Pages

Showing posts with label Tradisi. Show all posts
Showing posts with label Tradisi. Show all posts

Friday, January 18, 2013

Menilik Lebih Dalam Budaya Masyarakat Baduy

NIM: 11140110048
Nama: Sintia Astarina
Kelas: F


 

Kereta ekonomi siang itu tampak begitu sesak. Berbagai pedagang bebas lalu lalang dari gerbong satu ke gerbong lain. Rela menjajakan barang dagangan mereka demi menyambung hidup. Tahu, snack, salak, aksesoris, tisu, minuman, dan sebagainya. Tak mengenal batasan usia dan status sosial, rasanya begitu merakyat ketika harus bersempit-sempit ria di salah satu bangku bersama penumpang lainnya.

Sesak, gerah, panas, sempit, bau asap rokok. Hhhhhh.... nggak heran kalau kereta yang membawa saya beserta ketiga teman lainnya menuju Rangkas Bitung hanya seharga Rp1.500,00 perak. Selama di kereta, kami harus was-was menjaga barang bawaan kami. Namun, Puji Tuhan ketika dua jam kemudian kami telah sampai di tempat yang dituju.
Dari Rangkas Bitung, saya menuju terminal Aweh , lalu berangkat ke desa Ciboleger. Perlu kita ketahui bahwa desa Ciboleger merupakan desa perbatasan sebelum menuju Baduy. Rasanya, sudah tidak sabar menjelajah kebudayaan dan mengeksplorasi berbagai keunikan dari suku tersebut.

Kang Sarwadi dan Kang Sarmidi adalah dua orang yang mengantar saya menuju Baduy. Akang-akang tersebut merupakan kakak-adik yang berasal dari Baduy Dalam. Ketika sampai di Ciboleger, kami disambut oleh mereka. Sebelum menuju Baduy, kami membeli beras dan berbagai makanan lainnya sebagai perbekalan kami di jalan dan saat menginap nanti. Pada awalnya, kami akan menuju Baduy Dalam pada hari pertama. Akan tetapi, langit kian gelap dan hujan pun sedikit menghentikan langkah kami. Akhirnya, kami memutuskan untuk menginap di Baduy Luar terlebih dahulu.

Saat sampai di Baduy Luar, kami disambut ramah oleh pemilik rumah. Kami disuguhi air minum yang ternyata diambil dari sungai. Rasa tanah masih beritu terasa. Sore itu, tak tampak banyak aktivitas yang dilakukan di sana. Hanya ada beberapa anak laki-laki yang bermain bola dan yang lainnya bisa dibilang seperti tidak melakukan aktivitas apa-apa. Pada kesempatan itu, saya pun memulai observasi lebih lanjut. Kami sempat bertanya-tanya kepada Kang Sarmidi dan Kang Sarwadi mengenai budaya dan adat istiadat yang ada di Baduy.



Baduy terletak di Kabupaten Lebak, Banten, di kaki pegunungan Kendeng desa Kanekes. Baduy merupakan panggilan  yang diberikan penduduk luar. Baduy merupakan salah satu suku yang dapat kita pelajari kesehariannya. Banyak orang mengatakan kalau Baduy merupakan suku yang terisolasi. Jujur, saya kurang setuju dengan pernyataan tersebut sebab menurut saya... Baduy sangat terbuka dengan kebudayaan lain. Masyarakat Kanekes juga tidak menolak kehadiran para pengunjung atau wisatawan yang ingin bermain ke Baduy. Buktinya, saat saya menuju Baduy, ada pengunjung lainnya yang juga kebetulan berada di daerah tersebut. Mereka pun berinteraksi satu sama lain dengan orang Baduy.

Dalam konteks “isolasi”, mungkin yang dimaksud adalah masyarakat Baduy mencoba untuk mempertahankan adat istiadat yang dimiliki oleh seluruh warga Baduy yang diwarisi secara turun-temurun. Mereka menolak untuk menerima kebudayaan lain yang sebelumnya tidak mereka kenal. Hal itulah yang membuat masyarakat Baduy (terutama Baduy Dalam) begitu mempertahankan adat istiadat yang menjadi ajaran hidup yang sudah mendarah daging.



Masyarakat suku Baduy memiliki dua sistem pemerintahan yang mana mereka mengikuti aturan negara Indonesia dan mereka pun juga mengikuti adat istiadat yang ada. Kedua sistem pemerintahan itu diakulturasikan oleh masyarakat setempat sehingga tidak ada benturan. Jaro pemerintah adalah sebutan untuk kepala desa dan pu’un adalah pemimpin adat tertinggi masyarakat Baduy. Pu’un mendapatkan jabatannya secara turun-temurun. Jangka waktu menjabat sebagai kepala adat pun tidak menentu, tergantung pada kemampuannya untuk menjabat masyarakat Baduy.

Di Baduy Luar, saya menemukan banyak hal, seperti:

1. Tidak ada listrik sama sekali sehingga untuk penerangan, mereka menggunakan lampu minyak tanah sebagai lilin. Saat malam datang, Baduy Luar begitu gelap gulita. Tidak ada lagi aktivitas yang dilakukan. Malam itu, saya menginap di rumah keluarga Pak Kasmin. Ketika malam datang, saya dan keluarga itu menunggu Pak Kasmin pulang dari ladang, lalu kami pun makan malam bersama. Mereka sungguh ramah dan welcome. Di tengah suasana remang-remang, saya merasa begitu dekat dengan mereka.

Orang Baduy berbicara dengan menggunakan bahasa Sunda, tetapi dengan logat yang kasar. Kang Sarmidi dan Kang Sarwadi bisa berbahasa Indonesia dengan baik sebab mereka berdua sering bergaul dengan orang luar Baduy sehingga mereka tidak terlalu kesulitan berkomunikasi dengan saya dan teman-teman.

Dari hal tersebut, saya merasa kalau komunikasi memungkinkan kita untuk mengumpulkan beragam informasi tentang sesuatu yang belum kita ketahui. Meskipun dalam budaya yang berbeda, kita bisa saling sharing dan berbagi pengalaman. Kang Sarmidi dan Kang Sarwadi senang berbagi informasi mengenai budaya yang terdapat di Baduy. Meski mereka berasal dari Baduy Dalam, mereka juga setia menjalin relasi dengan warga Baduy Luar.

Komunikasi yang baik juga menolong saya untuk memenuhi kebutuhan interpersonal. Saya ingin mengetahui banyak tentang Baduy. Kalau saya melakukan observasi sebatas melihat-lihat saja, mungkin saya nggak akan dapat apa-apa karena dari awal yang saya lihat adalah aktivitas yang tidak terlalu sibuk. Untungnya, Kang Sarmidi dan Kang Sarwadi begitu friendly sehingga mereka berdua bisa menyatakan informasi mengenai budaya yang ada lewat interaksi dan komunikasi kepada saya.


Selain itu, komunikasi juga mampu membentuk identitas diri. Saat Kang Sarmidi dan Kang Sarwadi berbicara dengan teman-temannya, mereka akan menggunakan bahasa Sunda. Lain halnya ketika sedang berbicara dengan saya, mereka akan menggunakan bahasa Indonesia. Akan tetapi, sedikit-sedikit saya belajar bahasa Sunda dari mereka. Saya pun jadi tahu beberapa bahasa Sunda dari Kang Sarwadi seperti punten (permisi), teteh (sebutan untuk kakak perempuan), matur nuwun (terima kasih).


