Pages

Showing posts with label Observasi. Show all posts
Showing posts with label Observasi. Show all posts

Friday, January 18, 2013

Menilik Lebih Dalam Budaya Masyarakat Baduy

NIM: 11140110048
Nama: Sintia Astarina
Kelas: F


 

Kereta ekonomi siang itu tampak begitu sesak. Berbagai pedagang bebas lalu lalang dari gerbong satu ke gerbong lain. Rela menjajakan barang dagangan mereka demi menyambung hidup. Tahu, snack, salak, aksesoris, tisu, minuman, dan sebagainya. Tak mengenal batasan usia dan status sosial, rasanya begitu merakyat ketika harus bersempit-sempit ria di salah satu bangku bersama penumpang lainnya.

Sesak, gerah, panas, sempit, bau asap rokok. Hhhhhh.... nggak heran kalau kereta yang membawa saya beserta ketiga teman lainnya menuju Rangkas Bitung hanya seharga Rp1.500,00 perak. Selama di kereta, kami harus was-was menjaga barang bawaan kami. Namun, Puji Tuhan ketika dua jam kemudian kami telah sampai di tempat yang dituju.
Dari Rangkas Bitung, saya menuju terminal Aweh , lalu berangkat ke desa Ciboleger. Perlu kita ketahui bahwa desa Ciboleger merupakan desa perbatasan sebelum menuju Baduy. Rasanya, sudah tidak sabar menjelajah kebudayaan dan mengeksplorasi berbagai keunikan dari suku tersebut.

Kang Sarwadi dan Kang Sarmidi adalah dua orang yang mengantar saya menuju Baduy. Akang-akang tersebut merupakan kakak-adik yang berasal dari Baduy Dalam. Ketika sampai di Ciboleger, kami disambut oleh mereka. Sebelum menuju Baduy, kami membeli beras dan berbagai makanan lainnya sebagai perbekalan kami di jalan dan saat menginap nanti. Pada awalnya, kami akan menuju Baduy Dalam pada hari pertama. Akan tetapi, langit kian gelap dan hujan pun sedikit menghentikan langkah kami. Akhirnya, kami memutuskan untuk menginap di Baduy Luar terlebih dahulu.

Saat sampai di Baduy Luar, kami disambut ramah oleh pemilik rumah. Kami disuguhi air minum yang ternyata diambil dari sungai. Rasa tanah masih beritu terasa. Sore itu, tak tampak banyak aktivitas yang dilakukan di sana. Hanya ada beberapa anak laki-laki yang bermain bola dan yang lainnya bisa dibilang seperti tidak melakukan aktivitas apa-apa. Pada kesempatan itu, saya pun memulai observasi lebih lanjut. Kami sempat bertanya-tanya kepada Kang Sarmidi dan Kang Sarwadi mengenai budaya dan adat istiadat yang ada di Baduy.



Baduy terletak di Kabupaten Lebak, Banten, di kaki pegunungan Kendeng desa Kanekes. Baduy merupakan panggilan  yang diberikan penduduk luar. Baduy merupakan salah satu suku yang dapat kita pelajari kesehariannya. Banyak orang mengatakan kalau Baduy merupakan suku yang terisolasi. Jujur, saya kurang setuju dengan pernyataan tersebut sebab menurut saya... Baduy sangat terbuka dengan kebudayaan lain. Masyarakat Kanekes juga tidak menolak kehadiran para pengunjung atau wisatawan yang ingin bermain ke Baduy. Buktinya, saat saya menuju Baduy, ada pengunjung lainnya yang juga kebetulan berada di daerah tersebut. Mereka pun berinteraksi satu sama lain dengan orang Baduy.

Dalam konteks “isolasi”, mungkin yang dimaksud adalah masyarakat Baduy mencoba untuk mempertahankan adat istiadat yang dimiliki oleh seluruh warga Baduy yang diwarisi secara turun-temurun. Mereka menolak untuk menerima kebudayaan lain yang sebelumnya tidak mereka kenal. Hal itulah yang membuat masyarakat Baduy (terutama Baduy Dalam) begitu mempertahankan adat istiadat yang menjadi ajaran hidup yang sudah mendarah daging.



Masyarakat suku Baduy memiliki dua sistem pemerintahan yang mana mereka mengikuti aturan negara Indonesia dan mereka pun juga mengikuti adat istiadat yang ada. Kedua sistem pemerintahan itu diakulturasikan oleh masyarakat setempat sehingga tidak ada benturan. Jaro pemerintah adalah sebutan untuk kepala desa dan pu’un adalah pemimpin adat tertinggi masyarakat Baduy. Pu’un mendapatkan jabatannya secara turun-temurun. Jangka waktu menjabat sebagai kepala adat pun tidak menentu, tergantung pada kemampuannya untuk menjabat masyarakat Baduy.

Di Baduy Luar, saya menemukan banyak hal, seperti:

1. Tidak ada listrik sama sekali sehingga untuk penerangan, mereka menggunakan lampu minyak tanah sebagai lilin. Saat malam datang, Baduy Luar begitu gelap gulita. Tidak ada lagi aktivitas yang dilakukan. Malam itu, saya menginap di rumah keluarga Pak Kasmin. Ketika malam datang, saya dan keluarga itu menunggu Pak Kasmin pulang dari ladang, lalu kami pun makan malam bersama. Mereka sungguh ramah dan welcome. Di tengah suasana remang-remang, saya merasa begitu dekat dengan mereka.

Orang Baduy berbicara dengan menggunakan bahasa Sunda, tetapi dengan logat yang kasar. Kang Sarmidi dan Kang Sarwadi bisa berbahasa Indonesia dengan baik sebab mereka berdua sering bergaul dengan orang luar Baduy sehingga mereka tidak terlalu kesulitan berkomunikasi dengan saya dan teman-teman.

Dari hal tersebut, saya merasa kalau komunikasi memungkinkan kita untuk mengumpulkan beragam informasi tentang sesuatu yang belum kita ketahui. Meskipun dalam budaya yang berbeda, kita bisa saling sharing dan berbagi pengalaman. Kang Sarmidi dan Kang Sarwadi senang berbagi informasi mengenai budaya yang terdapat di Baduy. Meski mereka berasal dari Baduy Dalam, mereka juga setia menjalin relasi dengan warga Baduy Luar.

Komunikasi yang baik juga menolong saya untuk memenuhi kebutuhan interpersonal. Saya ingin mengetahui banyak tentang Baduy. Kalau saya melakukan observasi sebatas melihat-lihat saja, mungkin saya nggak akan dapat apa-apa karena dari awal yang saya lihat adalah aktivitas yang tidak terlalu sibuk. Untungnya, Kang Sarmidi dan Kang Sarwadi begitu friendly sehingga mereka berdua bisa menyatakan informasi mengenai budaya yang ada lewat interaksi dan komunikasi kepada saya.


