Pages

Showing posts with label KAB. Show all posts
Showing posts with label KAB. Show all posts

Sunday, January 20, 2013

Kampung Naga : Dari Alam Kembali Ke Alam

Nim: 11140110226
Nama: Elvira Beryl Valencia Gulo
Kelas: G
Artikel ini dibuat untuk memenuhi tugas akhir semester mata kuliah Komunikasi Antar Budaya. Observasi yang saya pilih yaitu Observasi Budaya Kampung Naga.

KAMPUNG NAGA

Mungkin ada beberapa yang tidak asing dengan nama kampung yang unik ini. Atau masih adakah yang bingung, apa sebenarnya Kampung Naga itu?
Pada awalnya saya juga berpikir begitu, ketika mendapat tugas ini, dari begitu banyak  pilihan, saya tertarik dengan nama kampung yang satu ini karena begitu unik. Saya sempat berpikir, apa yang ada dalam Kampung Naga, mengapa diberi nama Kampung Naga, apakah disana ada binatang Naga, padahal selama ini Naga identik dengan mitos hewan dari negeri seberang bukan dari Indonesia. Rasa penasaran inilah yang membawa saya memutuskan untuk melakukan observasi budaya di Kampung Naga.
Saya bersama teman-teman bersama-sama melakukan observasi ke Kampung Naga. Kami berkumpul di dormitory UMN, Sabtu, 15 Desember 2012. Sekitar pukul 05.00 WIB, kami berangkat menuju Tasikmalaya, Jawa Barat.  Perjalanan dari Serpong menuju Kampung Naga ditempuh kurang lebih 7-8 jam. Saya bersama teman-teman menaiki kendaraan pribadi menuju Kampung Naga.

Kampung Naga berada di desa Neglasari, kecamatan Tasikmalaya, Jawa Barat. Ketika sampai disana, saya berpikir bahwa  saya telah sampai, ternyata untuk ke Kampung Naga, saya harus menuruni 439 tangga.  Sebelum turun, saya sempat melihat tugu Kujang Pusaka.


Disana, kami disambut oleh Mang Ijat, seorang warga Kampung Naga yang akan menjadi pemandu kami. Mang Ijat memang benar-benar Sunda asli, gaya bicaranya yang lemah lembut dan ramah serta pakaian nya memakai baju tradisional di Kampung Naga.


Sepanjang perjalanan menuruni tangga, bisa dibilang sangatlah letih. Apalagi saya membawa tas yang lumayan berat karena kami akan menginap disana, tetapi itu semua teratasi saat kita  melihat rumah-rumah penduduk desa Neglasari, ada juga warung-warung, toko oleh-oleh yang menjual kerajinan tangan. Tidak hanya itu, kita juga bisa menikmati pemandangan yang indah dan asri. Kiri-kanan penuh dengan pepohonan yang tinggi dan udara yang sangat sejuk



Dari  atas, kita bisa melihat keindahan Kampung Naga. Rumah-rumah yang berbeda dengan rumah yang saya temui sepanjang saya menuruni tangga. Rumah ini masih tergolong tradisional karena tidak terbuat dari batu bata atau tembok. Mereka berjejer seperti membentuk daerah sendiri, benar-benar Kampung yang mengagumkan.



Nama Kampung Naga, ternyata berasal dari Bahasa Sunda yaitu Nagawir, yang artinya berada di dekat lembah di tengah tebing, tetapi lama-lama kebanyakan orang mulai menyebutnya Naga dan hingga sekarang dikenal dengan nama Kampung Naga.  Kampung Naga berada di bantaran sungai Ciwulan. Sungai ini tidak pernah kebanjiran saat musim hujan dan tidak pernah kering saat musim kemarau.


Kampung Naga memiliki luas area 1,5 hektar dan mempunyai 113 bangunan, termasuk di dalamnya mesjid, balai kampung, dan lumbung padi umum. Jadi jumlah rumah warga ada 110 rumah. Dari 110 rumah, ada 108 kepala keluarga dan total warga Kampung Naga ada 314 orang, baik dari usia 0 (nol) hingga lanjut usia. Warga Kampung Naga 2-3% adalah warga Kampung Naga asli, sedangkan sisanya pendatang dari luar, misalnya karena adanya perkawinan.  Warga Kampung Naga ada juga yang tinggal di luar Kampung Naga yang disebut sanaga.



Dari 1,5 hektar, yang membatasi pemukiman penduduk adalah pagar bambu yang dibilah dan tidak boleh ada satu jengkal pun yang lebih. Di luar pagar bambu tersebut, ada kandang hewan ternak dan kamar mandi.



Mengapa kamar mandi berada di luar?

Di setiap rumah kita tidak akan menemukan kamar mandi karena peraturan yang ada di kampung naga memang seperti itu. Mereka tidak pernah menganggap kamar mandi itu adalah bagian dari rumah. Menurut mereka rumah adalah rumah dan kamar mandi adalah kamar mandi, kecuali di pertengahan kampung, ada mesjid yang memiliki tempat wudhu.


Kamar mandi yang umum ini, memang sempat membuat kami kesulitan karena kami baru pertama kali merasakannya.

Kampung Naga memiliki tiga bangunan yang dikeramatkan:

Bangunan Bumi Ageng, biasanya digunakan saat ritual upacara adat 1 tahun 6 kali, misalnya Maulid Nabi, Muharam, Idul Adha, Isro Miraj, dan hari raya Kampung Naga lainnya. Bangunan ini hanya dimasuki oleh orang-orang tertentu dan hari-hari tertentu, misalnya sesepuh, ketua adat, dan lain-lain.
Bekas Lumbung, tempat lumbung padi ada di Kampung Naga, tetapi ada satu bangunan yang dikeramatkan dinamakan bekas Lumbung yang dipagari oleh bambu. Disebut bekas lumbung karena dulu setiap hasil panen warga Kampung Naga disimpan disitu dan ketika mereka ingin memberi penerus atau suri tauladan beras, mereka dapat mengambil secara sukarela di lumbung tersebut. Bahkan ketika ada acara-acara seperti di Masjid, Balai Kampung, ataupun ada yang meninggal, mereka dapat mengambil beras dari lumbung tersebut.
Bekas Pangsolatan, adalah bangunan yang dikeramatkan ketiga, dimana pernah terbakar tahun 1956 (sejarah Kampung Naga) dan ada bukti monumen berdirinya Kampung Naga disitu. Bekas Pangsolatan hingga kini dipagari oleh pagar bambu tinggi-tinggi dan tidak ada yang berani masuk kedalam situ.