2. Baduy Luar memiliki “kamar mandi” seadanya, bahkan dalam keadaan ruang terbuka. Sewaktu saya sampai di sana, agak kaget juga sih melihat “kamar mandi” di alam terbuka, berdinding kayu yang tidak rapat dan selembar kain menjadi penutup. Akhirnya, Kang Sarmidi dan Kang Sarwadi menyuruh saya dan teman-teman saya untuk mandi di rumah tetangga.

3. Rumah-rumah di Baduy Luar menggunakan kirai dan kayu mahoni yang direkatkan dengan paku.



4. Mayoritas masyarakat suku Baduy menganut agama Sunda Wiwitan yang ajarannya hampir sama dengan agama Islam. Hari Raya agama Sunda Wiwitan berlangsung pada bulan terakhir (bulan ke-12) atau yang sering disebut bulan Hapid Kayu. Ya... ternyata masyarakat Baduy mengenal penanggalannya sendiri. Kalau kita mengenal bulan Januari, Februari, Maret, dan seterusnya, mereka mengenal bulan Kasa, karo, Katilu, dan sebagainya. Masyarakat Baduy pun juga mengenal adanya 12 bulan dalam setahun, sama seperti kita.

5. Mata pencaharian masyarakat Baduy Luar sangat tergantung musim. Ada yang mencabuti rumput di ladang, ada yang menjual souvenir khas Baduy, dan sebagainya. Kebanyakan, mereka bermata pencaharian sebagai petani. Hasil perkebunan dan pertanian seperti petai, durian, pisang, dan rambutan dijual ke pasar. Setiap paginya, bapak-bapak pergi ke ladang diikuti oleh anak laki-lakinya, sedangkan yang perempuan ikut ibunya. Entah itu mengurusi rumah, belajar menenun, mengurusi dapur, atau melakukan kegiatan lainnya.




6. Masyarakat Baduy Luar diperbolehkan untuk bercerai dan dibatasi setiap keluarga hanya memiliki empat anak saja.

7. Anak-anak di Baduy Luar tidak sekolah dan ini pun juga terjadi pada anak-anak di Baduy Dalam. Mengapa? Dulu, pemerintah pernah berencana untuk membangun sekolah di Baduy, tetapi masyarakat menolaknya dengan alasan akan melanggar aturan adat. Itulah yang menjadi salah satu penyebab sebagian orang Baduy tidak bisa baca dan tulis. Oh ya, masyarakat Baduy juga memiliki worldview seperti ini, “Buat apa sekolah tinggi-tinggi, kalau kita nggak bisa bekerja dan menghasilkan uang?” Jadi, selama ini anak-anak pure  ikut kedua orang tua mereka bekerja. Bahkan, Kang Sarmidi dan Kang Sarwadi menyebut ladang sebagai “kantor”, bertani disebut sebagai “sekolah”.

Keesokan harinya ketika matahari telah bersambut, kami sengaja bangun pagi dan segera bersiap-siap untuk menuju Baduy Dalam. Agak kaget juga sih ketika temen-temen lain bilang, perjalanan menuju Baduy Dalam akan memakan waktu sekitar empat jam! Empat jam itu akan dilewati dengan berjalan kaki sepanjang hari, melewati jalanan yang tak rata, dan cuaca yang tak menentu.




Sebelum berangkat menuju Baduy Dalam, kami mendengar ada suara merdu tak jauh dari rumah tempat kami menginap. Ternyata, para gadis dan wanita Baduy sedang menumbuk padi. Penasaran, kami pun menghampiri dan memerhatikan mereka dari dekat. Perlu kita ketahui, menumbuk padi adalah kebiasaan perempuan-perempuan Baduy di pagi hari. Bunyi merdu dari lesung  seakan-akan membuat melodi syahdu di tengah dinginnya udara pagi. Nah, padi yang sudah ditumbuk ini diletakkan di dalam leuit dan bisa disimpan selama puluhan tahun lamanya.

Akhirnya, sampailah kami di desa Cibeo. Desa ini merupakan desa terluar dari Baduy Dalam. Saya terpukau dengan keindahan Baduy Dalam. Menurut saya pribadi, Baduy Dalam lebih bagus dan rapi dibandingkan Baduy Luar. Rumah-rumah di sini memang lebih tinggi dibandingkan Baduy Luar dan menggunakan rumbia yang diikat dengan rotan. Lalu, rumah kepala adat atau pu’un diberi ciri khas tersendiri yakni rumahnya yang tidak menghadap ke utara dan selatan. Selain itu, halaman rumah pu’un begitu luas dan dihiasi hamparan rumput hijau. Tidak sembarangan orang bisa memasuki wilayah rumah pu’un tanpa keperluan khusus karena akan dianggap tidak sopan.

Baduy Dalam nyatanya memiliki aturan dan adat istiadat yang sangat ketat. Nah, sebagai pendatang, mau tak mau kita harus menurutinya. Aturan adat di Baduy Dalam adalah sebagai berikut.

1. Masyarakat Baduy Dalam dan semua pengunjung yang datang ke sana pantang teknologi. Warga Kanekes tidak diperbolehkan menggunakan teknologi seperti handphone, kamera, dan  lain-lain. Sebenarnya, agak kurang berguna juga sih, sebab di Baduy tidak ada sinyal sama sekali dan listrik pun juga tidak ada.

2. Tidak menggunakan alas kaki. Kebiasaan yang dilakukan sejak kecil ini nyatanya membuat warga Baduy dalam menjadi kuat ketika harus bepergian jauh. Bahkan, Kang Sarmidi dan Sarwadi pernah ke Bekasi tanpa menggunakan alas kaki, lho!

3. Tidak diperbolehkan menggunakan alat transportasi. Sehari-hari, mereka berjalan ke sana-kemari tanpa kendaraan. Mereka mengandalkan kaki-kaki mereka yang begitu kuat guna menopang tubuh mereka. Hal ini sudah menjadi hal yang biasa dilakukan sejak kecil sehingga masyarakat Baduy Dalam sudah terbiasa melintasi jalanan yang licin, berbatu, turunan, maupun tanjakan.



4. Tidak boleh merokok dan mabuk-mabukan.

5. Menggunakan pakaian berwarna hitam atau putih (baju sangsang) yang ditenun sendiri. Mereka juga harus menggunakan ikat kepala berwarna putih dan gelang pemberian dari lahir sebagai ciri khas masyarakat Baduy Dalam.

6.  Tidak boleh menggunakan sabun untuk mandi dan pasta gigi. Selama ini, orang-orang Baduy menggunakan sabut kelapa untuk menggosok gigi, larek (semacam tumbuhan yang bisa mengeluarkan busa) untuk mencuci baju, dan tidak menggunakan sabun. Sungai pun menjadi tempat untuk mencuci baju dan juga mandi.



Nah, apabila masyarakat Baduy Dalam melanggar aturan tersebut, pu’un tidak segan-segan untuk mengeluarkan mereka dari sana. Selain itu, masyarakat Baduy Dalam bisa dikeluarkan dari wilayah itu apabila mereka berkeinginan untuk keluar dari Baduy Dalam atau menikah dengan Baduy Luar. Hal itu sangat tidak diperbolehkan karena dianggap melanggar aturan adat. Tampaknya, adat istiadat memang menjadi tolok ukur bagi seseorang untuk melakukan kesehariannya.

