Pages

Saturday, January 19, 2013

Mengamati Kehidupan Di Kampung Naga

NAMA: RONNY ANDIKA
NIM: 11140110162
KELAS: B-1



Tanggal 22 Desember 2012 dan waktu sudah menunjukan pukul 03.00 subuh. Saya dan teman-teman siap berangkat ke kampung Naga dan dimulai dengan menggunakan 2 mobil dan jumlah anggota yang pergi adalah 17 orang. 
 
Kami memutuskan untuk berangkat subuh agar waktu kami untuk observasi di kampung Naga tidak terbuang banyak. Lama perjalanan untuk sampai ke kampung Naga mencapai 6-7 jam dan itu juga sepanjang perjalanan kami tidak teralu macet. Meskipun sedikit terkena macet itu juga tidak membuat kami jenuh dan bosan. Malah sangat menyenangkan disalam mobil karena satu sama lain saling bercanda dan bernyanyi.

Saya dan teman-teman memutuskan untuk melakukan observasi ke kampung Naga karena kampung Naga masih tradisional dan memiliki budaya yang masih memegang kuat adat istiadat yang dianut masyarakatnya. apalagi budaya kampung Naga masih belum seutuhnya tersentuh budaya modern seperti sekarang ini layaknya di kota-kota besar seperti Jakarta.

Struktur bangunan, kepercayaan, mata pencaharian, dan tradisi kampung inilah yang menjadi suatu keunikkan bagi saya. Karena saya lebih ingin melakukan pendekatan observasi dengan masyarakat dan budayanya maka saya dan teman-teman saya memutuskan untuk tinggal selama 2 hari 1 malam di kampung Naga, dan kami diizinkan untuk beristirahat di rumah warga dan kami diperlakukan dengan baik.

Kampung Naga terletak di desa Neglasari, kecamatan Salawu, kabupaten Tasikmalaya, provinsi Jawa Barat. Luas perkampungan ini 1.5Ha dan ada 100 bangunan. Di kampung Naga ini ada 108 kepala keluarga dan terdapat 314 jiwa orang. Lokasi kampung Naga sendiri berbatasan dengan: sebelah Timur dan Utara berbatasan dengan sungai Ciwulan dan sebelah Barat berbatasan dengan  hutan keramat (leuweng keramat).

Selama perjalanan 6-7 jam lamanya, sampailah saya dan teman-teman di kampung Naga. Ketika turun dari mobil saya dan teman-teman bertemu dengan Mang No. Mang No ini yang akan membawa dan menemani kami selama di kampung Naga.



Saya melihat tugu yang menandakan bahwa saya dan teman-teman sudah sampai di kampung Naga, tapi jangan senang dulu karena untuk menjangkau kampung Naga hanya bisa berjalan kaki dan menuruni tangga 439 tangga. Konon katanya jumlah anak tangga yang dihitung per-tangga  saat turun ke kampung Naga dan naik ke atas berbeda, tidak selalu sama jumlahnya jika dihitung.




Setelah saya dan teman-teman melewati 439 anak tangga tersebut sampailah di kampung Naga. Kampung Naga benar-benar masih sangat terasa suasana desa, disini saya merasakan cuaca dan udara yang sangat sejuk. Terlihat keindahan yang bagus dan masih alami yang biasanya saya lihat hanya di televisi. Selain saya dan teman-teman UMN, banyak orang lain juga yang berlalu lalang untuk meliputi masyarakat kampung naga yang sedang bekerja. Ada juga orang-orang yang datang dari luar kampung yang ingin berwisata di kampung Naga. Banyak juga anak-anak sekolahan dan anak kuliah yang datang untuk melihat kampung Naga ini, ternyata kampung ini benar-benar sungguh terkenal dalam kebudayaannya.

 

Dari pertama kali saya masuk ke daerah perumahan kampung Naga, saya dapat melihat deretan-deretan rumah yang tersusun berurutan dan rumah-rumah tersebut saling berhadap-hadapan. Semua rumah di kampung Naga juga terbuat dari bahan-bahan yang mudah terbakar seperti ijuk dan tidak diperbolehkan terbuat dari semen ataupun beton. Pemasangan listrik juga tidak ada di kampung ini, dikarenakan masyarakat kampung naga takut jika pemasangan listrik yang tidak rapih akan menyebabkan konslet dan kebakaran, apalagi ditambah lokasi kampung naga yang jauh dari gambir pemadam kebakaran. Tidak adanya listrik menjadikan masyarakat dapat hidup lebih sederhana karena tidak terpengaruh dari dunia luar seperti adanya televisi, komputer , dll.
 