Foto tidak bisa dari dekat karena memang ada larangan untuk foto dari dekat. Selain itu tidak ada yang berani masuk kedalam Bangunan Bekas Pangsolatan. Mang Ijat sendiri sejak lahir dan besar di Kampung Naga tidak pernah masuk ke dalam bangunan tersebut. Untuk foto Bangunan Bumi Ageng dan Bekas Lumbung, Mang Ijat belum mengajak kami kesitu saat tur keliling kampung dan hanya melewati Bangunan Bekas Pangsolatan saja.

Nah, di Kampung Naga juga ada larangan-larangan, misalnya untuk pengunjung ada beberapa daerah dan bangunan yang dilarang masuk dan mengambil gambar atau foto dari dekat, untuk soal hari ada tiga hari yang ditabukan untuk melaksanakan upacara adat dan silsilah tentang sejarah : Selasa, Rabu, dan Sabtu, sedangkan bulan, ada dua bulan yang ditabukan, yaitu Bulan Sapar dan Ramadhan. Untuk aturan sendiri lebih kepada kalimat pamali pada warga Kampung Naga, karena kalimat pamali mengandung tiga unsur: AMANAT, WASIAT, AKIBAT. Jadi misalnya ada yang melanggar, mereka akan dihukum sesuai perilaku masing-masing.

Untuk daerah di Kampung Naga, ada dua hutan yang dilarang untuk sembarang masuk, hutan tersebut lewat dari pagar bambu yang diisi oleh pemukiman:

Hutan Larangan, termasuk dalam hutan lindung. Dinamakan hutan larangan bukan karena ada binatang buas atau hal apapun, tetapi warga atau pengunjung dilarang masuk karena hutan tersebut sangat dijaga kelestariannya, jadi tidak dapat dirusak oleh warga atau pengunjung. Hal ini disebabkan pola hidup warga Kampung Naga yang HIDUP BERSAMA ALAM bukan hidup di alam. Sungai Ciwulan membatasi Hutan Larangan dengan Pemukiman warga.

Hutan Larangan

Hutan Keramat, tidak ada yang memasuki hutan keramat karena itu merupakan tempat makam leluhur dan pendiri Kampung Naga. Disana tidak ada makam khusus, untuk pemakaman warga, gabung dengan warga diluar.

Rumah-rumah di Kampung Naga


Pembuatannya juga berasal dari alam. Bentuk rumah mereka seperti rumah panggung. Atap rumah memakai ijuk yang dilapisi daun tebus, yang kuat dan tidak pernah bocor hingga 30-an tahun dan kerangka untuk atap menggunakan bambu atau kayu.


Bangunan rumah menggunakan kayu Albasia dan Bambu. Kayu Albasia tahan hingga belasan bahkan puluhan tahun. Sebelum dibuat bangunan, kayu Albasia direndam di empang  selama tiga bulan untuk menghindari rayap, setelah itu dikeringkan, diserut, dan diawetkan. Bambu biasanya digunakan sebagai anyaman.

Di dalam satu rumah, memiliki dua pintu. Pintu pertama terbuat dari kayu adalah pintu masuk rumah, sedangkan pintu kedua yang memiliki anyaman dari bambu adalah pintu masuk dapur. Rumah di Kampung Naga ini sangatlah unik. Tujuan pintu dapur memiliki anyaman adalah agar terlihat kegiatan di dalam maupun di luar rumah, jadi kalau terjadi apa-apa, bisa segera diketahui.


Di pintu dapur dipasang sebuah gantungan berbentuk ketupat yang disebut tolak bala. Nah, setahun sekali warga Kampung Naga mengadakan selamatan kampung dan membuat gantungan tersebut. Lima sudut pada ketupat itu mengingatkan warga Kampung Naga agar tidak pernah lupa salat lima waktu.


Cat yang digunakan pada setiap rumah tidak memakai cat pada umumnya, melainkan memakai kapur. Dan ketika mulai memudar, maka akan dicat kembali menggunakan kapur. Selain itu batu yang ada juga tidak disusun menggunakan semen atau pasir, melainkan disusun menggunakan tanah liat.


Rumah di Kampung Naga dibuat saling berhadap-hadapan. Tujuannya agar mudah berkomunikasi dan saling memperhatikan. Misalnya ketika sedang masak, bisa didengar apakah sedang masak atau tidak atau ingin meminta kayu bakar, beras, dan lain-lain.


Mata Pencaharian warga Kampung Naga, mayoritas adalah bertani. Tetapi ada sebagian besar yang berternak dan membuat kerajinan tangan.
Dalam bertani, setahun ada dua kali masa panen. Warga Kampung Naga menggunakan pupuk kandang (kotoran kambing dan ayam) lalu setelah panen ditumbuk dan sesudah jadi beras dimasak menggunakan tungku atau kayu bakar. Jadi semua proses pengolahannya serba tradisional. Uniknya, hasil pertanian berupa beras tidak untuk dijual, tetapi untuk konsumsi keluarga sendiri. Kecuali jika ada sisa atau ada pengunjung yang tertarik dengan beras organik, bisa dibeli langsung ke si penumbuknya dan maksimal 20kg.



Untuk masalah berternak, ada berternak ayam, kambing, sapi, ikan, dan lain-lain. Sisanya adalah para pengrajin. Kebanyakan mereka membuat kerajinan tangan jika sedang ada waktu senggang. Hasil kerajinan tangan ini dijual untuk para pengunjung yang datang ke Kampung Naga.



Nah, saya juga menemukan seorang nenek yang sudah berusia lebih dari 100 tahun dan masih tetap kuat bekerja. Tidak hanya itu, ada juga rumah warga yang sudah ada sejak tahun 1965 dan masih berdiri hingga sekarang. Rumah yang dari tahun 1965 itu di nomori angka “65”.




Keunikan lain di Kampung Naga, yaitu tidak menggunakan listrik atau bisa dikatakan tidak ada akses listrik disana. Penerangan hanya menggunakan lampu minyak, lilin, dan juga senter. Saat malam hari kita bisa merasakan bagaimana kegelapan menyelimuti Kampung Naga. Saya sampai harus menggunakan senter dan berjalan perlahan-lahan menembus gelapnya malam hari.

Mengapa tidak ada listrik???

Setiap budaya yang masuk di Kampung Naga memiliki filter. Jadi hal apapun yang memisahkan adat dan budaya akan ditolak. Contoh LISTRIK. Sebelum listrik masuk desa, Kampung Naga pernah mendapat tawaran untuk mendapat pasokan listrik gratis dan terserah mau digunakan berapa watt. Tetapi warga menolaknya, karena ketika listrik masuk ke Kampung Naga, akan muncul kesenjangan antar warga, seperti mereka yang mampu membeli kulkas, televisi, dan barang elektronik lain. Hal ini bisa menyebabkan hilangnya adat dan budaya mereka.
Walaupun demikian, warga kampung naga juga membutuhkan informasi. Oleh sebab itu televisi dan radio sudah masuk kesana, hanya saja mereka harus  menggunakan aki atau baterai. Nah, untuk televisi berwarna sendiri, ketika memakai aki, hanya akan bisa bertahan 2-3 jam, sedangkan untuk mengisi ulang  baterai atau aki, harus dibawa ke desa atas selama 3 hari 3 malam. Kecuali untuk televisi hitam-putih dapat bertahan 15 hingga 20 hari.