Saat saya di Baduy Dalam, saya dan teman-teman memutuskan untuk mandi di sungai. Lucunya, anak-anak lelaki kecil asyik mengamati kami dari atas jembatan. Tak jauh dari sana, kami pun melihat Ibu-ibu Baduy Dalam yang dengan asyiknya mandi di sungai dengan bertelanjang dada. Padahal, sungai itu merupakan alam terbuka dan banyak Bapak-bapak yang melintas di jembatan.

Satu hal yang saya tangkap, persaudaraan di Baduy Dalam begitu terjalin dengan erat lewat interaksi sosial satu sama lain. Entah itu antara sesama penduduk Baduy Dalam, maupun antara Baduy Dalam dan Luar.  Ya... mungkin rasa persaudaraan itulah yang membuat Ibu-ibu itu bebas dan tidak merasa malu untuk begitu “terbuka” di depan umum.

Nah, di Baduy Dalam kan nggak ada kamar mandi. Jadi, kalau kita mau buang air besar atau kecil, kita buang di sungai di antara rawa-rawa. Boleh dibilang, sungai yang paling ujung airnya diambil untuk minum, kemudian untuk mandi, dan terakhir untuk pembuangan.

Pernikahan
Masyarakat Baduy menikah pada umur 20-25 tahun untuk laki-laki dan di atas 16 tahun untuk perempuan. Masyarakat Baduy Dalam dijodohkan satu sama lain, tidak peduli ada hubungan persaudaraan atau hubungan darah.

Pernikahan ini memakan waktu kira-kira satu tahun dan melalui tiga tahap, yaitu pihak laki-laki menanyakan kesediaan dari pihak perempuan. Kemudian, apabila si perempuan setuju, si laki-laki akan emmbawa peralatan dapur yang menyatakan keseriusannya. Terakhir, mereka berdua bisa menikah dan pihak laki-laki membawa perhiasan (mahar). Nah, jika ingin mencari perempuan Baduy yang belum menikah, kita bisa melihatnya dari anting berwarna yang dikenakannya.

Kalau begitu, bisa dibilang hampir semua masyarakat di Baduy Dalam ini memiliki tali persaudaraan sebab perjodohan ini dilakukan hanya untuk wilayah Baduy Dalam saja. Istri cukup satu dan mereka pun tidak boleh bercerai. Untuk Baduy Luar, mereka bebas memilih pasangan hidup mereka masing-masing. DI Baduy sendiri pun juga tidak mengenal adanya poligami.

Kelahiran
Sistem kelahiran masyarakat Baduy menggunakan bantuan paraji atau dukun beranak. Prosesnya pun juga sederhana dan jauh dari kata modern. Nah, penamaan untuk anak-anak di Baduy juga cukup menggunakan satu kata saja, misalnya Jamra, Jamir, Kasmin, Armuta, dan lain-lain.



Kematian
Ketika ada salah satu masyarakat Baduy yang meninggal dunia, apak diadakan acara pada hari pertama, ketiga, dan ketujuh. Proses pemakaman berlangsung singkat. Orang yang meninggal akan dibungkus kain putih dan dimandikan di tempat pemandian setinggi dada, lalu dikubur di tempat khusus. Pada hari ketiga, akan diadakan selametan. Pada hari ketujuh, kuburan tetap dirawat. Anehnya, setelah kuburan kembali menjadi rata, daerah itu bisa diinjak-injak dan bisa digunakan sebagai ladang.

Memasuki hari ketiga, sudah saatnya pulang. Pagi-pagi buta, ayam jantan saling bersahut-sahutan, berlomba-lomba untuk membangunkan para jiwa yang tengah tertidur pulas. Setelah melewati beberapa jam untuk beristiratat, kami pun beres-beres dan kembali ke desa Ciboleger.  Berbekal sisa-sisa tenaga yang kami miliki, kami pun beranjak dari Baduy Dalam menuju Baduy Luar, kemudian menuju desa Ciboleger. Lelah tak terperi sungguh kami rasakan, mengingat kami harus menempuh  waktu perjalanan selama 4 jam (lagi)!

Nah, ketika saya sampai kembali di Baduy Luar, saya melihat beragam aktivitas lain dari para penduduk desa Kanekes, terutama para perempuannya. Ada banyak wanita yang sedang menenun kain. Seperti yang sudah disampaikan pada penjelasan awal bahwa wanita Baduy harus bisa menenun kain sebab menenun adalah salah satu mata pencaharian mereka. Selain itu, wanita yang tidak bisa menenun tidak boleh menikah, lho!




Setelah merasakan betapa berbedanya menjadi orang Baduy Luar dan Baduy Dalam selama tiga hari, saya pun juga mempelajari berbagai karakteristik budaya yang melekat pada masyarakat suku Baduy tersebut. Karakteristik kebudayaan yang ada di sana begitu menolong saya untuk menjadi seorang pelaku komunikasi antarbudaya yang lebih baik.

Berkaitan dengan teori konflik, meski Baduy Luar dan Baduy Dalam memiliki budaya yang sedikit berbeda, tetapi masyarakatnya tidak pernah memiliki konflik. Malahan, keduanya senantiasa menyesuaikan diri terhadap budaya-budaya yang ada dan selalu berusaha untuk menghindari konflik. Mereka lebih menginginkan untuk menata kehidupan dan tingkah laku sehingga keberadaannya bisa tetap dipertahankan. Masyarakat Baduy pun selalu bersikap sopan dalam bertindak dan berbicara.

Budaya itu dipelajari. Ketika seorang anak lahir, tentu ia akan mengikuti kebudayaan maupun adat istiadat yang dipegang teguh oleh kedua orang tua mereka. Masyarakat Baduy senantiasa menjalankan adat yang sudah mereka dapatkan sejak kecil. Begitu juga dengan Kang Sarwadi dan Kang Sarmidi. Mereka telah terbiasa berjalan ke manapun tanpa alas kaki, sebab dari kecil pun mereka tidak mengenal sandal atau sepatu. Itulah salah satu peraturan adat yang mereka pelajari. Selain itu, mereka juga belajar bagaimana bertahan hidup dari pengaruh budaya modern. Mereka harus menjalani hidup sehari-hari tanpa alat komunikasi, tanpa internet, baju mewah, ataupun makanan enak dari tempat lain.



Perlu kita ketahui, kehidupan masyarakat Baduy juga bisa tergambar melalui peribahasa, “Perbuatan lebih berarti dari kata-kata dan tiada hasil tanpa jerih payah”. Laki-laki maupun perempuan menerapkan budaya dalam bekerja. Kalau mereka tidak bekerja, tentu mereka tidak akan menghasilkan apa-apa. Kerja keras masyarakat Baduy yang berasal dari penjualan souvenir, hasil bertani, maupun penjualan hasil pertanian nyatanya bisa membuat mereka hidup nikmat, meski keterbatasan materi kerap menghantui mereka.

Budaya itu dibagikan. Budaya yang ada di masyarakat Baduy menunjukan identitas mereka sebagai suatu suku yang sangat menghormati adat istiadat. Tidak hanya ada satu atau dua orang saja yang menganutnya, tetapi seluruh masyarakat Baduy patuh dengan budaya yang sudah mendarah daging di diri mereka. Nah, dengan adanya identitas budaya itu, masyarakat suku Baduy bisa mengenal keunikan yang ada pada budaya-budaya lainnya. Mereka pun juga tahu bagaimana harus berperilaku seharusnya.