Setiap wisatawan yang berkunjung sangat diharapkan untuk meminta izin kepada sesepuh kampung Naga. Menurut saya hal ini untuk membuat kami para wisatawan untuk bersikap sopan dengan meminta izin bahwa kita akan melakukan observasi di kampung ini.



Di kampung Naga memang berbeda dengan budaya luar sana, karena disini terdapat dua pimpinan yaitu pimpinan formal dan nonformal. Pimpinan formal terdiri dari kepala dusun dan pak RT dan pemilihan ini dipilih secara demokrasi oleh masyarakat. Masa jabatan juga terbilang lama yaitu 5-6 tahun. Tugasnya adalah menyampaikan pemerintahan dari atasan sampai ke masyarakat.
 
Pimpinan nonformal terdiri dari tiga orang, yaitu Pak Kunsen yang tugasnya memimpin ziarah ke makam, kemudia Pak Punduh yang tugasnya mengayomi warga, lalu yang terakhir pak Lebe yang mengurus jenazah yang meninggal sampai menguburkan dan sebagai sarana keagamaan. Masa jabatan ketiga pimpinan nonformal ini adalah seumur hidup atau semampunya.

Pimpinan ini terpilih karena memang keturunan nenek moyang. Jika salah satu keturunan tidak memiliki anak maka pergantian pimpinan ini dapat digantikan dengan saudara keturunan tersebut yang memiliki anak.

Semua rumah di kampung Naga tidak memilik kursi dan meja karena masyarakat beranggapan bahwa semua manusia itu sederajat. Jadi, jika ada tamu yang datang maka akan duduk semua di lantai, kadang pasti ada yang duduk di kursi dan ada juga yang di lantai. 

Perabotan untuk memasak pun juga masih terbilang tradisional, masih menggunakan kayu bakar dan tungku. Setiap rumah tidak memiliki kamar mandi sendiri, kamar mandi disediakan di setiap sudut kampung Naga. Semua aktifitas dari mandi, buang air kecil dan besar, dan mencuci semua dilakukan ditempat yang sama yang telah disediakan. Kamar mandinya pun juga masih tradisional tidak seperti kamar mandi pada umumnya dan air yang digunakan adalah mata air dari pegunungan yang mengalir langsung dari jalur bambu yang sudah dibuat. Terdapat dua saluran air yaitu saluran air bersih dan saluran air sungai.

Kebanyakan masyarakat kampung Naga menggunakan bahasa sunda, dan tidak terlalu lancar menggunakan bahasa Indonesia. Pekerjaan utama masyarakat kampung naga adalah bertani dengan melakukan penanaman padi setahun dua kali yang disebut dengan Janli yaitu penanaman dilakukan pada bulan Januari dan bulan July. Disamping itu, tidak hanya bekerja sebagai petani tapi masyarakat kampung Naga juga membuat kerajinan tangan dari bambu, berternak biri-biri, kambing, kerbau dan ikan. Ikan-ikan tersebut juga dapat digunakan untuk melakukan pengobatan. Tidak hanya masyarakat dalam kampung Naga yang menggunakannya, tapi banyak juga wisatawan yang melakukan pengobatan ini. Caranya adalah dengan memasukan kedua kaki kedalam kolam dan ikan-ikan yang ada di kolam akan menyenyuh kaki kita dengan menggunakan mulutnya seperti digigit tapi tidak akan melukai kaki kita. Kita juga dapat memberi makan ikan-ikan tersebut dengan makanan ikan yang sudah disediakan hanya membayar Rp.1000 saja. 




Kesenian yang terkenal di kampung Naga ada tiga yaitu angklung, kembang-kembung, dan arinding. Tetapi alat musik arinding ini yang menurut saya sangat unik dan khas. Baru pertama kali saya melihat dan mendengar alat musik ini. Cara memainkannya dengan menaruh alat music tersebut di mulut kita lalu di pukul-pukul sisi bagian kanan. Hanya orang-orang yang sudah ahli yang dapat memainkannya sehingga dapat menimbulkan nada yang tidak sumbang.


Pengobatan di kampung ini yang diutamakan adalah obat-obat tradisional terlebih dahulu tapi jika sudah mendesak atau sakit semakin parah baru pergi ke puskesmas atau dokter. Masyarakat kampung Naga tahu banyak biji-bijian yang dapat dijadikan obat dan untuk menyembuhkan sakit. Salah satunya biji ini yang saya coba dan dapat langsung dimakan tanpa proses apapun, pertama kita buka terlebih dahulu kulitnya yang membungkus biji tersebut, isinya kecil berwarna putih ping. Kata Mang No, biji ini dapat menyembuhkan sakit pusing. Tidak hanya dari biji-bijian tapi obat tradisional juga dipercaya berasal dari hewan seperti belut.