Setelah mendapat banyak pengetahuan tentang Kampung Naga, saya dan teman-teman menginap di salah satu rumah warga. Mereka sangat ramah menyambut kami. Keesokan harinya, kami melanjutkan tur keliling kampung.

Kami melihat rumah-rumah warga, dimana Kampung Naga dibagi jadi dua bagian menurut kelas sosial ekonomi, yaitu Kampung Naga Atas dan Kampung Naga Bawah. Kampung Naga atas biasanya dihuni oleh mereka yang mampu membeli rumah yang ukurannya lebih besar, sedang Kampung Naga bawah ukurannya lebih kecil. Tetapi dalam membangun rumah, mereka tetap mengikuti peraturan adat yang ada.

Selanjutnya melihat lebih dekat lagi tiga bangunan yang ada di Kampung Naga selain rumah penduduk.
Masjid.  Merupakan satu-satunya masjid yang ada di Kampung Naga, tempat warga salat. Pengunjung juga bebas menggunakan masjid saat ingin salat. Masjid berada ditengah-tengah dan bersebelahan dengan Balai Kampung. Di depan masjid ada bedug yang terbuat pohon besar dan kulit kerbau, yang tidak hanya digunakan saat adzan tetapi juga untuk mengumpulkan warga.



Balai Kampung. Merupakan tempat warga berkumpul saat ada pertemuan, perayaan-perayaan upacara adat, pertunjukkan pentas seni, dan ketika banyak pengunjung dalam jumlah banyak mengunjungi Kampung Naga, mereka semua dikumpulkan di Balai Kampung.  Di depan Balai Kampung ada beberapa alat musik tradisional yang  digunakan saat pentas kesenian atau menyambut tamu penting. Berbeda dengan masjid, pada atap Balai Kampung ada dua bambu yang membentuk huruf “V”, yang artinya perdamaian.



Lumbung Padi. Tempat warga menyimpan padi setelah panen. Berada di pertengahan sawah.


Tur kami terus berlanjut. Mang Ijat mengajak kami melihat proses menumbuk padi yang dilakukan ibu-ibu setiap pagi di Kampung Naga. Kebetulan tempat menumbuk berada di antara kolam ikan. Beruntung, pagi itu ada seorang ibu yang tengah menumbuk padi. Pertama-tama, memisahkan padi dengan tangkainya harus ditumbuk di lobang yang lebih besar. Setelah itu pisahkan padi dengan tangkai dan tumbuk di lobang yang kecil untuk memisahkan kulitnya.


Hasilnya akan ada beras dan gabah. Setelah itu pisahkan dan tumbuk, hal itu dilakukan berulang kali hingga gabah menjadi halus dan beras benar-benar terpisah dari gabah.


Inilah Kampung Naga yang benar-benar menghargai alam, gabah tersebut tidak dibuang begitu saja, melainkan gabah yang halus akan dijadikan makanan ikan dan ayam, lalu untuk tangkai-tangkai pada akan dibuat sapu ijuk. Tidak hanya mengajak kami  melihat proses menumbuk padi, Mang Ijat juga mengajak kami melihat proses penangkapan ikan. Ikan ini ditangkap untuk dilihat ukurannya.


Ikan yang ada di kolam ikan itu, umum dipelihara oleh warga. Warga Kampung Naga secara sukarela memelihara ikan. Pengunjung bisa memberi makan ikan, dan dijual rp.1000 per bungkus. Hasil penjualan ini akan dimasukkan dalam kas keuangan Kampung Naga.

KAMPUNG NAGA DAN KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA
Diambil berdasarkan teori buku Communication Between Cultures 7th edition, Larry A. Samovar

Pengertian Komunikasi Antar Budaya dalam buku Communication Between Cultures :
“Komunikasi antar budaya melibatkan interaksi antara orang-orang yang persepsi budaya dan sistem simbolnya cukup berbeda dalam suatu komunikasi.”

Elemen budaya tidak terhitung jumlahnya, tetapi ada lima dasar elemen budaya, yaitu SEJARAH, AGAMA, NILAI, ORGANISASI SOSIAL, dan BAHASA.

Sejarah
Sejarah Kampung Naga hingga saat ini masih menjadi menjadi tanda tanya. Semenjak kebakaran besar menimpa Kampung Naga tahun 1956, semua dokumen berdirinya Kampung Naga ikut terbakar. Sejak saat itulah sejarah Kampung Naga diceritakan secara lisan turun temurun. Kebakaran terjadi saat DI/TII Jawa Barat yang dipimpin oleh Kartoseowiryo yang saat itu sedang berlindung di Kampung Naga. DI/TII saat itu mengajak warga Kampung Naga bergabung dengan mereka untuk membangun negara Islam di Indonesia,tetapi karena sebagian besar warga Kampung Naga berkiblat pada proklamasi, yaitu Soekarno, akhirnya Kampung Naga dibakar dan semua buku-buku sejarah, benda-benda peninggalan semua ikut terbakar, jadi hingga kini hari dan tanggalnya tidak terlihat dan peristiwa kebakaran itu disebut Pareum Obor.
Lalu untuk mengetahui sejarah kapan Kampung Naga berdiri mereka melihat dari kedatangan Islam ke Indonesia dimana pada abad 11, saat itu warga Kampung Naga yang adalah beragama Islam, melakukan salat di batu-batu pada waktu agama Islam turun, dimana batu-batu kecil dirapikan agar dekat mengambil air wudhu, karena dulu pada waktu agama Islam turun, tidak dianjurkan pergi ke masjid tetapi hanya pergi salat. Jadi, dari sinilah mereka tahu bahwa Kampung Naga sudah ada sejak agama Islam turun.

Agama
Tidak diragukan lagi agama yang dianut warga Kampung Naga adalah Islam. Warga Kampung Naga memiliki upacara-upacara adat yang diadakan setahun sekali, seperti Maulid Nabi, Muharam, Idul Adha, Isro Miraj, dan lain-lain. Tetapi biarpun mereka beragama Islam, warga Kampung Naga juga tetap berpegang teguh pada kepercayaan adat istiadat. Misalnya, hari-hari yang ditabukan, jika hari raya Islam jatuh pada hari yang ditabukan, maka mereka akan melaksanakannya keesokan harinya atau hari lain yang tidak ditabukan.