Kemudian, budaya itu diturunkan dari generasi ke generasi. Untuk karakteristik budaya ini tampak jelas. Suku Baduy memiliki warisan sosial dan budaya yang mereka dapatkan dari nenek moyang mereka. Kalau melanggar aturan adat tersebut, mau tak mau mereka harus bersedia untuk mendapatkan sanksi dan hukuman. Budaya pun didasarkan pada simbol. Bisa kita lihat dari bentuk rumah, model pakaian, mata pencaharian, sampai tradisi-tradisi yang menunjukan bahwa masyarakat Baduy memiliki pandangannya sendiri akan suatu aspek kehidupan.

Pada intinya, masyarakat Baduy Luar dan Baduy Dalam selalu berusaha memegang teguh budaya yang sudah masuk ke dalam aspek kehidupan mereka. Mereka tidak peduli bagaimana orang-orang di luar sana yang bisa menggunakan mobil, menggunakan baju ala perkotaan, tinggal di rumah mewah, ataupun menggunakan alat komunikasi untuk berhubungan dengan orang luar. Adat istiadat yang mengikat telah membuat mereka nyaman dengan apa yang mereka miliki sebab budaya-budaya yang ada di sana telah membentuk pemikiran, perilaku, dan cara pandang atas suatu kehidupan pada masyarakat suku Baduy.


Wednesday, January 16, 2013

Kampung Naga ♥

NIM : 11140110177
Nama : Elizabeth Ivan
Kelas : F1




Pas masih bingung buat observasi dimana padahal deadline udah mepet , akhirnya salah satu teman kasih tau kalau dia mau ke kampung naga (Thanks ya Albert :p). Awalnya sih agak ragu soalnya letak Kampung Naga yang jauh , belum lagi ada yang bilang kalau untuk mandi dan keperluan manusiawi lainnya harus dilakukan dibilik yang tingginya hanya sepinggang . Tapi mau gimana lagi , deadline juga uda mepet , jadi ya pasrah aja .. Haha .. Tapi untungnya ga sebegitunya kok :) . Mulai pembahasannya ya .....
 Kampung naga itu terletak di  Desa NeglasariKabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Kampung naga yang keindahan alamnya masih sangat alami dan jarang dilihat di kota , bikin aku dan orang-orang kota lain tertarik buat datang ke kampung naga , bukan cuma dari dalam atau luar daerah aja , bahkan turis-turis asing sering terlihat disini . Bahkan , waktu masih diperjalanan , kita (temen-temen semobil) excited banget ngeliat pemandangan yang super keren , sampe-sampe kita sempet berenti di pom bensin yang belakangnya itu blong , jadi kita bisa liat pemandangan lebih jelas disana . Sempet foto-foto juga malah :D
Disana juga ada semacem kandang kambing / domba yang unyu-unyu ..
 

Waktu ga berasa banget sih , tiba-tiba kita udah sampe aja di depan Kampung Naga ..

Nah , gambar-gambar diatas itu Tugu Kujang Pusaka yang dibangun sama Pemda dan papan yang maksudnya sama aja sama “Welcome To Kampung Naga” . Ditempat ini juga kita parkir mobil , yang jagain parkirnya baik loh , mobil kita-kita dibersihin sampe kinclong (ga ada yang gratis kan ya ? iya tentu aja kita bayar sama si bapaknya .. hahahaha) . Selain tempat parkir , ada juga warung-warung yang jual makanan kecil sampai indomie , dll . Disediain juga kamar mandi disebelah-sebelahnya .
Nah , sekarang saat yang ditunggu-tunggu sama semua orang , khususnya saya sendiri .. Anak tangga yang jumlahnya 439 anak tangga yang bikin kita sukses kehabisan nafas dan kaki kita gemeteran . Tapiii , dari tangga itu kita bisa liat keseluruhan Kampung Naga loh dan pas masih dibagian atas , ada kios-kios yang jual kerajinan ,ada mushola , dan ada warung .



Awalnya sih bingung , kenapa ada warung lagi disini .. Kan ada warung juga diatas-atasnya .. Ternyata oh ternyata , warung disini sangat sangat berguna khususnya buat aku .. Kita semua mandi harus keatas , karena ga terbiasa buat mandi di bilik , khususnya perempuan .Jadi ya mau ga mau kita harus bolak balik naik turun tangga yang aduhai itu .. Nah warung itu lah yang menyelamatkan aku , pas naik dan tenaga udah terkuras , kita duduk dulu di warung , beli minum dan ngumpulin nafas dan nyawa ..
Saat akhirnya kita masuk ke kampung nya , kita di ajak ke balai untuk ketemu sama salah satu Pundu biar bisa nanya-nanya .. Didepan balai itu , ada juga yang jual-jual kerajinan , salah satunya istri nya mang Eno (Guide kita).

Wawancara kita dengan Pundu berjalan lumayan mulus , dibilang lumayan karena kita ga ngerti bahasa Sunda dan Pundu juga ga terlalu bisa ngomong bahasa Indonesia . Tapi untungnya lagi ada mang Eno yang jadi translator (wawancaranya ada divideo). Hanya pemuda atau orang yang belum tua yang dapat berbicara bahasa Indonesia karena pernah sekolah , orang-orang yang sudah tua biasanya hanya menggunakan bahasa sunda .
Masyarakat Kampung Naga sendiri sudah modern dan terbuka , mereka memperbolehkan jika ada orang dari luar kampung naga untuk tinggal di kampung naga atau menikah dengan warga kampung naga , asalkan orang itu beragama Islam , agama yang dianut oleh semua masyarakat Kampung naga . Bahkan orang-orang yang berada dikampung naga itu hanya 3% dari keseluruhan masyarakat kampung naga , 97% dari mereka sudah tinggal diluar kampung naga , namun saat ada perayaan-perayaan adat , mereka akan datang . Lahan yang hanya 1,5 hektar tidak mencukupi untuk mereka semua tinggal karena sudah terpakai semua , untuk rumah , sawah , dan lain-lain .
Saat ditanya , apa ada pandangan kalau anak pertama harus laki-laki atau harus perempuan , Pundu mengatakan tidak karena mereka mensyukuri apapun yang diberikan oleh Tuhan , baik itu perempuan maupun laki-laki. Mereka juga memperbolehkan terjadinya poligami dan perceraian sebagaimana yang diajarkan di agama Islam. Namun , sampai sekarang poligami dan perceraian belum pernah terjadi di kampung naga .
Untuk acara pernikahan , ada Pundu lain yang dikhususkan . Pundu-pundu yang ada di kampung naga tidak dipilih oleh warga , melainkan turnun temurun . Maksudnya pundu-pundu yang sekarang merupakan keturunan dari pundu-pundu yang sebelumnya . Hanya yang termasuk dalam garis keturunan saja yang bisa menjabat sebagai Pundu.
Saat ditanya tentang pernah terjadi atau tidak konflik antara kampung naga sendiri dengan kampung-kampung lainnya karena adanya perbedaan pandangan atau budaya yang masing-masing kampung pegang , Pundu berkata tidak pernah karena masyarakat kampung naga sendiri tidak pernah menginginkan terjadinya konflik baik antara internal maupun eksternal . Mereka selalu mencoba untuk saling mengerti antar satu dengan yang lain . Namun jika sampai ada konflik yang terjadi di internal kampung naga , ada Pundu yang khusus untuk ini . Pundu akan menjadi penengah dan menasehati pihak-pihak yang bersangkutan dan mencari jalan tengah bagi keduanya . Lagi-lagi Pundu berkata “Alhamdulilah sampai sekarang belum ada” .
Dan setelah nanya-nanya lebih lengkap sama Mang Eno , ada lagi yang belum sempat dijelasin sama Pundu . Pertama , tentang wasiat amanat akibat , jadi penduduk kampung naga percaya kalau kita melakukan sesuatu pasti ada akibat yang kita terima . Jadi , dari kecil mereka ditanami nilai ini . Mang Eno kasih contoh , misalnya kita menjaga lingkungan dan alam dengan baik , pasti alam juga akan menjaga dan menghargai kita , liat aja kampung ini , kan berada di lembah jadi rawan longsor , banjir dan lain-lain . Tapi ga pernah tuh terjadi bencana-bencana itu karena kita juga menghargai alam . Terbukti saat saya di ajak oleh Mang Eno untuk naik ke atas untuk melihat kambing Etawa yang super gede itu , ternyata susu dari kambing ini bisa dikonsumsi dan bagus buat yang mengalami sesak nafas. Mang Eno juga memberikan dengan gratis susu kambing Etawa ini untuk di minum oleh warga kampung Naga yang sedang sesak nafas. 

