereta Singa Barong


Memang Keraton Kasepuhan Cirebon tidak fanatik dengan budaya dan agamanya sendiri. Ia berusaha menjalin persahabatan dan hubungan baik dengan berbagai pihak. Sunan Gunung Jati dikenal sebagai orang yang toleran serta demokratis. Sikap demokratis itu bahkan tampak nyata dan diwujudkan dalam bentuk arsitektur campuran antara Islam, Hindu-Budha, dan Eropa.

Selanjutnya kami akan memasuki wilayah Dalem Agung Pakungwati, yang merupakan keraton tertua sebelum dibangun Keraton Kasepuhan. Nama Pakungwati diambil dari nama Putri Pangeran Cakrabuwana, yang akhirnya menikah dengan Sunan Gunung Jati. Ya memang benar, dengan kata lain Sunan Gunung Jati menikahi sepupunya sendiri.

Dalam kawasan ini terdapat sebuah gapura yang terbuat dari bata merah seperti pada Siti Inggil. Disini merupakan kawasan puing- puing dari Pakungwati. Dibalik gapura tersebut terdapat barisan batu – batu pancuran permandian Sultan. Saya membayangkan ukiran batu yang sangat indah dulu ada disini. Tapi karena pengaruh alam dan usia, batu karang ini sudah terkikis dan tidak berbentuk. 

Bentuk dari Dalem Agung Pakungwati ini seperti labirin, jalannya berbelok belok dan berdindingkan batu bata merah. Disana banyak ditumbuhi rumput liar dan suasananya sepi, sangat berbeda dengan bangsal keraton.

Ada juga tempat permandian putra keraton dan putri keraton yang terpisah. Bentuknya seperti kolam biasa, dilapisi semen. Ini cukup disayangkan saya tidak bisa melihat wujud aslinya. Pak Ferry menjelaskan kalau permandian tersebut direnovasi oleh pemerintah, hal ini juga menjadi keprihatinan apabila pemerintah hanya menjalankan program tahunan tanpa memperhatikan nilai- nilai sejarah yang tak ternilai. 

Akhirnya selesailah perjalanan saya di Keraton Kasepuhan Cirebon, tempat ini memberikan saya pengetahuan baru dan mengenal satu lagi budaya Indonesia yang unik. Mari cintai budaya kita sendiri. Salam hangat

No comments:

Post a Comment