Selain itu, komunikasi juga mampu membentuk identitas diri. Saat Kang Sarmidi dan Kang Sarwadi berbicara dengan teman-temannya, mereka akan menggunakan bahasa Sunda. Lain halnya ketika sedang berbicara dengan saya, mereka akan menggunakan bahasa Indonesia. Akan tetapi, sedikit-sedikit saya belajar bahasa Sunda dari mereka. Saya pun jadi tahu beberapa bahasa Sunda dari Kang Sarwadi seperti punten (permisi), teteh (sebutan untuk kakak perempuan), matur nuwun (terima kasih).


2. Baduy Luar memiliki “kamar mandi” seadanya, bahkan dalam keadaan ruang terbuka. Sewaktu saya sampai di sana, agak kaget juga sih melihat “kamar mandi” di alam terbuka, berdinding kayu yang tidak rapat dan selembar kain menjadi penutup. Akhirnya, Kang Sarmidi dan Kang Sarwadi menyuruh saya dan teman-teman saya untuk mandi di rumah tetangga.

3. Rumah-rumah di Baduy Luar menggunakan kirai dan kayu mahoni yang direkatkan dengan paku.



4. Mayoritas masyarakat suku Baduy menganut agama Sunda Wiwitan yang ajarannya hampir sama dengan agama Islam. Hari Raya agama Sunda Wiwitan berlangsung pada bulan terakhir (bulan ke-12) atau yang sering disebut bulan Hapid Kayu. Ya... ternyata masyarakat Baduy mengenal penanggalannya sendiri. Kalau kita mengenal bulan Januari, Februari, Maret, dan seterusnya, mereka mengenal bulan Kasa, karo, Katilu, dan sebagainya. Masyarakat Baduy pun juga mengenal adanya 12 bulan dalam setahun, sama seperti kita.

5. Mata pencaharian masyarakat Baduy Luar sangat tergantung musim. Ada yang mencabuti rumput di ladang, ada yang menjual souvenir khas Baduy, dan sebagainya. Kebanyakan, mereka bermata pencaharian sebagai petani. Hasil perkebunan dan pertanian seperti petai, durian, pisang, dan rambutan dijual ke pasar. Setiap paginya, bapak-bapak pergi ke ladang diikuti oleh anak laki-lakinya, sedangkan yang perempuan ikut ibunya. Entah itu mengurusi rumah, belajar menenun, mengurusi dapur, atau melakukan kegiatan lainnya.




6. Masyarakat Baduy Luar diperbolehkan untuk bercerai dan dibatasi setiap keluarga hanya memiliki empat anak saja.

7. Anak-anak di Baduy Luar tidak sekolah dan ini pun juga terjadi pada anak-anak di Baduy Dalam. Mengapa? Dulu, pemerintah pernah berencana untuk membangun sekolah di Baduy, tetapi masyarakat menolaknya dengan alasan akan melanggar aturan adat. Itulah yang menjadi salah satu penyebab sebagian orang Baduy tidak bisa baca dan tulis. Oh ya, masyarakat Baduy juga memiliki worldview seperti ini, “Buat apa sekolah tinggi-tinggi, kalau kita nggak bisa bekerja dan menghasilkan uang?” Jadi, selama ini anak-anak pure  ikut kedua orang tua mereka bekerja. Bahkan, Kang Sarmidi dan Kang Sarwadi menyebut ladang sebagai “kantor”, bertani disebut sebagai “sekolah”.

Keesokan harinya ketika matahari telah bersambut, kami sengaja bangun pagi dan segera bersiap-siap untuk menuju Baduy Dalam. Agak kaget juga sih ketika temen-temen lain bilang, perjalanan menuju Baduy Dalam akan memakan waktu sekitar empat jam! Empat jam itu akan dilewati dengan berjalan kaki sepanjang hari, melewati jalanan yang tak rata, dan cuaca yang tak menentu.




Sebelum berangkat menuju Baduy Dalam, kami mendengar ada suara merdu tak jauh dari rumah tempat kami menginap. Ternyata, para gadis dan wanita Baduy sedang menumbuk padi. Penasaran, kami pun menghampiri dan memerhatikan mereka dari dekat. Perlu kita ketahui, menumbuk padi adalah kebiasaan perempuan-perempuan Baduy di pagi hari. Bunyi merdu dari lesung  seakan-akan membuat melodi syahdu di tengah dinginnya udara pagi. Nah, padi yang sudah ditumbuk ini diletakkan di dalam leuit dan bisa disimpan selama puluhan tahun lamanya.

Akhirnya, sampailah kami di desa Cibeo. Desa ini merupakan desa terluar dari Baduy Dalam. Saya terpukau dengan keindahan Baduy Dalam. Menurut saya pribadi, Baduy Dalam lebih bagus dan rapi dibandingkan Baduy Luar. Rumah-rumah di sini memang lebih tinggi dibandingkan Baduy Luar dan menggunakan rumbia yang diikat dengan rotan. Lalu, rumah kepala adat atau pu’un diberi ciri khas tersendiri yakni rumahnya yang tidak menghadap ke utara dan selatan. Selain itu, halaman rumah pu’un begitu luas dan dihiasi hamparan rumput hijau. Tidak sembarangan orang bisa memasuki wilayah rumah pu’un tanpa keperluan khusus karena akan dianggap tidak sopan.

Baduy Dalam nyatanya memiliki aturan dan adat istiadat yang sangat ketat. Nah, sebagai pendatang, mau tak mau kita harus menurutinya. Aturan adat di Baduy Dalam adalah sebagai berikut.

1. Masyarakat Baduy Dalam dan semua pengunjung yang datang ke sana pantang teknologi. Warga Kanekes tidak diperbolehkan menggunakan teknologi seperti handphone, kamera, dan  lain-lain. Sebenarnya, agak kurang berguna juga sih, sebab di Baduy tidak ada sinyal sama sekali dan listrik pun juga tidak ada.

2. Tidak menggunakan alas kaki. Kebiasaan yang dilakukan sejak kecil ini nyatanya membuat warga Baduy dalam menjadi kuat ketika harus bepergian jauh. Bahkan, Kang Sarmidi dan Sarwadi pernah ke Bekasi tanpa menggunakan alas kaki, lho!

3. Tidak diperbolehkan menggunakan alat transportasi. Sehari-hari, mereka berjalan ke sana-kemari tanpa kendaraan. Mereka mengandalkan kaki-kaki mereka yang begitu kuat guna menopang tubuh mereka. Hal ini sudah menjadi hal yang biasa dilakukan sejak kecil sehingga masyarakat Baduy Dalam sudah terbiasa melintasi jalanan yang licin, berbatu, turunan, maupun tanjakan.



4. Tidak boleh merokok dan mabuk-mabukan.

5. Menggunakan pakaian berwarna hitam atau putih (baju sangsang) yang ditenun sendiri. Mereka juga harus menggunakan ikat kepala berwarna putih dan gelang pemberian dari lahir sebagai ciri khas masyarakat Baduy Dalam.