Disebelah kandang ada pohon yang biasanya dikonsumsi . Mang Eno bilang , pohon-pohon ini kalau mau ditebang satu , kita harus tanam 10 pohon . Biar bagaimana kita harus tanggung jawab sama alam , karena alam juga berasalnya dari atas (Tuhan). Saat pertama saya liat sungai di sebelah kampung , arusnya sangat kencang karena curah hujan , saya tanya apa pernah ada yang tenggelam , Mang Eno menyatakan tidak pernah karena seperti yang tadi ia bilang . Menghargai alam. Dan hal yang paling menarik menurut saya , Mang Eno bilang bahwa jika mau makan belut , belut itu tidak boleh dibunuh . Jadi hanya direndam semalaman di air bersih agar kotoran-kotorannya terlepas , lalu langsung dimakan . Kalaupun mau dimasak , harus dimasak hidup-hidup . Saat ditanya alasannya , pamali.
Yang kedua , tentang silih asih , silih asah , silih asuh , dan silih payungan . Silih asih itu artinya harus saling mengasihi dan saling memberi sesame misalnya di kampung naga ini terdapat sawah yang lumayan luas dan hasil panen padi itu tidak dijual melainkan diberi ke semua masyarakat kampung untuk dikonsumsi jika ada sisa baru akan dijual. Silih asah artinya saling menyayangi , silih asuh artinya saling menjagai dan menghargai satu sama lain , dan silih payungan artinya kita harus saling merangkul . Dan yang ketiga , hal-hal yang dilarang di kampung naga . Selain tidak boleh duduk , tidur , dll yang mengarahkan kaki kearah barat , ada juga tidak boleh ngadu , nywadon dan nyamadat . Arti dari ga boleh ngadu itu tidak boleh mengadu makhluk hidup . Contohnya mengadu domba orang , ngadu binatang pun ga boleh . Arti nyawadon itu ga boleh bermain wanita . Yang terakhir nyamadat , maksudnya tidak boleh berjudi apapun itu bentuknya .
 Tidak hanya itu , Mang Eno menceritakan tentang masa lalu kampung naga , ternyata dulu kampung naga pernah di bakar oleh organisasi islam Indonesia . Karena itu , kampung naga kehilangan benda-benda sejarah , rumah-rumah warga habis terbakar dan menyebabkan meninggalnya satu anak . Hal itu dikarenakan organisasi islam tersebut mengajak kampung naga untuk ikut dan bergabung dengan organisasi mereka , tapi kampung naga menolak karena menganggap ajaran organisasi tersebut tidak sesuai dengan apa yang mereka anut .
Dan saat mau kembali ke rumah masing-masing , Mang Eno menawarkan untuk  mampir kerumah nya dan kami pun disambut dengan baik oleh istri dari Mang Eno , sampai-sampai mereka menyajikan gula aren (yang dibuat sendiri oleh istri Mang Eno untuk di konsumsi dan untuk dijual) dan juga nanas yang luar biasa manisnya .. Dirumah Mang Eno , Mang Eno banyak memberikan nasihat-nasihat yang menurut saya sangat berguna dan juga Mang Eno menjelaskan kenapa semua rumah dikampung naga ini sama antara satu dengan yang lain , kenapa kampung naga tidak menggunakan listrik , kenapa tidak ada kursi atau bangku di dalam rumah , dan kenapa rumah-rumah harus berhadapan dengan rumah disebrangnya .
 Rumah memang sengaja dibuat sama di kampung ini agar tidak ada kecemburuan sosial antar sesama penduduk , bahkan bentuk ruangan pun dibuat sama .

Di dalam rumah Mang Eno

Kampung naga sudah ditawari untuk memakai listrik dari dulu bahkan sempat mau diberi generator dari Belanda tapi mereka menolak , karena mereka tidak ingin ada kecemburuan sosial , misalnya yang satu beli TV baru , yang satu iri dan mau beli juga , selain itu bangunan-bangunan dikampung naga terbuat dari bahan-bahan yang mudah terbakar. Tidak ada bangku atau kursi karena yang duduk dikursi itu dianggap berkuasa , mereka mau menanamkan nilai rendah hati dan tidak sombong . Rumah harus berhadapan untuk saling menghormati , seperti halnya manusia harus saling menghormati . Saat saya tanya ke Ibu Cucu tentang listrik , Ibu langsung bilang dengan lantang “Engga ah . Takut kebakaran.” Lalu saya Tanya , apa pernah berantem atau cekcok sama tetangga . Ibu Cucu menjawab “ Ah , ga pernah lah .. Lagian mau ributin soal apa?” .  Dan soal anak tangga , Mang Eno sebelumnya sudah menjelaskan tentang 439 anak tangga , Mang Eno bilang anak tangga itu mengibaratkan sulitnya , susahnya untuk menuju ke atas , jadi saat sampai diatas jangan di sia-siakan kesulitan yang sudah kita alami tersebut . Misalnya , anak-anak kampung naga harus bersekolah diluar kampung naga dan setiap harinya harus naik turun tangga , nah saat di sekolah , jangan sia-siakan tenaga yang udah di keluarkan Cuma dengan main – main , harus belajar dengan baik .
Nilai-nilai yang dari tadi saya tulis , menurut saya adalah upaya masyarakat kampung naga untuk menjaga dan menghindari terjadinya konflik yang termasuk dalam manajemen konlik berupa kolaborasi . Sperti yang ditulis oleh Samovar dalam bukunya Komunikasi Lintas Budaya , bahwa kolaborasi adalah pandangan bahwa semua pihak bekerja sama untuk memecahkan masalah . Defleur dan rekannya menjelaskan kolaborasi sebagai usaha yang mempertahankan hubungan yang produktif yang akan mengatasi ketidaksetujuan ketika bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu . Dengan menggunakan cara yang kreatif, tujuan dan kebutuhan setiap orang dapat tercapai .
Saya merasa sangat beruntung bisa mendapatkan pengalaman berharga seperti ini , jika ga karena Pak Inco dan tugas nya saya ga mungkin bisa ke kampung naga . Banyak hal yang bisa saya pelajari dan diimplementasikan dalam kehidupan , khususnya saya sendiri . Saat mendengarkan Mang Eno bercerita , saya berpikir alangkah baiknya jika seluruh dunia bisa berpikiran seperti ini , kesederhanaan , toleransi , dll . Sampai sekarang saya masih merasa takjub dengan orang-orang kampung naga yang bisa memperthankan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan mereka . Mereka juga sangat baik hati dan terbuka kepada orang-orang asing seperti kami . Menurut saya , mereka sangat luar biasa , bisa hidup dengan kesederhanaan walaupun lingkungan sekitar mereka sudah menikmati teknologi yang ada .
Terakhir , saya ingin berterimakasih kepada Pak Inco selaku dosen Komunikasi Antar Budaya yang sudah membuat saya sadar akan perbedaan dan toleransi , kepada Pak Pundu , Mang Eno dan istri , untuk Nenek Tisah yang sudah bersedia menerima kami untuk menginap di rumahnya , Ibu Cucu yang memasakan makanan-makanan yang luar biasa enaknya dan yang terakhir untuk teman-teman saya yang juga pergi ke kampung naga , khususnya untuk yang semobil dengan saya Yogi , Reza , Ervina , Catherine , Michelle , Jessica dan Ayu.. ♥
