Nilai
Nilai yang dipegang teguh warga Kampung Naga yang utama adalah menghargai alam. Mereka hidup semua berasal dari alam. Lalu ada nilai kekeluargaan yang terasa sangat kental ketika sampai di Kampung Naga, serta nilai Kerjasama. Dimana ada seorang pemimpin bernama Punduh, yang mengatur warga Kampung Naga, jadi ketika ada pembangunan rumah, dia akan mengumpulkan warga dan membantu proses pembangunan rumah hingga selesai. Bahkan ketika kemarin saya kesana, saya melihat atap rumah salah satu warga sedang diganti dan itu dilakukan secara gotong royong.



Organisasi Sosial
Kepemimpinan di Kampung Naga, ada formal dan non formal. Untuk formal dari pemerintahan, ada RT, RW, dan Kepala Dusun, yang dipilih secara demokrasi oleh warga Kampung Naga. Tetapi karena Kampung Naga memegang teguh adat istiadatnya, maka yang berwewenang tetaplah adat. Nah, kalau dari adat atau non formalnya:
a. Kuncen atau Juru Kunci, yang bertugas sebagai pemangku atau pengelola adat.
b. Lebeh, yang bertugas dalam sarana keagamaan, misalnya ada yang meninggal, mulai dari dimandiin hingga dikubur dipimpin oleh dia.
c.   Punduh, yang bertugas mengayomi masyarakat Kampung Naga.


Bahasa
Bahasa yang digunakan oleh warga Kampung Naga sehari-hari adalah bahasa daerah mereka, yaitu Bahasa Sunda. Tetapi mereka juga suka menggunakan Bahasa Indonesia.


Pola-pola budaya adalah suatu sistem serta nilai yang terintegrasi dan bekerja sama untuk menyediakan suatu model terpadu, jika tidak selalu konsisten dalam melihat dunia. Pola-pola budaya yang ada pada budaya Kampung Naga, yaitu
Kolektivis = Warga kampung naga kolektif dalam berbudaya. Mereka peduli terhadap hubungan. Oleh sebab itu hingga sekarang belum pernah terjadi konflik antar warga bahkan antar budaya/suku. Selain itu lebih menekankan pada keanggotaan dan ketergantungan pada kelompok, dimana pembangunan rumah, kamar mandi, persiapan acara adat, persiapan acara-acara besar, hingga ketika ada yang meninggal, semua dilakukan secara gotong royong. Feminin = Perilaku yang lembut dan kesadaran akan manusia dan lingkungan menjadi pola budaya warga Kampung Naga. Mereka sangat peduli terhadap sesama dan terlebih-lebih lingkungan. Prinsip yang dipegang teguh adalah “Alam tidak akan merusak kalau tidak dirusak, jadi perlakuan dengan alam itu harus seimbang.” Perkataan Mang Ijat ini benar-benar membuat saya sadar betapa pentingnya menghargai alam.

Bahasa Dan Budaya

Bahasa memungkinkan untuk bertukar pandangan abstrak, memisahkan manusia dari binatang dengan mengizinkan manusia untuk mengatakan dan menuliskan ide abstrak serta mengizinkan manusia menyampaikan budaya satu ke budaya berikutnya. Bahasa merupakan sejumlah simbol atau tanda yang disetujui untuk digunakan oleh sekelompok orang untuk menghasilkan arti. Hubungan antara simbol yang dipilih dan arti yang disepakati kadang berubah-ubah
Bahasa yang digunakan di Kampung Naga, seperti yang saya jelaskan tadi diatas adalah Bahasa Sunda dan Indonesia. Tetapi mereka lebih sering menggunakan Bahasa Daerah mereka dalam kehidupan sehari-hari. Warga Kampung Naga ketika berbicara lembut dan agak cepat. Adapun variasi bahasa yang saya temui disana adalah aksen dan dialek. Aksen Sunda sangat kental dalam percakapan yang terjadi . Lalu dialek juga, terutama dalam tanda baca, dialek mereka lebih naik turun dan ketika berbicara tidak sesuai dengan tanda baca.

Komunikasi Non Verbal

Komunikasi non verbal lebih banyak dilakukan daripada komunikasi verbal, terutama dalam mengatur interaksi. Warga Kampung Naga lebih sering melakukan komunikasi non verbal, oleh sebab itulah kampung mereka disebut juga kampung yang hening, terutama pada malam hari saat matahari mulai terbenam, hari mulai gelap, mereka akan tetap berada dirumah dan hanya beberapa yang keluar rumah, seperti untuk berjaga-jaga.
Perilaku tubuh
Penampilan, warga Kampung Naga sangat sederhana, warna kulit mereka cenderung coklat karena sebagian besar warga Kampung Naga bekerja sebagai petani. Pakaian mereka juga tergolong biasa, mungkin untuk para pemandu seperti Mang Ijat, berpakaian tradisional mereka dengan memakai penutup kepala seperti topi.
Gerakan, dilihat dari postur tubuh mereka saat berbicara, tangan lebih sering berinteraksi mengikuti percakapan. Saat mempersilahkan seseorang lewat terlebih dahulu, mereka akan sedikit menunduk.
Kontak mata, warga Kampung Naga ketika menatap lawan bicaranya menatap langsung ke lawan bicaranya. Kecuali terhadap orang yang lebih tua atau berbicara dengan ketua adat atau sesepuh, mereka tidak berani menatap secara langsung.
Ekspresi wajah, warga Kampung Naga cenderung murah senyum dan ramah. Saat bertemu di jalan, ketika saya tersenyum, mereka akan tersenyum tanpa ragu-ragu. Jadi ekspresi wajah yang tergambarkan pada mereka adalah selalu tersenyum.
Parabahasa, dalam hal kualitas vokal, warga Kampung Naga walaupun daerahnya berada di tengah-tengah tebing, volume bicara mereka itu kecil dan tidak keras.
Ruang lingkup
Tempat, disetiap rumah, kita tidak akan menemukan sofa pada ruang tamu dan jarang yang memiliki barang-barang elektronik. Untuk sofa atau tempat duduk pada ruang tamu tidak diperbolehkan, jadi kalau memasuki rumah  warga, kita hanya duduk beralaskan tikar. Untuk perabotan lain ada yang diperbolehkan, seperti lemari. Ini adalah foto salah satu ruang tamu rumah warga tempat saya menginap.


Sikap diam, seperti yang saya jelaskan bahwa sikap diam sangat terasa pada warga Kampung Naga, ketika saya menginap di salah satu rumah warga, si empunya rumah selalu berada di dapur dan ketika kami ingin bertanya-tanya, dia baru menjawab. Sikap diam ini juga didasari karena mereka cenderung pemalu menyambut tamu-tamu baru. Selain itu, pada malam hari suasana desa yang hening karena tidak ada listrik, sehingga mereka berada dirumah, menjadi penyebab sikap diam itu, pada malam hari jarang adanya interaksi dengan warga lain, mereka punya kesibukan sendiri di dalam rumah.