6.  Tidak boleh menggunakan sabun untuk mandi dan pasta gigi. Selama ini, orang-orang Baduy menggunakan sabut kelapa untuk menggosok gigi, larek (semacam tumbuhan yang bisa mengeluarkan busa) untuk mencuci baju, dan tidak menggunakan sabun. Sungai pun menjadi tempat untuk mencuci baju dan juga mandi.



Nah, apabila masyarakat Baduy Dalam melanggar aturan tersebut, pu’un tidak segan-segan untuk mengeluarkan mereka dari sana. Selain itu, masyarakat Baduy Dalam bisa dikeluarkan dari wilayah itu apabila mereka berkeinginan untuk keluar dari Baduy Dalam atau menikah dengan Baduy Luar. Hal itu sangat tidak diperbolehkan karena dianggap melanggar aturan adat. Tampaknya, adat istiadat memang menjadi tolok ukur bagi seseorang untuk melakukan kesehariannya.

Saat saya di Baduy Dalam, saya dan teman-teman memutuskan untuk mandi di sungai. Lucunya, anak-anak lelaki kecil asyik mengamati kami dari atas jembatan. Tak jauh dari sana, kami pun melihat Ibu-ibu Baduy Dalam yang dengan asyiknya mandi di sungai dengan bertelanjang dada. Padahal, sungai itu merupakan alam terbuka dan banyak Bapak-bapak yang melintas di jembatan.

Satu hal yang saya tangkap, persaudaraan di Baduy Dalam begitu terjalin dengan erat lewat interaksi sosial satu sama lain. Entah itu antara sesama penduduk Baduy Dalam, maupun antara Baduy Dalam dan Luar.  Ya... mungkin rasa persaudaraan itulah yang membuat Ibu-ibu itu bebas dan tidak merasa malu untuk begitu “terbuka” di depan umum.

Nah, di Baduy Dalam kan nggak ada kamar mandi. Jadi, kalau kita mau buang air besar atau kecil, kita buang di sungai di antara rawa-rawa. Boleh dibilang, sungai yang paling ujung airnya diambil untuk minum, kemudian untuk mandi, dan terakhir untuk pembuangan.

Pernikahan
Masyarakat Baduy menikah pada umur 20-25 tahun untuk laki-laki dan di atas 16 tahun untuk perempuan. Masyarakat Baduy Dalam dijodohkan satu sama lain, tidak peduli ada hubungan persaudaraan atau hubungan darah.

Pernikahan ini memakan waktu kira-kira satu tahun dan melalui tiga tahap, yaitu pihak laki-laki menanyakan kesediaan dari pihak perempuan. Kemudian, apabila si perempuan setuju, si laki-laki akan emmbawa peralatan dapur yang menyatakan keseriusannya. Terakhir, mereka berdua bisa menikah dan pihak laki-laki membawa perhiasan (mahar). Nah, jika ingin mencari perempuan Baduy yang belum menikah, kita bisa melihatnya dari anting berwarna yang dikenakannya.

Kalau begitu, bisa dibilang hampir semua masyarakat di Baduy Dalam ini memiliki tali persaudaraan sebab perjodohan ini dilakukan hanya untuk wilayah Baduy Dalam saja. Istri cukup satu dan mereka pun tidak boleh bercerai. Untuk Baduy Luar, mereka bebas memilih pasangan hidup mereka masing-masing. DI Baduy sendiri pun juga tidak mengenal adanya poligami.

Kelahiran
Sistem kelahiran masyarakat Baduy menggunakan bantuan paraji atau dukun beranak. Prosesnya pun juga sederhana dan jauh dari kata modern. Nah, penamaan untuk anak-anak di Baduy juga cukup menggunakan satu kata saja, misalnya Jamra, Jamir, Kasmin, Armuta, dan lain-lain.



Kematian
Ketika ada salah satu masyarakat Baduy yang meninggal dunia, apak diadakan acara pada hari pertama, ketiga, dan ketujuh. Proses pemakaman berlangsung singkat. Orang yang meninggal akan dibungkus kain putih dan dimandikan di tempat pemandian setinggi dada, lalu dikubur di tempat khusus. Pada hari ketiga, akan diadakan selametan. Pada hari ketujuh, kuburan tetap dirawat. Anehnya, setelah kuburan kembali menjadi rata, daerah itu bisa diinjak-injak dan bisa digunakan sebagai ladang.

Memasuki hari ketiga, sudah saatnya pulang. Pagi-pagi buta, ayam jantan saling bersahut-sahutan, berlomba-lomba untuk membangunkan para jiwa yang tengah tertidur pulas. Setelah melewati beberapa jam untuk beristiratat, kami pun beres-beres dan kembali ke desa Ciboleger.  Berbekal sisa-sisa tenaga yang kami miliki, kami pun beranjak dari Baduy Dalam menuju Baduy Luar, kemudian menuju desa Ciboleger. Lelah tak terperi sungguh kami rasakan, mengingat kami harus menempuh  waktu perjalanan selama 4 jam (lagi)!

Nah, ketika saya sampai kembali di Baduy Luar, saya melihat beragam aktivitas lain dari para penduduk desa Kanekes, terutama para perempuannya. Ada banyak wanita yang sedang menenun kain. Seperti yang sudah disampaikan pada penjelasan awal bahwa wanita Baduy harus bisa menenun kain sebab menenun adalah salah satu mata pencaharian mereka. Selain itu, wanita yang tidak bisa menenun tidak boleh menikah, lho!




Setelah merasakan betapa berbedanya menjadi orang Baduy Luar dan Baduy Dalam selama tiga hari, saya pun juga mempelajari berbagai karakteristik budaya yang melekat pada masyarakat suku Baduy tersebut. Karakteristik kebudayaan yang ada di sana begitu menolong saya untuk menjadi seorang pelaku komunikasi antarbudaya yang lebih baik.

Berkaitan dengan teori konflik, meski Baduy Luar dan Baduy Dalam memiliki budaya yang sedikit berbeda, tetapi masyarakatnya tidak pernah memiliki konflik. Malahan, keduanya senantiasa menyesuaikan diri terhadap budaya-budaya yang ada dan selalu berusaha untuk menghindari konflik. Mereka lebih menginginkan untuk menata kehidupan dan tingkah laku sehingga keberadaannya bisa tetap dipertahankan. Masyarakat Baduy pun selalu bersikap sopan dalam bertindak dan berbicara.

Budaya itu dipelajari. Ketika seorang anak lahir, tentu ia akan mengikuti kebudayaan maupun adat istiadat yang dipegang teguh oleh kedua orang tua mereka. Masyarakat Baduy senantiasa menjalankan adat yang sudah mereka dapatkan sejak kecil. Begitu juga dengan Kang Sarwadi dan Kang Sarmidi. Mereka telah terbiasa berjalan ke manapun tanpa alas kaki, sebab dari kecil pun mereka tidak mengenal sandal atau sepatu. Itulah salah satu peraturan adat yang mereka pelajari. Selain itu, mereka juga belajar bagaimana bertahan hidup dari pengaruh budaya modern. Mereka harus menjalani hidup sehari-hari tanpa alat komunikasi, tanpa internet, baju mewah, ataupun makanan enak dari tempat lain.