Wednesday, January 9, 2013

Mengenal Tradisi Pernikahan India Agama Sikh

Nama: Fifi Kusuma
NIM: 11140110167
Kelas: Komunikasi Antarbudaya F-1



Seperti yang kita ketahui, setiap orang dilahirkan dari kebudayaan yang berbeda satu sama lain. Menurut Peoples dan Bailey dalam buku Komunikasi Lintas Budaya oleh Larry A. Samovar, budaya itu bervariasi dari cara masyarakat berpikir dan bertindak. Oleh karena itu, tradisi dan pandangan setiap budaya yang ada tentu berbeda juga keunikan dan karakteristiknya.
            Dalam suatu kebudayaan, biasanya terdapat banyak tradisi. Salah satunya adalah tradisi pernikahan. Dalam pernikahan, kedua pihak akan menjalani beberapa tahap pernikahan sesuai dengan tradisi dan agama yang dimiliki. Tradisi pernikahan ini menjadi salah satu keunikan yang membedakan budaya yang satu dengan budaya lainnya
Untuk tugas akhir Komunikasi Antarbudaya ini, saya berkesempatan untuk mempelajari tradisi pernikahan dari salah seorang teman yang bernama Kelvin. Kebetulan sekali, Kelvin berasal dari keluarga keturunan India yang menganut agama Sikh. Pada tanggal 16 Desember 2012, salah satu sepupu dari Kelvin akan melangsungkan pernikahan dan saya diperbolehkan untuk mengikuti proses pernikahan tersebut untuk digunakan sebagai topik tugas akhir. Kesempatan ini merupakan berita baik, karena mendalami tradisi pernikahan India yang unik akan menjadi salah satu pengalaman yang sangat berharga.
            Pada hari Minggu yang cerah, saya beserta keluarga Kelvin pun berangkat ke rumah Jefri, sepupu Kelvin yang akan menikah. Jefri yang merupakan salah satu pemin Tim Nasional Futsal Indonesia akan menikah dengan seorang wanita bernama Lady. Begitu saya tiba di rumah Jefri, seluruh keluarga yang datang terlihat sangat rapi dalam pakaian tradisional India. Ruang tamu pun sudah lengkap dengan dekorasi pernikahan, seperti sofa, pita warna-warni, dan juga papan bertuliskan nama mempelai, yaitu Jefri dan Lady. Ruangan didekorasi dengan menggunakan warna merah sebagai warna dominan, karena warna merah dipercaya membawa keberuntungan. Pakaian tradisional dan warna merah tersebut merupakan wujud komunikasi nonverbal dari budaya India.
            Menyusuri rumah lebih dalam, di ruang tengah terdapat Jefri yang sedang bersiap-siap dengan menggunakan sorban berwarna merah. Sorban merupakan kain panjang yang dililitkan di bagian kepala untuk menutupi rambut bagi para pria. Tradisi sorban ini berasal dari wilayah Punjab di India, tempat agama Sikh pertama kali diajarkan oleh Guru Nanak beserta kesepuluh Guru lainnya pada abad ke-15.  Bagi orang India yang menganut agama Sikh, sorban telah menjadi identitas yang dilestarikan dan dibanggakan hingga saat ini. Dalam tradisi pernikahan, mempelai pria akan didampingi oleh sepupu atau keponakan laki-lakinya, yang disebut dengan sarbala. Pada pernikahan Jefri, Kelvin pun menjadi pendamping dari Jefri, sehingga ia juga mengenakan sorban berwarna merah. Sebenarnya, setiap pria diwajibkan untuk mengenakan sorban. Namun, seiring perkembangan zaman ke arah yang lebih modern dan pemakaiannya yang membutuhkan keahlian serta ketelitian, ada juga pria yang tidak mengenakannya. Tetapi, dikarenakan bagian kepala harus tertutup, makan digunakanlah sorban yang ready made atau sapu tangan yang diikat di belakang kepala untuk menutupinya.
Dekorasi ruang tamu
Kelvin dipakaikan sorban
            Sesuai tradisi, pria yang berasal dari keluarga mempelai pria akan mengenakan bros bunga di bagian dada sebelah kiri. Sementara para wanita dari pihak mempelai wanita, termasuk mempelai itu sendiri, akan memakai mehndi. Mehndi merupakan lukisan di telapak tangan dan kaki yang pembuatannya menggunakan henna. Mehndi memang biasa dipakai dalam acara-acara spesial, seperti festival dan juga pernikahan. Biasanya mempelai wanita akan memakai mehndi di telapak tangan dan kakinya, tetapi untuk saudara wanita lainnya hanya memakai di telapak tangan saja.
            Setelah menyelesaikan seluruh persiapan, acara pun dimulai. Jefri dan Kelvin pun pindah ke ruang tamu dan duduk di sofanya. Saat keduanya duduk, diletakkanlah kain merah tipis di atas paha mereka. Para tamu dan keluarga yang telah datang pun menghampiri mempelai pria dan pendampingnya. Mereka meletakkan amplop di kain merah milik Jefri dan uang di kain merah milik Kelvin. Amplop diberikan mula-mulai diputar-putar di atas kepala Jefri sebagai tanda pemberian doa dan restu baru kemudian diletakkan di kain. Amplop tersebut ternyata merupakan hadiah pernikahan berupa uang tunai. Selain uang tunai, ada juga keluarga yang memberikan hadiah berupa perhiasan, seperti cincin.
Mehndi
Jefri dan Kelvin
            Selanjutnya, Jefri dipakaikan rangkaian bunga yang menjuntai oleh saudara-saudara perempuannya. Rangkaian bunga ini dinamakan sher’e. Sher’e ini telah menjadi tradisi sejak zaman dahulu dimana pernikahan dilakukan berdasarkan atas dasar perjodohan, sehingga kedua mempelai tidak pernah melihat wajah pasangannya masing-masing sebelum acara pernikahan di kuil berlangsung. Oleh karena itu, Jefri pun dipakaikan sher’e untuk menutupi wajahnya sebelum berangkat ke kuil untuk bertemu dengan mempelai wanitanya. Selain sher’e, ada tradisi lainnya yaitu pemakaian celak mata yang dipercaya dapat menghindari si pemakai dari bahaya. Celak mata ini biasanya dipakaikan ke anak balita agar tidak tinggi hati jika ada orang yang memujinya lucu, cantik, imut dan sebagainya. Jefri pun dipakaikan celak mata ini dengan tujuan agar setelah menikah nanti hanya akan melihat satu wanita saja dalam hidup, yaitu istrinya sendiri. Setelah itu, ada sesi foto keluarga yang di ruang tamu tersebut.
Pemakaian sher'e
Pemakaian celak mata