Pengaruh Budaya dalam Konteks Pendidikan

Pendidikan yang ditempuh warga Kampung Naga, mayoritas hanya tamatan SD. Walaupun ada yang beberapa sampai perguruan tinggi. Warga Kampung Naga bukannya tidak mau sekolah, mereka ingin bisa sampai perguruan tinggi, hanya saja kembali ke faktor ekonomi, kadang ada yang orang tuanya mampu, tetapi si anak tidak berminat melanjutkan ke jenjang lebih tinggi. Jadi di Kampung Naga tidak ada paksaan mengenai pendidikan, tergantung kemampuan dan minat keluarga dan juga pendidikan mereka tidak diatur oleh adat ataupun budaya.
Tetapi walaupun tidak diatur oleh adat dan budaya, warga Kampung Naga juga berusaha agar tetap bisa mendapatkan informasi dan tidak tertinggal, itulah budaya mereka. Jadi, mereka yang mempunyai televisi tadi berusaha untuk memperbaharui informasi terbaru. Selain itu, Mang Ijat juga mengatakan bahwa, anak-anak Kampung Naga yang bersekolah juga sudah mendapat pelajaran komputer dan bisa mengoperasikannya.

Pernikahan di Kampung Naga

Budaya juga mengatur masalah pernikahan. Di Kampung Naga, pernikahan tidak terlalu erat oleh adat, tetapi satu hal harus secara sederhana. Dalam mencari pasangan, tidak harus sesama warga Kampung Naga, bisa mencari pasangan dari budaya lain, asalkan satu keyakinan dan saling mencintai. Lalu undangan acara pernikahan tidak boleh memakai undangan kertas, tetapi diundang secara lisan, tujuannya agar tidak menimbulkan kecemburuan.

Di Kampung Naga, tidak pernah terjadi konflik yang signifikan, seperti konflik antar warga atau konflik budaya/suku. Menurut Mang Ijat selama ini belum pernah terjadi konflik karena di Kampung Naga, dari awal sudah berlandaskan budaya, karena berlandaskan budaya itulah, di mata adat perbedaan itu adalah warna kehidupan. Jadi, perbedaan tidak dijadikan pertentangan atau peperangan secara adat. Oleh sebab itu, warga kampung naga diperbolehkan bergaul dengn budaya berbeda, berbeda agama maupun etnis.

Ditinjau dari masalah etnosentrisme, budaya Kampung Naga memang menganggap budaya mereka unggul dari budaya lain. Hanya saja mereka tidak memiliki sikap etnosentrisme berlebihan. Dimana ketika saya sedang berbincang-bincang dengan Mang Ijat, beliau sempat mengatakan perbedaan budaya Sunda Kampung Naga dengan Sunda Baduy. Sunda Baduy banyak larangan, bahkan yang tinggal di Baduy Dalam dilarang bersekolah, sedangkan di Kampung Naga tidak begitu. Walaupun demikian Mang Ijat mengaku bahwa hubungan Suku Baduy dengan Kampung Naga terjalin baik.

Budaya Kampung Naga sangat terbuka dengan budaya lain dan tidak saling membedakan serta saling menghargai walaupun berbeda budaya. Tetapi soal masalah budaya modern yang masuk dan memengaruhi Kampung Naga, akan ditolak, karena mereka tetap memegang teguh peraturan adat kampung mereka. Oleh sebab itulah sangat penting menjaga etika dalam budaya. Warga Kampung Naga tidak hanya beretika dengan sesama budaya lain/individu tetapi juga beretika dengan alam. Mereka menghargai alam dan tidak ingin mengganggu keseimbangan alam. Jadi hidup mereka seimbang dengan alam.

Itulah hasil observasi saya selama di Kampung Naga. Banyak pelajaran berharga yang bisa saya ambil, terutama MENGHARGAI ALAM dan BUDAYA LAIN.



Friday, January 18, 2013

Menilik Lebih Dalam Budaya Masyarakat Baduy

NIM: 11140110048
Nama: Sintia Astarina
Kelas: F


 

Kereta ekonomi siang itu tampak begitu sesak. Berbagai pedagang bebas lalu lalang dari gerbong satu ke gerbong lain. Rela menjajakan barang dagangan mereka demi menyambung hidup. Tahu, snack, salak, aksesoris, tisu, minuman, dan sebagainya. Tak mengenal batasan usia dan status sosial, rasanya begitu merakyat ketika harus bersempit-sempit ria di salah satu bangku bersama penumpang lainnya.

Sesak, gerah, panas, sempit, bau asap rokok. Hhhhhh.... nggak heran kalau kereta yang membawa saya beserta ketiga teman lainnya menuju Rangkas Bitung hanya seharga Rp1.500,00 perak. Selama di kereta, kami harus was-was menjaga barang bawaan kami. Namun, Puji Tuhan ketika dua jam kemudian kami telah sampai di tempat yang dituju.
Dari Rangkas Bitung, saya menuju terminal Aweh , lalu berangkat ke desa Ciboleger. Perlu kita ketahui bahwa desa Ciboleger merupakan desa perbatasan sebelum menuju Baduy. Rasanya, sudah tidak sabar menjelajah kebudayaan dan mengeksplorasi berbagai keunikan dari suku tersebut.

Kang Sarwadi dan Kang Sarmidi adalah dua orang yang mengantar saya menuju Baduy. Akang-akang tersebut merupakan kakak-adik yang berasal dari Baduy Dalam. Ketika sampai di Ciboleger, kami disambut oleh mereka. Sebelum menuju Baduy, kami membeli beras dan berbagai makanan lainnya sebagai perbekalan kami di jalan dan saat menginap nanti. Pada awalnya, kami akan menuju Baduy Dalam pada hari pertama. Akan tetapi, langit kian gelap dan hujan pun sedikit menghentikan langkah kami. Akhirnya, kami memutuskan untuk menginap di Baduy Luar terlebih dahulu.

Saat sampai di Baduy Luar, kami disambut ramah oleh pemilik rumah. Kami disuguhi air minum yang ternyata diambil dari sungai. Rasa tanah masih beritu terasa. Sore itu, tak tampak banyak aktivitas yang dilakukan di sana. Hanya ada beberapa anak laki-laki yang bermain bola dan yang lainnya bisa dibilang seperti tidak melakukan aktivitas apa-apa. Pada kesempatan itu, saya pun memulai observasi lebih lanjut. Kami sempat bertanya-tanya kepada Kang Sarmidi dan Kang Sarwadi mengenai budaya dan adat istiadat yang ada di Baduy.