Perlu kita ketahui, kehidupan masyarakat Baduy juga bisa tergambar melalui peribahasa, “Perbuatan lebih berarti dari kata-kata dan tiada hasil tanpa jerih payah”. Laki-laki maupun perempuan menerapkan budaya dalam bekerja. Kalau mereka tidak bekerja, tentu mereka tidak akan menghasilkan apa-apa. Kerja keras masyarakat Baduy yang berasal dari penjualan souvenir, hasil bertani, maupun penjualan hasil pertanian nyatanya bisa membuat mereka hidup nikmat, meski keterbatasan materi kerap menghantui mereka.

Budaya itu dibagikan. Budaya yang ada di masyarakat Baduy menunjukan identitas mereka sebagai suatu suku yang sangat menghormati adat istiadat. Tidak hanya ada satu atau dua orang saja yang menganutnya, tetapi seluruh masyarakat Baduy patuh dengan budaya yang sudah mendarah daging di diri mereka. Nah, dengan adanya identitas budaya itu, masyarakat suku Baduy bisa mengenal keunikan yang ada pada budaya-budaya lainnya. Mereka pun juga tahu bagaimana harus berperilaku seharusnya.

Kemudian, budaya itu diturunkan dari generasi ke generasi. Untuk karakteristik budaya ini tampak jelas. Suku Baduy memiliki warisan sosial dan budaya yang mereka dapatkan dari nenek moyang mereka. Kalau melanggar aturan adat tersebut, mau tak mau mereka harus bersedia untuk mendapatkan sanksi dan hukuman. Budaya pun didasarkan pada simbol. Bisa kita lihat dari bentuk rumah, model pakaian, mata pencaharian, sampai tradisi-tradisi yang menunjukan bahwa masyarakat Baduy memiliki pandangannya sendiri akan suatu aspek kehidupan.

Pada intinya, masyarakat Baduy Luar dan Baduy Dalam selalu berusaha memegang teguh budaya yang sudah masuk ke dalam aspek kehidupan mereka. Mereka tidak peduli bagaimana orang-orang di luar sana yang bisa menggunakan mobil, menggunakan baju ala perkotaan, tinggal di rumah mewah, ataupun menggunakan alat komunikasi untuk berhubungan dengan orang luar. Adat istiadat yang mengikat telah membuat mereka nyaman dengan apa yang mereka miliki sebab budaya-budaya yang ada di sana telah membentuk pemikiran, perilaku, dan cara pandang atas suatu kehidupan pada masyarakat suku Baduy.


Indahnya Pesona Batik

NIM : 11140110135
Nama : Nandya Utami Putri Bachtiar
Kelas : F1



KAMPUNG BATIK LAWEYAN

SOLO

Begitu banyak keindahan yang tersimpan di Negri kita ini, Indonesia. Bukan hanya keindahan alamnya yang terlihat luar biasa, namun juga beragam suku, ras, budaya, etnis, dan agama. Bahkan kesenian dan kerajinan yang tidak kalah menarik untuk kita pelajari. Indonesia dikenal dengan negeri seribu pulau, seribu bahasa, seribu kebudayaan, seribu kesenian, dan seribu kerajinan.

Dikenal dengan negeri seribu pulau, karena Indonesia memiliki banyak pulau-pulau kecil yang berada di sekelilingnya. Disebut seribu kebudayaan dan seribu bahasa, karena Indonesia tidak terdiri hanya dengan satu kebudayaan saja, namun banyak kebudayaan yang tersimpan di negeri ini dan kebudayaan tersebut juga memiliki bahasa tersendiri pula. Karena banyak kebudayaan, tentunya banyak pula juga kesenian dan kerajinan yang dihasilkan yang dijadikan sebagai ciri khas dari kebudayaan itu sendiri.

Kita semua tahu bahwa Indonesia dikenal dengan; makanan khasnya; tahu dan tempe, keseniannya; reog, wayang,dll, kerajinannya; kain songket, batik dan masih banyak lagi. Itu membuktikan bahwa Indonesia kaya akan kebudayaannya.


Kebudayaan diambil dari kata budaya. Pengertian ‘budaya’ itu sendiri mempunyai arti banyak dalam disiplin ilmu serta konteks yang berbeda. Lonner dan Malpass, mendefinisikan istilah budaya ini sesederhana mungkin, yakni Budaya adalah pemrograman pikiran atau Budaya merupakan yang dibuat oleh manusia dalam lingkungannya. Sedangkan istilah ‘Kebudayaan’ menurut Triandis:

Kebudayaan merupakan elemen subjektif dan objektif yang dibuat manusia yang dimasa lalu meningkatkan kemungkinan untuk bertahan hidup dan berakibat dalam kepuasan pelaku dalam ceruk ekologis, dan demikian tersebar di antara mereka yang dapat berkomunikasi satu sama lainnya, karena mereka mempunyai kesamaan bahasa dan mereka hidup dalam waktu dan tempat yang sama.

Untuk itu, pada tanggal 23 Desember 2012 yang lalu, saat liburan natal dan tahun baru, saya menyempatkan diri untuk pergi berlibur sekaligus mengerjakan tugas Komunikasi Antar Budaya ini ke Solo, Jawa Tengah. Banyak sekali hal yang menarik di Kota tersebut. Ada Kesenian Wayang Orang, Pasar Klewer, Keraton Surakarta, Kampung Batik Kauman, Kampung Batik Laweyan, dan masih banyak lagi tentunya.

Dari semua yang sudah saya sebutkan di atas, saya tertarik untuk memilih Kampung Batik Laweyan sebagai tempat observasi mengenai kebudayaan di Kampung Batik Laweyan tersebut  untuk menyelesaikan tugas Komunikasi Antar Budaya ini.

Mengapa ?

Karena, selain lokasi dekat dengan penginapan saya, tentunya Kampung Batik Laweyan juga mempunyai kebudayaan tersendiri walaupun pada dasarnya lebih mendominasi kebudayaan di Solo, karena Kampung Batik Laweyan dibilang sebagai kampung batik tertua di kota tersebut, bahkan kampung batik tertua se-Indonesia. Katanya, Kampung Batik Laweyan ini disebut atau dikenal dengan Kampung ‘Juragan Batik’, karena disana banyak atau bisa dibilang kampung yang masyarakatnya adalah para pengusaha batik, itu dulu. karena jaman yang semakin berkembang dengan pesat, ditandai dengan masuknya budaya-budaya baru yang membuat para penguasaha batik di Kampung Batik Laweyan ini gulung tikar. Sekarang, tidak semua warga di Kampung Batik Laweyan ini adalah seorang pengusaha batik, melainkan ada buruh dan para imigran lain yang tinggal di Kampung Batik Laweyan ini.

Bisa dilihat dengan kasat mata, Kampung Batik Laweyan ini mempunyai  tiga gang masuk ke dalam Kampung. Gang utama masuk ke Kampung Batik Laweyan ini berada di depan jalan, dekat pertigaan lampu merah. Daerah lebih tepatnya, saya lupa karena nama jalannya pake nama jawa gitu.