            Setelah seluruh acara di rumah selesai, semuanya bergegas untuk berangkat ke kuil. Jefri dengan tuntunan ayahnya pun berjalan menuju ke mobil. Mobil yang akan membawa Jefri dan Kelvin ke kuil dihiasi oleh rangkaian bunga yang indah di bagian depan dan belakang. Pada rangkaian bunga yang terletak di bagian depan mobil, ada beberapa utas tali yang kemudian dikepang oleh saudara perempuan Jefri sebelum berangkat. Tali tersebut harus dikepang oleh seluruh saudara perempuan yang belum menikah. Setelah itu, ayah Jefri pun melemparkan uang di sekitar mobil dengan tujuan untuk berbagi rejeki di hari yang membahagiakan kepada orang-orang sekitar. Ada kepercayaan bahwa apabila uang koin yg dilempar itu mengenai kita, artinya kita akan mendapatkan rejeki. Setelah itu, Jefri pun segera berangkat ke kuil diikuti oleh keluarga lainnya.
            Kuil umat Sikh dinamakan Gurdwara. Gurdwara artinya adalah pintu gerbang menuju Guru (gateway to the Guru). Menurut Walsh dan Middleton dalam buku Larry A. Samovar, cara pandang menyediakan petunjuk yang menuntun pengikutnya di dunia. Dalam agama Sikh, kemanapun penganut agama Sikh pergi, yang menjadi perhatian utama adalah pembangunan Gurdwara. Artinya, cara pandang kaum Sikh selalu menuntun mereka untuk membangun Gurdwara kemanapun mereka pergi.
Gurdwara tempat Jefri dan Lady melangsungkan upacara pernikahan terletak di Jalan Pasar Baru Timur No. 10, Jakarta Pusat. Begitu Jefri dan keluarganya tiba di Gurdwara, mereka disambut oleh keluarga dari pihak wanita di lobby. Kedua pihak saling dipertemukan secara agama oleh pendeta dan berdiri berhadap-hadapan. Dalam proses ini, mempelai wanita tidak ikut serta, hanya keluarganya saja. Pendeta memulai pertemuan kedua keluarga ini dengan pembacaan doa serta lagu-lagu. Setelah itu, kedua keluarga yang diwakili oleh ayah masing-masing mempelai berpelukan dan ayah dari mempelai wanita memberikan hadiah kepada ayah dari mempelai pria. Selanjutnya, acara kembali dilanjutkan dengan sarapan bersama dengan makanan yang telah disiapkan oleh panitia Gurdwara. Selesai sarapan, acara utama pernikahan pun dimulai.
Gurdwara Sikh Temple Pasar Baru