Baduy terletak di Kabupaten Lebak, Banten, di kaki pegunungan Kendeng desa Kanekes. Baduy merupakan panggilan  yang diberikan penduduk luar. Baduy merupakan salah satu suku yang dapat kita pelajari kesehariannya. Banyak orang mengatakan kalau Baduy merupakan suku yang terisolasi. Jujur, saya kurang setuju dengan pernyataan tersebut sebab menurut saya... Baduy sangat terbuka dengan kebudayaan lain. Masyarakat Kanekes juga tidak menolak kehadiran para pengunjung atau wisatawan yang ingin bermain ke Baduy. Buktinya, saat saya menuju Baduy, ada pengunjung lainnya yang juga kebetulan berada di daerah tersebut. Mereka pun berinteraksi satu sama lain dengan orang Baduy.

Dalam konteks “isolasi”, mungkin yang dimaksud adalah masyarakat Baduy mencoba untuk mempertahankan adat istiadat yang dimiliki oleh seluruh warga Baduy yang diwarisi secara turun-temurun. Mereka menolak untuk menerima kebudayaan lain yang sebelumnya tidak mereka kenal. Hal itulah yang membuat masyarakat Baduy (terutama Baduy Dalam) begitu mempertahankan adat istiadat yang menjadi ajaran hidup yang sudah mendarah daging.



Masyarakat suku Baduy memiliki dua sistem pemerintahan yang mana mereka mengikuti aturan negara Indonesia dan mereka pun juga mengikuti adat istiadat yang ada. Kedua sistem pemerintahan itu diakulturasikan oleh masyarakat setempat sehingga tidak ada benturan. Jaro pemerintah adalah sebutan untuk kepala desa dan pu’un adalah pemimpin adat tertinggi masyarakat Baduy. Pu’un mendapatkan jabatannya secara turun-temurun. Jangka waktu menjabat sebagai kepala adat pun tidak menentu, tergantung pada kemampuannya untuk menjabat masyarakat Baduy.

Di Baduy Luar, saya menemukan banyak hal, seperti:

1. Tidak ada listrik sama sekali sehingga untuk penerangan, mereka menggunakan lampu minyak tanah sebagai lilin. Saat malam datang, Baduy Luar begitu gelap gulita. Tidak ada lagi aktivitas yang dilakukan. Malam itu, saya menginap di rumah keluarga Pak Kasmin. Ketika malam datang, saya dan keluarga itu menunggu Pak Kasmin pulang dari ladang, lalu kami pun makan malam bersama. Mereka sungguh ramah dan welcome. Di tengah suasana remang-remang, saya merasa begitu dekat dengan mereka.

Orang Baduy berbicara dengan menggunakan bahasa Sunda, tetapi dengan logat yang kasar. Kang Sarmidi dan Kang Sarwadi bisa berbahasa Indonesia dengan baik sebab mereka berdua sering bergaul dengan orang luar Baduy sehingga mereka tidak terlalu kesulitan berkomunikasi dengan saya dan teman-teman.

Dari hal tersebut, saya merasa kalau komunikasi memungkinkan kita untuk mengumpulkan beragam informasi tentang sesuatu yang belum kita ketahui. Meskipun dalam budaya yang berbeda, kita bisa saling sharing dan berbagi pengalaman. Kang Sarmidi dan Kang Sarwadi senang berbagi informasi mengenai budaya yang terdapat di Baduy. Meski mereka berasal dari Baduy Dalam, mereka juga setia menjalin relasi dengan warga Baduy Luar.

Komunikasi yang baik juga menolong saya untuk memenuhi kebutuhan interpersonal. Saya ingin mengetahui banyak tentang Baduy. Kalau saya melakukan observasi sebatas melihat-lihat saja, mungkin saya nggak akan dapat apa-apa karena dari awal yang saya lihat adalah aktivitas yang tidak terlalu sibuk. Untungnya, Kang Sarmidi dan Kang Sarwadi begitu friendly sehingga mereka berdua bisa menyatakan informasi mengenai budaya yang ada lewat interaksi dan komunikasi kepada saya.


Selain itu, komunikasi juga mampu membentuk identitas diri. Saat Kang Sarmidi dan Kang Sarwadi berbicara dengan teman-temannya, mereka akan menggunakan bahasa Sunda. Lain halnya ketika sedang berbicara dengan saya, mereka akan menggunakan bahasa Indonesia. Akan tetapi, sedikit-sedikit saya belajar bahasa Sunda dari mereka. Saya pun jadi tahu beberapa bahasa Sunda dari Kang Sarwadi seperti punten (permisi), teteh (sebutan untuk kakak perempuan), matur nuwun (terima kasih).


2. Baduy Luar memiliki “kamar mandi” seadanya, bahkan dalam keadaan ruang terbuka. Sewaktu saya sampai di sana, agak kaget juga sih melihat “kamar mandi” di alam terbuka, berdinding kayu yang tidak rapat dan selembar kain menjadi penutup. Akhirnya, Kang Sarmidi dan Kang Sarwadi menyuruh saya dan teman-teman saya untuk mandi di rumah tetangga.

3. Rumah-rumah di Baduy Luar menggunakan kirai dan kayu mahoni yang direkatkan dengan paku.



4. Mayoritas masyarakat suku Baduy menganut agama Sunda Wiwitan yang ajarannya hampir sama dengan agama Islam. Hari Raya agama Sunda Wiwitan berlangsung pada bulan terakhir (bulan ke-12) atau yang sering disebut bulan Hapid Kayu. Ya... ternyata masyarakat Baduy mengenal penanggalannya sendiri. Kalau kita mengenal bulan Januari, Februari, Maret, dan seterusnya, mereka mengenal bulan Kasa, karo, Katilu, dan sebagainya. Masyarakat Baduy pun juga mengenal adanya 12 bulan dalam setahun, sama seperti kita.

5. Mata pencaharian masyarakat Baduy Luar sangat tergantung musim. Ada yang mencabuti rumput di ladang, ada yang menjual souvenir khas Baduy, dan sebagainya. Kebanyakan, mereka bermata pencaharian sebagai petani. Hasil perkebunan dan pertanian seperti petai, durian, pisang, dan rambutan dijual ke pasar. Setiap paginya, bapak-bapak pergi ke ladang diikuti oleh anak laki-lakinya, sedangkan yang perempuan ikut ibunya. Entah itu mengurusi rumah, belajar menenun, mengurusi dapur, atau melakukan kegiatan lainnya.




6. Masyarakat Baduy Luar diperbolehkan untuk bercerai dan dibatasi setiap keluarga hanya memiliki empat anak saja.

7. Anak-anak di Baduy Luar tidak sekolah dan ini pun juga terjadi pada anak-anak di Baduy Dalam. Mengapa? Dulu, pemerintah pernah berencana untuk membangun sekolah di Baduy, tetapi masyarakat menolaknya dengan alasan akan melanggar aturan adat. Itulah yang menjadi salah satu penyebab sebagian orang Baduy tidak bisa baca dan tulis. Oh ya, masyarakat Baduy juga memiliki worldview seperti ini, “Buat apa sekolah tinggi-tinggi, kalau kita nggak bisa bekerja dan menghasilkan uang?” Jadi, selama ini anak-anak pure  ikut kedua orang tua mereka bekerja. Bahkan, Kang Sarmidi dan Kang Sarwadi menyebut ladang sebagai “kantor”, bertani disebut sebagai “sekolah”.