Dilihat dari namanya saja sudah terlihat masih menggunakan ejaan bahasa lama, 
‘Kampoeng Batik Laweyan’

Di Kampung Batik Laweyan tersebut model dan tata bangunannya pun seperti kampung pada biasanya, banyak lika-liku gang. Yang membedakannya, kalau di kampung yang sering kita temui hanya rumah untuk tinggal. Nah, kalau di Kampung Batik Laweyan ini di kanan, kiri, depan, belakang, dan sudut yang kita lihat adalah beragam toko-toko batik masih dengan suasana jawa pada jaman dulu, walau ada beberapa yang sudah terlihat modern. Nah, itulah yang membuat, mengapa tempat ini disebut dengan ‘Kampung’ Batik Laweyan.

Bukan seperti toko-toko batik seperti yang kita lihat biasanya, di Kampung Batik Laweyan ini di setiap toko batik terdapat tempat juga untuk memproduksi batiknya. Jadi, batik yang dijual disetiap toko adalah batik hasil produksi sendiri. Dan setelah saya perhatikan, batik yang dijual motif dan designnya berbeda-beda, jadi bila kita menemukan motif dan design batik yang unik di satu toko, maka kita tidak akan menemukannya lagi di tempat lain, bahkan di toko itu sendiri hanya menyediakan satu produk.
Karena saya penasaran dengan hal tersebut, saya akhirnya menanyakannya kepada salah satu pengusaha batik tersebut. Katanya, motif dan design batik memang berbeda-beda, tergantung bagaimana si pembuat batik membuatnya.

Dan saat saya berjalan ke toko batik lainnya, saya melihat beberapa baju batik model daster untuk ibu-ibu dengan motif dan design batik yang sama persis, yang berbeda hanya warna dasarnya saja. Tanpa berpikir panjang, saya pun bertanya lagi kepada penjaga toko tersebut. Dia bilang, motif dan design batik yang berbeda-beda itu hanyalah batik tulis. Mengapa demikian ? Karena, batik tulis dibuat dengan tangan sang pengrajin batik sendiri, jadi motif dan designnya dibuat tergantung sang pengrajin batik. Nah, sedangkan yang saya lihat, batik dengan motif yang sama, itu bisa di bilang batik cap dan batik print.

Cara membuat batik ternyata ada tiga macam. Yang pertama, ada batik Cap. Batik Cap ini menggunakan media Cap. Media capnya seperti model stempel. Stempelnya pun terbuat dari tembagaYang kedua, ada batik Print. Bisa diperkirakan dari namanya, motif batiknya di print dengan menggunakan media. kalau bisa dibilang, menurut saya batik Print ini motifnya sedikit berantakan dan kurang bagus. Yang ketiga, ada batik Tulis. Batik tulis merupakan batik yang mempunyai harga tertinggi dari yang lain. Mengapa ? Karena, batik dengan cara tulis ini dibuat dengan tangan sang pengrajin sendiri, kemudian, motif batiknya pun tidak bisa sama persis, jadi istilahnya motifnya itu ‘tidak pasaran.’

benar-benar penasaran dengan bagaimana rasanya membuat batik, dan untuk mengusir rasa penasaran itu, saya mencoba untuk belajar membatik di sebuah workshop Cempaka. Cempaka adalah nama sebuah toko batik yang letaknya sedikit tersembunyi. Saya harus melewati lika-liku gang untuk sampai ke sana dan belajar membatik.

Di sana saya bertemu langsung dengan pemiliknya bernama Ibu Eni Susilo. Beliau adalah salah satu pengusaha batik yang tinggal di Kampung Batik Laweyan itu. Sambil menunggu semua peralatan membatik disiapkan, saya pun masuk ke toko batik milik ibu Eni. Ternyata di sana ada sebuah peraturan tidak boleh mengabadikan semua yang ada di dalam toko tersebut dengan foto atau video, itu bermaksud menjaga motif batik yang ada di toko tersebut agar tidak diplagiat dan tidak menjatuhkan harga pasar yang di jual. Katanya sih begitu.

Setelah semua peralatan membatik telah dipersiapkan, saya di ajak ke sebuah tempat yang lebih leluasa untuk membatik. Sebelumnya, ditempat yang sama, saya melihat hal amat sangat menarik. Saya melihat seorang bapak tua yang sedang asik membatik. Tapi bukan tulis yang sedang dikerjakan, melainkan batik cap. Karena penasaran, saya pun menghampiri bapak tersebut dan sempat berbincang-bincang sebentar. Namanya, Bapak Sujono. Sudah 20 tahun bapak Sujono ini bekerja sebagai pengrajin batik cap. Walaupun penghasilannya tidak besar, namun bapak Sujono senang melakukannya, dengan alasan ia ingin tetap melestarikan batik.

Setelah selesai berbincang dengan Pak Sujono, saya pun bergegas pergi ke sebuah tempat, dimana proses membatik akan saya lakukan. Rasa penasaran pun muncul ketika melihat peralatan yang telah disediakan oleh pegawai Ibu Eni dari Cempaka tadi.

Berikut alat-alat yang digunakan dalam membatik: ada Canting, kompor, penggorengan kecil, kain putih polos, dan sebuah bingkai untukmemudahkan kita dalam membatik. Kemudian, ada juga bahan yang digunakan antara lain malam. Kalau semuanya sudah lengkap, proses membatik pun bisa dimulai. Jadi, dalam membatik ada hal-hal yang harus diperhatikan loh, antara lain cara kita duduk.

Asumsi yang dinyatakan oleh Morreale, Spitzberg, dan Barge: “Bagaimana manusia berdiri, duduk, dan berjalan memiliki pesan non-verbal yang kuat. Apakah anda bermaksud untuk mengirim pesan atau tidak, setiap gerakan anda secara potensial menyatakan sesuatu mengenai anda dan orang lain.” 

Nah, dalam membatik posisi duduk yang harus dipraktikkan adalah duduk tidak berhadap-hadapan dengan kompor yang digunakan untuk melelehkan malam tapi posisis duduk pun menyamping. Jadi lebih jelasnya, posisi duduk dengan posisi kompor bersampingan. Hal ini maksudnya agar mempermudah kita dalam mengerjakan batik tulisan tersebut saat mengambilan malam dengan canting.




Hal lain yang harus diperhatikan adalah cara pemegangan canting. Pemegangan canting dalam proses batik tulis ini dipraktekkan seperti cara kita menulis menggunakan pensil atau pulpen di tembok. Posisi belakang canting sedikit di turunkan, itu berguna agar lelehan malam tidak terlalu keluar banyak, sehingga proses memberi motif pada kainnya bisa lebih rapi. Nah, itu yang cara memegang canting itulah yang membuat batik ini dengan sebutan batik tulis.

Ada hal unik yang saya sadari, bahwa di Kampung Batik laweyan ini semua pengrajin batik tulis adalah para wanita.