Belut dipercaya dapat menyembuhkan sakit, tapi bagi orang yang tidak sakit boleh juga memakan belut ini. Belut yang sudah ditangkap direndam diair bersih seharian agar kotoran-kotoran yang menempel di badan belut tersebut hilang. Belut ini tidak dibunuh dan dimasak dulu tapi langsung ditelan hidup-hidup. Masyarakat kampung Naga memepercayai bahwa kita tidak boleh membunuh sesama makhluk hidup meskipun itu binatang.

Kemudian juga bagi ibu yang akan melahirkan, lebih diutamakan menggunakan dukun beranak baru dibantu oleh bidan untuk melaksanakan pelahiran.

Menurut Rogers dan Steinfatt dalam buku yang berjudul Komunikasi Lintas Budaya, kepercayaan adalah suatu sistem penyimpanan bagi pengalaman masa lalu, termasuk pemikiran, ingatan, dan interpretasi terhadap suatu peristiwa.
 
Karena kampung Naga tergolong masih masyarakat tradisional tentu ada pantangan yang harus dilakukan baik warga maupun wisatawan yang datang yaitu pada hari selasa, rabu, sabtu , dan pada bulan safar dan bulan siam tidak diperbolehkannya melakukan ziarah makam, dan tidak boleh menceritakan silsilah kampung naga. Kegiatan seperti menikahkan, membangun rumah, kunjungan kampung Naga masih diperbolehkan. 

Ada juga pantangan yang harus dilakukan yaitu:
a.                   Ketika tidur, arah kaki tidak boleh menghadap ke arah kiblat
b.                  Pada saat buang air kecil tidak boleh juga menghadap arah kiblat
c.                   Kaki tidak boleh selonjoran menghadap arah kiblat
d.                  Pada saat jem Sembilan malam, tidak boleh ada yang berkeliaran lagi di luar rumah.
e.                  Ngadu yang artinya mengadu makhluk hidup
f.                    Nyawadon yang artinya bermain wanita
g.                   Nyamadat yang artinya berjudi

Alasan kenapa tidak boleh mengarah ke kiblat karena umat Islam melaksanakan ibadah sholat ke kiblat maka itu kita menghargainya dengan kaki tidak  mengarah ke kiblat dan buang air kecil tidak ke arah kiblat. Kalau kita melanggar pantangan tersebut dengan tidak sengaja, maka tidak apa-apa. Tetapi jika kita sudah mengetahui tapi tetap saja dilanggar maka akan pelanggar tersebut akan mendapatkan sanksi  yang dipercayai warga kampung Naga yaitu Amanat, Wasiat, dan Akibat.

Ada beberapa tempat larangan yang tidak boleh dikunjungi secara sembarangan, yaitu:
a.                   Hutan keramat yang lokasinya berada di sebelah Timur sungai Ciwulan. Hutan ini dipercaya
berisi makhluk-makhluk halus. Jangankan para wisatawannya, warga kampung Naga juga dilarang keras untuk menginjakkan kaki di hutan ini.
b.                  Selanjutnya Bumi Ageng yang merupakan tempat makam para leluhur yang terletak di sebelah
Barat kampung. Untuk memasuki wilayah ini tidak boleh sembarangan orang yang masuk, bahkan para keturunnya juga tidak boleh masuk secara sembarangan. Tempat ini dibatasi pagar dan jika kita ingin mengambil photo harus berjarak sekitar 15 meter.

Menurut Larry A. Samovar dalam bukunya yang berjudul Komunikasi Lintas Budaya, cara pandang merupakan orientasi budaya terhadap Tuhan, kemanusiaan, alam semesta, kehidupan, kematian, penyakit, dan isu filosofis lainnya mengenai keberadaan sesuatu.
 
Saya diceritakan oleh pak Punduh mengenai kehidupan di kampung Naga bahwa selama kampung ini berdiri belum pernah terjadinya pertengkaran sesama kampung bahkan antar warganya sendiri karena warga kampung Naga mempercayai dan mempraktekkan cara pandang yang dipercayainya, yaitu:
·                     Sili Asah yang mempunyai arti saling menyayangi
·                     Sili Asih yang mempunyai arti saling memberi
·                     Sili Asuh yang mempunyai arti saling menghargai
·                     Silih Payungan yang mempunyai arti merangkul sesama

Saya sangat salut dengan kampung naga, karna masyarakat kampung naga benar-benar masih menjaga semua tradisi dari nenek moyang kampung Naga, semua yang saya lihat sangat tradisional. Setelah melakukan observasi, saya mendapatkan pengalaman baru, dan juga pengetahuan baru disana.

“Sayangilah Alam kita, dan Alam akan memberikan semua apa yang kita butuhkan”.

No comments:

Post a Comment