Keesokan harinya ketika matahari telah bersambut, kami sengaja bangun pagi dan segera bersiap-siap untuk menuju Baduy Dalam. Agak kaget juga sih ketika temen-temen lain bilang, perjalanan menuju Baduy Dalam akan memakan waktu sekitar empat jam! Empat jam itu akan dilewati dengan berjalan kaki sepanjang hari, melewati jalanan yang tak rata, dan cuaca yang tak menentu.




Sebelum berangkat menuju Baduy Dalam, kami mendengar ada suara merdu tak jauh dari rumah tempat kami menginap. Ternyata, para gadis dan wanita Baduy sedang menumbuk padi. Penasaran, kami pun menghampiri dan memerhatikan mereka dari dekat. Perlu kita ketahui, menumbuk padi adalah kebiasaan perempuan-perempuan Baduy di pagi hari. Bunyi merdu dari lesung  seakan-akan membuat melodi syahdu di tengah dinginnya udara pagi. Nah, padi yang sudah ditumbuk ini diletakkan di dalam leuit dan bisa disimpan selama puluhan tahun lamanya.

Akhirnya, sampailah kami di desa Cibeo. Desa ini merupakan desa terluar dari Baduy Dalam. Saya terpukau dengan keindahan Baduy Dalam. Menurut saya pribadi, Baduy Dalam lebih bagus dan rapi dibandingkan Baduy Luar. Rumah-rumah di sini memang lebih tinggi dibandingkan Baduy Luar dan menggunakan rumbia yang diikat dengan rotan. Lalu, rumah kepala adat atau pu’un diberi ciri khas tersendiri yakni rumahnya yang tidak menghadap ke utara dan selatan. Selain itu, halaman rumah pu’un begitu luas dan dihiasi hamparan rumput hijau. Tidak sembarangan orang bisa memasuki wilayah rumah pu’un tanpa keperluan khusus karena akan dianggap tidak sopan.

Baduy Dalam nyatanya memiliki aturan dan adat istiadat yang sangat ketat. Nah, sebagai pendatang, mau tak mau kita harus menurutinya. Aturan adat di Baduy Dalam adalah sebagai berikut.

1. Masyarakat Baduy Dalam dan semua pengunjung yang datang ke sana pantang teknologi. Warga Kanekes tidak diperbolehkan menggunakan teknologi seperti handphone, kamera, dan  lain-lain. Sebenarnya, agak kurang berguna juga sih, sebab di Baduy tidak ada sinyal sama sekali dan listrik pun juga tidak ada.

2. Tidak menggunakan alas kaki. Kebiasaan yang dilakukan sejak kecil ini nyatanya membuat warga Baduy dalam menjadi kuat ketika harus bepergian jauh. Bahkan, Kang Sarmidi dan Sarwadi pernah ke Bekasi tanpa menggunakan alas kaki, lho!

3. Tidak diperbolehkan menggunakan alat transportasi. Sehari-hari, mereka berjalan ke sana-kemari tanpa kendaraan. Mereka mengandalkan kaki-kaki mereka yang begitu kuat guna menopang tubuh mereka. Hal ini sudah menjadi hal yang biasa dilakukan sejak kecil sehingga masyarakat Baduy Dalam sudah terbiasa melintasi jalanan yang licin, berbatu, turunan, maupun tanjakan.



4. Tidak boleh merokok dan mabuk-mabukan.

5. Menggunakan pakaian berwarna hitam atau putih (baju sangsang) yang ditenun sendiri. Mereka juga harus menggunakan ikat kepala berwarna putih dan gelang pemberian dari lahir sebagai ciri khas masyarakat Baduy Dalam.

6.  Tidak boleh menggunakan sabun untuk mandi dan pasta gigi. Selama ini, orang-orang Baduy menggunakan sabut kelapa untuk menggosok gigi, larek (semacam tumbuhan yang bisa mengeluarkan busa) untuk mencuci baju, dan tidak menggunakan sabun. Sungai pun menjadi tempat untuk mencuci baju dan juga mandi.



Nah, apabila masyarakat Baduy Dalam melanggar aturan tersebut, pu’un tidak segan-segan untuk mengeluarkan mereka dari sana. Selain itu, masyarakat Baduy Dalam bisa dikeluarkan dari wilayah itu apabila mereka berkeinginan untuk keluar dari Baduy Dalam atau menikah dengan Baduy Luar. Hal itu sangat tidak diperbolehkan karena dianggap melanggar aturan adat. Tampaknya, adat istiadat memang menjadi tolok ukur bagi seseorang untuk melakukan kesehariannya.

Saat saya di Baduy Dalam, saya dan teman-teman memutuskan untuk mandi di sungai. Lucunya, anak-anak lelaki kecil asyik mengamati kami dari atas jembatan. Tak jauh dari sana, kami pun melihat Ibu-ibu Baduy Dalam yang dengan asyiknya mandi di sungai dengan bertelanjang dada. Padahal, sungai itu merupakan alam terbuka dan banyak Bapak-bapak yang melintas di jembatan.

Satu hal yang saya tangkap, persaudaraan di Baduy Dalam begitu terjalin dengan erat lewat interaksi sosial satu sama lain. Entah itu antara sesama penduduk Baduy Dalam, maupun antara Baduy Dalam dan Luar.  Ya... mungkin rasa persaudaraan itulah yang membuat Ibu-ibu itu bebas dan tidak merasa malu untuk begitu “terbuka” di depan umum.

Nah, di Baduy Dalam kan nggak ada kamar mandi. Jadi, kalau kita mau buang air besar atau kecil, kita buang di sungai di antara rawa-rawa. Boleh dibilang, sungai yang paling ujung airnya diambil untuk minum, kemudian untuk mandi, dan terakhir untuk pembuangan.

Pernikahan
Masyarakat Baduy menikah pada umur 20-25 tahun untuk laki-laki dan di atas 16 tahun untuk perempuan. Masyarakat Baduy Dalam dijodohkan satu sama lain, tidak peduli ada hubungan persaudaraan atau hubungan darah.

Pernikahan ini memakan waktu kira-kira satu tahun dan melalui tiga tahap, yaitu pihak laki-laki menanyakan kesediaan dari pihak perempuan. Kemudian, apabila si perempuan setuju, si laki-laki akan emmbawa peralatan dapur yang menyatakan keseriusannya. Terakhir, mereka berdua bisa menikah dan pihak laki-laki membawa perhiasan (mahar). Nah, jika ingin mencari perempuan Baduy yang belum menikah, kita bisa melihatnya dari anting berwarna yang dikenakannya.