Mengapa ?

Karena, di Kampung Batik Laweyan mempunyai cara pandang yang berbeda.
Sehubung dengan itu, berdasarkan buku Komunitas Lintas Budaya mengenai Cara Pandang dan Budaya, Kraft menyatakan hal sebagai berikut: “Setiap kelompok sosial memiliki cara pandang – sejumlah kepercayaan dan nilai yang kurang lebih sistematis yang dinilai oleh tersebut dan mengandung arti dari realitas yang ada.”

Hal yang berhubungan dengan cara pandang yang ada di Kampung Batik Laweyan ini adalah bahwa pengrajin batik tulis adalah para wanita. Di kampung Batik Laweyan mempunyai cara pandang mengenai hal ini, bahwa wanita mempunyai derajat yang lebih tinggi dari para laki-laki. Karena, dalam membuat motif batik tulis ini amat sangat membutuhkan kesabaran. Oleh karena itu, wanitalah yang membuat batik tulis. Karena wanita dipandang mempunyai kesabaran dan ketelitian yang lebih dari para laki-laki. Dan hal yang lainnya adalah wanita dipandang mempunyai pemikiran yang lebih terbuka dan kreatif sehingga dapat menghasilkan beragam motif batik yang terlihat lebih indah. 

Setelah saya mencoba sendiri bagaimana rasanya membatik, ternyata benar memang dalam proses membuat batik tulis ini benar-benar membutuhkan kesabaran yang ekstra, ketelitian yang ekstra pula, serta ke kreatifan dalam membuat motif.

Setelah saya belajar membatik, saya pun kembali menelusuri Kampung Batik Laweyan ini. Saya bertemu dengan seorang ibu-ibu yang sedang asik membuat kue. Nah, ternyata di Kampung Batik Laweyan ini mempunyai makanan khas, kue proyes. Nah, kue ini biasanya dibuat hanya saat ada resepsi pernikahan. Kue ini, tidak bisa kita dapatkan di luar kampung ini, karena memang sengaja tidak di produksi secara banyak.

saya berjalan menuju sebuah mesjid bernama Mesjid Laweyan. Di samping Mesjid Laweyan terdapat sebuah pemakaman keluarga keraton dari kerajaan pajang. Di Kampung Batik Laweyan, semua penduduk beragama islam. Oleh karena itu, Di Kampung Batik Laweyan hanya terdapat tempat ibadah mesjid. 

Pengertian agama sendiri yang dijelaskan dalam buku komunikasi lintas budaya adalah untuk mengikat, yang berasal dari bahasa latin relige . Hal ini pastinya menjelaskan bahwa bahwa agama mengikat manusia dalam hal-hal sakral.

Ada hal unik lainnya, disekitar mesjid, yaitu adanya sebuah pemakaman untuk keluarga keraton pada masa kerajaan pajang. Salah satunya adalah KI Ageng. Ternyata, dulu banyak orang yang sering bertapa disana untuk memohon hal-hal seperti meminta untuk kenaikan jabatan, kelancaran dagangan, dan semacamnya. Dan ternyata, sampai sekarang pun masih banyak orang yang bertapa ke makam tersebut setiap malam jum’at.

Saya berjalan menuju pemakaman yang berada di samping mesjid. Terdapat sebuah pintu kayu besar sebagai pintu masuk ke dalam pemakaman tersebut. Disetiap gerbang terdapat sebuah wadah dari batu yang di dalamnya terdapat sebuah air yang bercampurkan dengan bunga. Di sebelah wadah air tersebut terdapat sebuah wadah kecil berisikan seperti tanah dan di tempat situlah beberapa dupa ditancapkan. Biasanya warga Kampung Batik Laweyan menyebutnya dengan ‘staman.’



Melihat hal tersebut saya langsung terpikirkan bahwa hal tersebut mempunyai pesan non-verbal yang dapat bersifat ambigu. Oleh karena itu, saya pun bertanya apa arti dari adanya staman ini. Ternyata, gunanya sama dengan kemenyan.

Selain itu, di sana terdapat dua pemakaman, antara lain: pemakaman keluarga keraton surakarta dan yang kedua adalah pemakaman untuk keluarga kerajaan pajang. Nah, saat ingin memasuki pemakaman dari keluarga kerajaan pajang, ada sebuah peraturan kalau kita diwajibkan untuk melepas alas kaki saat masuk ke pemakaman Raja Pajang itu. Masih bersangkutan dengan pesan non-verbal terkait diwajibkannya membuka alas kaki. Maksud dari melepas alas kaki tersebut adalah untuk menghormati para arwah. Walaupun ditempat pemakaman para keluarga surakarta tidak melepas alas kaki, ini bukan berarti kita tidak menghormati, hanya saja di pemakaman kerjaan pajang lebih dihormati karena di sanalah perkumpulan para raja pajang, pendiri Kampung Laweyan tersebut. 

Setelah itu, saya pergi kesebuah tempat, dimana disana menjual batik lawas atau yang artinya batik tua. Tentunya, batik tua ini terlihat lama, warnanya pun lusuh dan mulai memudar,walaupun model pakaiannya tidak ketinggalan jaman. Harga yang ditawarkan pun juga amat sangat murah.

Kita tau bahwa penggunaan bahasa terjadi setiap harinya. Tentu hal ini dilakukan oleh warga kampung batik laweyan dalam berkomunikasi dengan orang lain. kita tau bahwa identitas etnis berasal dari bahasa. Dalam stereotip dialek orang solo itu adalah berbicara amat sangat pelan dan tertata rapi. Karena Kampung Batik Laweyan ini berada di dalam kota Solo, oleh karenanya bahasa yang digunakannya pun masih bahasa Solo yang lembut dan tertata. 

Pengertian dialek itu sendiri dalam buku komunikasi lintas budaya adalah sebagai tambahan dari variasi pelafalan yang menandai aksen. Sedangkan aksen adalah variasi dalam pelafalan yang terjadi ketika orang menggunakan bahasa yang sama.

Kita harus tetap menjaga kebudayaan yang ada di Indonesia ini. Jangan karena perkembangan jaman yang pesat kita meninggalkan bahkan melupakan kebudayaan yang ada sebelumnya. Karena kebuadayaan yang ada dan berbeda itulah kita bisa saling melengkapi.