            Upacara utama pernikahan, yaitu Anand Karaj, dilangsungkan di ruangan utama untuk berdoa di lantai 2. Di ruangan ini, setiap orang harus menutupi bagian kepala sebagai penghormatan terhadap kitab suci Guru Granth Sahib. Oleh karena itu, jika para pria mengenakan sorban atau sapu tangan, maka para wanita mengenakan selendang untuk menutupi bagian kepalanya. Di Gurdwara disediakan selendang bagi para umat serta pengunjung wanita yang tidak membawa selendang. Selain itu, semua orang harus berpakaian sopan dan melepaskan alas kakinya.
            Menurut Specer-Rodgers dan McGovern dalam buku Larry A. Samovar, komunikasi dengan budaya yang berbeda kadang diasosiasikan dengan respons emosi yang kurang baik yang mengarah pada perasaan kikuk dan gugup. Dan kebetulan sekali saya sedikit merasa gugup ketika memasuki ruangan utama. Karena saya terlalu gembira untuk mengikuti acara, saya berdiri membelakangi kitab suci Guru Granth Sahib. Kegugupan pun melanda. Pada waktu itu, saya sedang berusaha untuk merekam penyanyi lagu rohani yang mengiringi upacara pernikahan. Hal itu ternyata tidak diperbolehkan, karena kitab suci tidak boleh dibelakangi. Seperti penjelasan dalam Teori Tahap-Tahap Kejutan Budaya (Culture Shock), dari “fase kegembiraan”, saya segera memasuki “fase kekecewaan” atas kesalahan saya yang telah menjadi tontonan para umat. Untunglah Ayah dari Kelvin, Sir David, memberitahukan informasi tersebut kepada saya sehingga saya pun berusaha untuk menghilangkan kegugupan dan rileks kembali. Setelah mengetahuinya, maka saya pun bergerak ke “fase awal resolusi” dimana saya mulai memahami budaya kaum Sikh. Fase ini pun berakhir pada “fase berfungsi dengan efektif” dimana saya berusaha menyesuaikan diri untuk tidak melanggar aturan tersebut.
Kitab Suci Guru Granth Sahib
            Di dalam ruangan, Jefri duduk di depan kitab suci Guru Granth Sahib dan para umat duduk di belakangnya, wanita di sebelah kiri dan pria di sebelah kanan. Setelah beberapa saat, Lady pun memasuki ruangan diikuti oleh saudara-saudara yang duduk di belakangnya. Sebelum duduk di sebelah Jefri, Lady pun bersujuda dan bersembahyang di depan kitab suci Guru Granth Sahib. Acara pun dilanjutkan dengan doa dari pendeta. Dalam agama Sikh, ada 3 kategori pendeta dengan keahlian yang saling melengkapi satu sama lain dalam upacara doa. Keahlian yang pertama adalah pengetahuan mengenai agama dan isi kitab suci Guru Granth Sahib, yang kedua adalah menyanyikan lagu rohani, dan yang ketiga adalah keahlian berbicara di depan para umat.
           Bagian utama dalam upacara pernikahan ini adalah ketika kedua mempelai melakukan Laava dimana Lady memegang seuntai kain dari pakaian Jefri dan berdiri di belakangnya, kemudian keduanya berjalan mengitari panggung utama tempat kitab suci Guru Granth Sahib berada searah jarum jam sebanyak empat kali. Putaran yang dilakukan ini merupakan bentuk komitmen kedua mempelai terhadap Tuhan. Setiap putarannya diiringi oleh lagu dan bacaan yang berasal dari kitab suci Guru Granth Sahib dan memiliki artinya masing-masing.
Putaran pertama menggambarkan kewajiban sehari-hari pasangan baru dimana komitmen yang harus dijalankan adalah mempelajari kebenaran dalam kitab suci dan berpegang teguh pada kebenaran, menjauhkan diri dari dosa, saling percaya akan kebajikan, moralitas, dan integritas masing-masing, serta meyakini bahwa hanya Waheguru (Tuhan) yang menghapus dosa mereka. Setelah tahapan pertama, kedua mempelai telah memulai tahap awal pernikahan. Pada putaran kedua, Guru meminta kedua mempelai untuk menghilangkan rasa ego dan merasakan kehadiran Tuhan di sekelilingnya, baik di dalam maupun di luar pribadi masing-masing. Putaran ketiga bermakna bahwa dengan menyanyikan lagu-lagu pujian kepada Tuhan maka cinta ilahi dan seutuhnya akan ada dalam diri kedua mempelai. Putaran keempat yang merupakan putaran terakhir memiliki arti bahwa pikiran dan jiwa kedua mempelai menjadi damai dan keduanya akan menemukan Tuhan serta menjalani kehidupan yang berbahagia dan memuaskan sesuai dengan kehendak Tuhan. Putaran keempat ini pun menjadikan pernikahan kedua mempelai sah dan keluarga pun melemparkan bunga kepada mempelai.
Selama berputar, keluarga laki-laki dari memperlai wanita berdiri di sekeliling jalur putaran. Ketika Jefri dan Lady melewati mereka, masing-masing akan memegang pundak Lady sambil berjalan melalui satu orang ke orang lainnya. Hal ini merupakan tanda bahwa keluarga telah merestui pernikahan mempelai dan mengantarkan mempelai wanita untuk menempuh kehidupan berkeluarga yang baru dan berbahagia dengan mempelai pria.
Jefri dan Lady
Kedua mempelai menjalani tahap Laava
            Setelah Laava, keduanya memegang piringan gelas yang di dalamnya terdapat api dan memutarnya secara bersamaan di depan kitab suci Guru Granth Sahib. Setelah kedua mempelai memutarnya berpasangan, keluarga dari mempelai pun ikut memutar piringan tersebut bersama-sama dengan mempelai. Hal ini dilakukan dengan seluruh keluarga secara bergantian. Selanjutnya, doa-doa kembali dinyanyikan dan kedua mempelai dipakaikan selendang berwarna oranye serta diberikan bingkai foto Guru Nanak. Setelah itu, keduanya sujud dan sembahyang bersamaan di depan kitab suci Guru Granth Sahib.
            Acara kembali dilanjutkan dengan sambutan yang menceritakan tentang kehidupan kedua mempelai sehari-harinya serta ucapan doa dan selamat atas pernikahan mereka. Pada akhir acara, seperti acara rohani lainnya, para umat diberikan Parshad. Parshad merupakan makanan suci berupa puding vegetarian yang terbuat dari tepung, mentega, dan air gula yang dipercaya merupakan berkat dari Guru dan tidak boleh ditolak.  Seperti umat lainnya, saya pun menerima Parshad tersebut dan memakannya sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan.
            Begitu upacara usai, kedua mempelai beranjak ke bagian belakang ruangan, di sebelah pintu masuk berada, yang menjadi panggung bagi mempelai untuk berbincang-bincang dengan keluarga maupun para tamu undangan. Di sini kedua mempelai saling bersalama dengan orang-orang yang menghampiri dan juga mengabadikan momen bahagia mereka dalam bentuk foto bersama. Beberapa tamu yang telah menyapa Jefri dan Lady pun turun ke lantai bawah untuk menyantap makan siang yang dihidangkan oleh panitia Gurdwara. Makan siang yang disediakan merupakan hasil masakan panitia dan semuanya adalah makanan vegetarian khas India.
            Melalui percakapan yang saya lakukan dengan Miss Baby, Ibu dari Kelvin, orang India memiliki kepercayaan akan hari-hari baik. Kepercayaan mereka meyakini bahwa hari-hari baik untuk menggelar acara-acara perayaan, seperti halnya pernikahan, adalah hari-hari ganjil, yaitu Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu. Tradisi pernikahan India yang menganut agama Sikh pada dasarnya terbagi ke dalam tiga tahap, yaitu Chuara (tukar cincin), Telchera diikuti dengan Lady Sangeet (tradisi sebelum pernikahan dan tari-tarian), dan Anand Karaj (upacara pernikahan di Gurdwara). Sehingga dengan adanya kepercayaan hari-hari ganjil tersebut, maka tradisi pernikahan pun mengikutinya, seperti Chuara dilakukan pada hari Rabu, Telchera dan Lady Sangeet pada hari Jumat, dan acara puncak Anand Karaj pada hari Minggu.
Topik yang saya angkat adalah tradisi pernikahan tahap akhir. Dalam sesi wawancara dengan Miss Baby juga saya menemukan bahwa tradisi pernikahan dari pihak pria dan wanita tidak semuanya sama. Ada perbedaan-perbedaan di antara keduanya. Dan karena saya mengikuti keluarga Kelvin dalam peliputan acara pernikahan ini, maka tradisi yang lebih banyak saya ketahui adalah tradisi pernikahan dari pihak pria.
Menurut Osborne dalam buku Larry A. Samovar, bagi kebanyakan orang di dunia ini, tradisi agama – seperti keluarga, suku atau negara – menjadi identitas mereka di dunia. Agama telah mengikat orang bersama-sama dalam memelihara cara pandang budaya mereka selama ribuan tahun. Oleh karena itu, bagi orang India yang mengantu agama Sikh, setelah berkeluarga maka tidak ada kata cerai. Hal ini dikarenakan cara pandang mereka yang memandang pernikahan sebagai suatu hal yang monogami. Cara pandang agama ini juga memandang manusia dalam derajat yang sama satu dengan yang lainnya dan diperlakukan sama, baik pria maupun wanita. Sehingga, dalam kehidupan pun mereka tidak menggunakan sistem kasta yang membeda-bedakan tinggi-rendahnya derajat manusia.
Tradisi pernikahan ini merupakan tradisi kuno yang dibawa dari India sejak zaman dulu hingga sekarang. Meskipun diterpa oleh budaya yang semakin modern, budaya kuno ini terus dijalankan dari waktu ke waktu. Hal ini merupakan bentuk penurunan budaya yang dilakukan secara turun-temurun dalam lingkup keluarga. Menurut Charon dalam buku Larry A. Samovar, penurunan budaya ini dapat dilihat sebagai pewarisan sosial. Sehingga, melalui komunikasilah tradisi suatu budaya dapat dikenal oleh generasi berikutnya. Tradisi ini dibawa oleh para orang tua dan terus diterapkan pada anak-anaknya untuk melestarikan identitas budaya mereka. Dengan demikian, tradisi kuno tersebut dapat mengikuti perkembangan zaman yang semakin modern sesuai dengan teori karakteristik budaya yang menyebutkan bahwa budaya itu dinamis. Seperti contoh pada zaman dahulu banyak orang India yang menikah karena perjodohan, tetapi di masa sekarang sudah banyak yang berpacaran dulu baru menikah.
Melalui kegiatan observasi ini saya mendapatkan pelajaran yang berharga tentang cara pandang budaya India penganut agama Sikh dalam menjalankan tradisi. Identitas mereka yang unik di tengah hiruk-pikuk kota Jakarta yang dapat dikatakan modern, tidak menghentikan mereka untuk menunjukkan rasa bangga terhadap identitas budayanya. Hal ini memberikan saya pemahaman bahwa kita harus bangga dan terus melestarikan tradisi budaya yang kita miliki, jangan membiarkannya tenggelam dalam gaya hidup yang semakin modern.
Thank you :)