Kalau begitu, bisa dibilang hampir semua masyarakat di Baduy Dalam ini memiliki tali persaudaraan sebab perjodohan ini dilakukan hanya untuk wilayah Baduy Dalam saja. Istri cukup satu dan mereka pun tidak boleh bercerai. Untuk Baduy Luar, mereka bebas memilih pasangan hidup mereka masing-masing. DI Baduy sendiri pun juga tidak mengenal adanya poligami.

Kelahiran
Sistem kelahiran masyarakat Baduy menggunakan bantuan paraji atau dukun beranak. Prosesnya pun juga sederhana dan jauh dari kata modern. Nah, penamaan untuk anak-anak di Baduy juga cukup menggunakan satu kata saja, misalnya Jamra, Jamir, Kasmin, Armuta, dan lain-lain.



Kematian
Ketika ada salah satu masyarakat Baduy yang meninggal dunia, apak diadakan acara pada hari pertama, ketiga, dan ketujuh. Proses pemakaman berlangsung singkat. Orang yang meninggal akan dibungkus kain putih dan dimandikan di tempat pemandian setinggi dada, lalu dikubur di tempat khusus. Pada hari ketiga, akan diadakan selametan. Pada hari ketujuh, kuburan tetap dirawat. Anehnya, setelah kuburan kembali menjadi rata, daerah itu bisa diinjak-injak dan bisa digunakan sebagai ladang.

Memasuki hari ketiga, sudah saatnya pulang. Pagi-pagi buta, ayam jantan saling bersahut-sahutan, berlomba-lomba untuk membangunkan para jiwa yang tengah tertidur pulas. Setelah melewati beberapa jam untuk beristiratat, kami pun beres-beres dan kembali ke desa Ciboleger.  Berbekal sisa-sisa tenaga yang kami miliki, kami pun beranjak dari Baduy Dalam menuju Baduy Luar, kemudian menuju desa Ciboleger. Lelah tak terperi sungguh kami rasakan, mengingat kami harus menempuh  waktu perjalanan selama 4 jam (lagi)!

Nah, ketika saya sampai kembali di Baduy Luar, saya melihat beragam aktivitas lain dari para penduduk desa Kanekes, terutama para perempuannya. Ada banyak wanita yang sedang menenun kain. Seperti yang sudah disampaikan pada penjelasan awal bahwa wanita Baduy harus bisa menenun kain sebab menenun adalah salah satu mata pencaharian mereka. Selain itu, wanita yang tidak bisa menenun tidak boleh menikah, lho!




Setelah merasakan betapa berbedanya menjadi orang Baduy Luar dan Baduy Dalam selama tiga hari, saya pun juga mempelajari berbagai karakteristik budaya yang melekat pada masyarakat suku Baduy tersebut. Karakteristik kebudayaan yang ada di sana begitu menolong saya untuk menjadi seorang pelaku komunikasi antarbudaya yang lebih baik.

Berkaitan dengan teori konflik, meski Baduy Luar dan Baduy Dalam memiliki budaya yang sedikit berbeda, tetapi masyarakatnya tidak pernah memiliki konflik. Malahan, keduanya senantiasa menyesuaikan diri terhadap budaya-budaya yang ada dan selalu berusaha untuk menghindari konflik. Mereka lebih menginginkan untuk menata kehidupan dan tingkah laku sehingga keberadaannya bisa tetap dipertahankan. Masyarakat Baduy pun selalu bersikap sopan dalam bertindak dan berbicara.

Budaya itu dipelajari. Ketika seorang anak lahir, tentu ia akan mengikuti kebudayaan maupun adat istiadat yang dipegang teguh oleh kedua orang tua mereka. Masyarakat Baduy senantiasa menjalankan adat yang sudah mereka dapatkan sejak kecil. Begitu juga dengan Kang Sarwadi dan Kang Sarmidi. Mereka telah terbiasa berjalan ke manapun tanpa alas kaki, sebab dari kecil pun mereka tidak mengenal sandal atau sepatu. Itulah salah satu peraturan adat yang mereka pelajari. Selain itu, mereka juga belajar bagaimana bertahan hidup dari pengaruh budaya modern. Mereka harus menjalani hidup sehari-hari tanpa alat komunikasi, tanpa internet, baju mewah, ataupun makanan enak dari tempat lain.



Perlu kita ketahui, kehidupan masyarakat Baduy juga bisa tergambar melalui peribahasa, “Perbuatan lebih berarti dari kata-kata dan tiada hasil tanpa jerih payah”. Laki-laki maupun perempuan menerapkan budaya dalam bekerja. Kalau mereka tidak bekerja, tentu mereka tidak akan menghasilkan apa-apa. Kerja keras masyarakat Baduy yang berasal dari penjualan souvenir, hasil bertani, maupun penjualan hasil pertanian nyatanya bisa membuat mereka hidup nikmat, meski keterbatasan materi kerap menghantui mereka.

Budaya itu dibagikan. Budaya yang ada di masyarakat Baduy menunjukan identitas mereka sebagai suatu suku yang sangat menghormati adat istiadat. Tidak hanya ada satu atau dua orang saja yang menganutnya, tetapi seluruh masyarakat Baduy patuh dengan budaya yang sudah mendarah daging di diri mereka. Nah, dengan adanya identitas budaya itu, masyarakat suku Baduy bisa mengenal keunikan yang ada pada budaya-budaya lainnya. Mereka pun juga tahu bagaimana harus berperilaku seharusnya.

Kemudian, budaya itu diturunkan dari generasi ke generasi. Untuk karakteristik budaya ini tampak jelas. Suku Baduy memiliki warisan sosial dan budaya yang mereka dapatkan dari nenek moyang mereka. Kalau melanggar aturan adat tersebut, mau tak mau mereka harus bersedia untuk mendapatkan sanksi dan hukuman. Budaya pun didasarkan pada simbol. Bisa kita lihat dari bentuk rumah, model pakaian, mata pencaharian, sampai tradisi-tradisi yang menunjukan bahwa masyarakat Baduy memiliki pandangannya sendiri akan suatu aspek kehidupan.

Pada intinya, masyarakat Baduy Luar dan Baduy Dalam selalu berusaha memegang teguh budaya yang sudah masuk ke dalam aspek kehidupan mereka. Mereka tidak peduli bagaimana orang-orang di luar sana yang bisa menggunakan mobil, menggunakan baju ala perkotaan, tinggal di rumah mewah, ataupun menggunakan alat komunikasi untuk berhubungan dengan orang luar. Adat istiadat yang mengikat telah membuat mereka nyaman dengan apa yang mereka miliki sebab budaya-budaya yang ada di sana telah membentuk pemikiran, perilaku, dan cara pandang atas suatu kehidupan pada masyarakat suku Baduy.