Wednesday, January 16, 2013

Kampung Naga ♥

NIM : 11140110177
Nama : Elizabeth Ivan
Kelas : F1




Pas masih bingung buat observasi dimana padahal deadline udah mepet , akhirnya salah satu teman kasih tau kalau dia mau ke kampung naga (Thanks ya Albert :p). Awalnya sih agak ragu soalnya letak Kampung Naga yang jauh , belum lagi ada yang bilang kalau untuk mandi dan keperluan manusiawi lainnya harus dilakukan dibilik yang tingginya hanya sepinggang . Tapi mau gimana lagi , deadline juga uda mepet , jadi ya pasrah aja .. Haha .. Tapi untungnya ga sebegitunya kok :) . Mulai pembahasannya ya .....
 Kampung naga itu terletak di  Desa Neglasari, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Kampung naga yang keindahan alamnya masih sangat alami dan jarang dilihat di kota , bikin aku dan orang-orang kota lain tertarik buat datang ke kampung naga , bukan cuma dari dalam atau luar daerah aja , bahkan turis-turis asing sering terlihat disini . Bahkan , waktu masih diperjalanan , kita (temen-temen semobil) excited banget ngeliat pemandangan yang super keren , sampe-sampe kita sempet berenti di pom bensin yang belakangnya itu blong , jadi kita bisa liat pemandangan lebih jelas disana . Sempet foto-foto juga malah :D
Disana juga ada semacem kandang kambing / domba yang unyu-unyu ..
 

Waktu ga berasa banget sih , tiba-tiba kita udah sampe aja di depan Kampung Naga ..

Nah , gambar-gambar diatas itu Tugu Kujang Pusaka yang dibangun sama Pemda dan papan yang maksudnya sama aja sama “Welcome To Kampung Naga” . Ditempat ini juga kita parkir mobil , yang jagain parkirnya baik loh , mobil kita-kita dibersihin sampe kinclong (ga ada yang gratis kan ya ? iya tentu aja kita bayar sama si bapaknya .. hahahaha) . Selain tempat parkir , ada juga warung-warung yang jual makanan kecil sampai indomie , dll . Disediain juga kamar mandi disebelah-sebelahnya .
Nah , sekarang saat yang ditunggu-tunggu sama semua orang , khususnya saya sendiri .. Anak tangga yang jumlahnya 439 anak tangga yang bikin kita sukses kehabisan nafas dan kaki kita gemeteran . Tapiii , dari tangga itu kita bisa liat keseluruhan Kampung Naga loh dan pas masih dibagian atas , ada kios-kios yang jual kerajinan ,ada mushola , dan ada warung .



Awalnya sih bingung , kenapa ada warung lagi disini .. Kan ada warung juga diatas-atasnya .. Ternyata oh ternyata , warung disini sangat sangat berguna khususnya buat aku .. Kita semua mandi harus keatas , karena ga terbiasa buat mandi di bilik , khususnya perempuan .Jadi ya mau ga mau kita harus bolak balik naik turun tangga yang aduhai itu .. Nah warung itu lah yang menyelamatkan aku , pas naik dan tenaga udah terkuras , kita duduk dulu di warung , beli minum dan ngumpulin nafas dan nyawa ..
Saat akhirnya kita masuk ke kampung nya , kita di ajak ke balai untuk ketemu sama salah satu Pundu biar bisa nanya-nanya .. Didepan balai itu , ada juga yang jual-jual kerajinan , salah satunya istri nya mang Eno (Guide kita).

Wawancara kita dengan Pundu berjalan lumayan mulus , dibilang lumayan karena kita ga ngerti bahasa Sunda dan Pundu juga ga terlalu bisa ngomong bahasa Indonesia . Tapi untungnya lagi ada mang Eno yang jadi translator (wawancaranya ada divideo). Hanya pemuda atau orang yang belum tua yang dapat berbicara bahasa Indonesia karena pernah sekolah , orang-orang yang sudah tua biasanya hanya menggunakan bahasa sunda .
Masyarakat Kampung Naga sendiri sudah modern dan terbuka , mereka memperbolehkan jika ada orang dari luar kampung naga untuk tinggal di kampung naga atau menikah dengan warga kampung naga , asalkan orang itu beragama Islam , agama yang dianut oleh semua masyarakat Kampung naga . Bahkan orang-orang yang berada dikampung naga itu hanya 3% dari keseluruhan masyarakat kampung naga , 97% dari mereka sudah tinggal diluar kampung naga , namun saat ada perayaan-perayaan adat , mereka akan datang . Lahan yang hanya 1,5 hektar tidak mencukupi untuk mereka semua tinggal karena sudah terpakai semua , untuk rumah , sawah , dan lain-lain .
Saat ditanya , apa ada pandangan kalau anak pertama harus laki-laki atau harus perempuan , Pundu mengatakan tidak karena mereka mensyukuri apapun yang diberikan oleh Tuhan , baik itu perempuan maupun laki-laki. Mereka juga memperbolehkan terjadinya poligami dan perceraian sebagaimana yang diajarkan di agama Islam. Namun , sampai sekarang poligami dan perceraian belum pernah terjadi di kampung naga .
Untuk acara pernikahan , ada Pundu lain yang dikhususkan . Pundu-pundu yang ada di kampung naga tidak dipilih oleh warga , melainkan turnun temurun . Maksudnya pundu-pundu yang sekarang merupakan keturunan dari pundu-pundu yang sebelumnya . Hanya yang termasuk dalam garis keturunan saja yang bisa menjabat sebagai Pundu.
Saat ditanya tentang pernah terjadi atau tidak konflik antara kampung naga sendiri dengan kampung-kampung lainnya karena adanya perbedaan pandangan atau budaya yang masing-masing kampung pegang , Pundu berkata tidak pernah karena masyarakat kampung naga sendiri tidak pernah menginginkan terjadinya konflik baik antara internal maupun eksternal . Mereka selalu mencoba untuk saling mengerti antar satu dengan yang lain . Namun jika sampai ada konflik yang terjadi di internal kampung naga , ada Pundu yang khusus untuk ini . Pundu akan menjadi penengah dan menasehati pihak-pihak yang bersangkutan dan mencari jalan tengah bagi keduanya . Lagi-lagi Pundu berkata “Alhamdulilah sampai sekarang belum ada” .
Dan setelah nanya-nanya lebih lengkap sama Mang Eno , ada lagi yang belum sempat dijelasin sama Pundu . Pertama , tentang wasiat amanat akibat , jadi penduduk kampung naga percaya kalau kita melakukan sesuatu pasti ada akibat yang kita terima . Jadi , dari kecil mereka ditanami nilai ini . Mang Eno kasih contoh , misalnya kita menjaga lingkungan dan alam dengan baik , pasti alam juga akan menjaga dan menghargai kita , liat aja kampung ini , kan berada di lembah jadi rawan longsor , banjir dan lain-lain . Tapi ga pernah tuh terjadi bencana-bencana itu karena kita juga menghargai alam . Terbukti saat saya di ajak oleh Mang Eno untuk naik ke atas untuk melihat kambing Etawa yang super gede itu , ternyata susu dari kambing ini bisa dikonsumsi dan bagus buat yang mengalami sesak nafas. Mang Eno juga memberikan dengan gratis susu kambing Etawa ini untuk di minum oleh warga kampung Naga yang sedang sesak nafas. 

Disebelah kandang ada pohon yang biasanya dikonsumsi . Mang Eno bilang , pohon-pohon ini kalau mau ditebang satu , kita harus tanam 10 pohon . Biar bagaimana kita harus tanggung jawab sama alam , karena alam juga berasalnya dari atas (Tuhan). Saat pertama saya liat sungai di sebelah kampung , arusnya sangat kencang karena curah hujan , saya tanya apa pernah ada yang tenggelam , Mang Eno menyatakan tidak pernah karena seperti yang tadi ia bilang . Menghargai alam. Dan hal yang paling menarik menurut saya , Mang Eno bilang bahwa jika mau makan belut , belut itu tidak boleh dibunuh . Jadi hanya direndam semalaman di air bersih agar kotoran-kotorannya terlepas , lalu langsung dimakan . Kalaupun mau dimasak , harus dimasak hidup-hidup . Saat ditanya alasannya , pamali.
Yang kedua , tentang silih asih , silih asah , silih asuh , dan silih payungan . Silih asih itu artinya harus saling mengasihi dan saling memberi sesame misalnya di kampung naga ini terdapat sawah yang lumayan luas dan hasil panen padi itu tidak dijual melainkan diberi ke semua masyarakat kampung untuk dikonsumsi jika ada sisa baru akan dijual. Silih asah artinya saling menyayangi , silih asuh artinya saling menjagai dan menghargai satu sama lain , dan silih payungan artinya kita harus saling merangkul . Dan yang ketiga , hal-hal yang dilarang di kampung naga . Selain tidak boleh duduk , tidur , dll yang mengarahkan kaki kearah barat , ada juga tidak boleh ngadu , nywadon dan nyamadat . Arti dari ga boleh ngadu itu tidak boleh mengadu makhluk hidup . Contohnya mengadu domba orang , ngadu binatang pun ga boleh . Arti nyawadon itu ga boleh bermain wanita . Yang terakhir nyamadat , maksudnya tidak boleh berjudi apapun itu bentuknya .
 Tidak hanya itu , Mang Eno menceritakan tentang masa lalu kampung naga , ternyata dulu kampung naga pernah di bakar oleh organisasi islam Indonesia . Karena itu , kampung naga kehilangan benda-benda sejarah , rumah-rumah warga habis terbakar dan menyebabkan meninggalnya satu anak . Hal itu dikarenakan organisasi islam tersebut mengajak kampung naga untuk ikut dan bergabung dengan organisasi mereka , tapi kampung naga menolak karena menganggap ajaran organisasi tersebut tidak sesuai dengan apa yang mereka anut .
Dan saat mau kembali ke rumah masing-masing , Mang Eno menawarkan untuk  mampir kerumah nya dan kami pun disambut dengan baik oleh istri dari Mang Eno , sampai-sampai mereka menyajikan gula aren (yang dibuat sendiri oleh istri Mang Eno untuk di konsumsi dan untuk dijual) dan juga nanas yang luar biasa manisnya .. Dirumah Mang Eno , Mang Eno banyak memberikan nasihat-nasihat yang menurut saya sangat berguna dan juga Mang Eno menjelaskan kenapa semua rumah dikampung naga ini sama antara satu dengan yang lain , kenapa kampung naga tidak menggunakan listrik , kenapa tidak ada kursi atau bangku di dalam rumah , dan kenapa rumah-rumah harus berhadapan dengan rumah disebrangnya .
 Rumah memang sengaja dibuat sama di kampung ini agar tidak ada kecemburuan sosial antar sesama penduduk , bahkan bentuk ruangan pun dibuat sama .

Di dalam rumah Mang Eno

Kampung naga sudah ditawari untuk memakai listrik dari dulu bahkan sempat mau diberi generator dari Belanda tapi mereka menolak , karena mereka tidak ingin ada kecemburuan sosial , misalnya yang satu beli TV baru , yang satu iri dan mau beli juga , selain itu bangunan-bangunan dikampung naga terbuat dari bahan-bahan yang mudah terbakar. Tidak ada bangku atau kursi karena yang duduk dikursi itu dianggap berkuasa , mereka mau menanamkan nilai rendah hati dan tidak sombong . Rumah harus berhadapan untuk saling menghormati , seperti halnya manusia harus saling menghormati . Saat saya tanya ke Ibu Cucu tentang listrik , Ibu langsung bilang dengan lantang “Engga ah . Takut kebakaran.” Lalu saya Tanya , apa pernah berantem atau cekcok sama tetangga . Ibu Cucu menjawab “ Ah , ga pernah lah .. Lagian mau ributin soal apa?” .  Dan soal anak tangga , Mang Eno sebelumnya sudah menjelaskan tentang 439 anak tangga , Mang Eno bilang anak tangga itu mengibaratkan sulitnya , susahnya untuk menuju ke atas , jadi saat sampai diatas jangan di sia-siakan kesulitan yang sudah kita alami tersebut . Misalnya , anak-anak kampung naga harus bersekolah diluar kampung naga dan setiap harinya harus naik turun tangga , nah saat di sekolah , jangan sia-siakan tenaga yang udah di keluarkan Cuma dengan main – main , harus belajar dengan baik .
Nilai-nilai yang dari tadi saya tulis , menurut saya adalah upaya masyarakat kampung naga untuk menjaga dan menghindari terjadinya konflik yang termasuk dalam manajemen konlik berupa kolaborasi . Sperti yang ditulis oleh Samovar dalam bukunya Komunikasi Lintas Budaya , bahwa kolaborasi adalah pandangan bahwa semua pihak bekerja sama untuk memecahkan masalah . Defleur dan rekannya menjelaskan kolaborasi sebagai usaha yang mempertahankan hubungan yang produktif yang akan mengatasi ketidaksetujuan ketika bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu . Dengan menggunakan cara yang kreatif, tujuan dan kebutuhan setiap orang dapat tercapai .
Saya merasa sangat beruntung bisa mendapatkan pengalaman berharga seperti ini , jika ga karena Pak Inco dan tugas nya saya ga mungkin bisa ke kampung naga . Banyak hal yang bisa saya pelajari dan diimplementasikan dalam kehidupan , khususnya saya sendiri . Saat mendengarkan Mang Eno bercerita , saya berpikir alangkah baiknya jika seluruh dunia bisa berpikiran seperti ini , kesederhanaan , toleransi , dll . Sampai sekarang saya masih merasa takjub dengan orang-orang kampung naga yang bisa memperthankan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan mereka . Mereka juga sangat baik hati dan terbuka kepada orang-orang asing seperti kami . Menurut saya , mereka sangat luar biasa , bisa hidup dengan kesederhanaan walaupun lingkungan sekitar mereka sudah menikmati teknologi yang ada .
Terakhir , saya ingin berterimakasih kepada Pak Inco selaku dosen Komunikasi Antar Budaya yang sudah membuat saya sadar akan perbedaan dan toleransi , kepada Pak Pundu , Mang Eno dan istri , untuk Nenek Tisah yang sudah bersedia menerima kami untuk menginap di rumahnya , Ibu Cucu yang memasakan makanan-makanan yang luar biasa enaknya dan yang terakhir untuk teman-teman saya yang juga pergi ke kampung naga , khususnya untuk yang semobil dengan saya Yogi , Reza , Ervina , Catherine , Michelle , Jessica dan Ayu.. ♥